Category Archives: Sosial

Aku Menolak

“..kita ini bangsa agraris 60% hidup di pesisir, harusnya pesisir diselamatkan, bukan lalu diurug dan  dijadikan apartemen,  dijadikan hotel, dijadikan mall, dijadikan tempat-tempat lainnya..”

“..saya tidak pernah habis pikir ini terjadi di negara  yang menyatakan dirinya sebagai negara agraris, yang menyatakan nenek moyangnya sebagai pelaut, bangsa pelaut mengapa ngurug laut?..”

“..bangsa maritim harusnya menjaga nelayan, harusnya menjaga laut, apalagi daratan kita masih luas kawan-kawan, dan tidak ada urusannya mereklamasi teluk benoa akan menyelamatkan abrasi, justru reklamasi akan menyebabkan abrasi..”

“..mari kita jaga teluk benoa, karena laut adalah ibu kita, jika kita tidak membela  ibu yang mau diperkosa KITA ANAK DURHAKA!!!..

“..Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Lawan si Rakus, Lawan sang Rakus, Lawan investor Rakus..”

Ku yakin perjuangan ini tak akan mudah kawan, karena yang kita hadapi adalah kepentingan pengusaha dan penguasa.

Terlalu banyak dollar dan rupiah yang akan sia-sia jika penolakan ini dibiarkan begitu saja.

Akan tetapi suara hati dan jiwaku sudah bulat untuk penolakan ini, karena kuyakin Gunung sebagai Bapak  dan Laut sebagai Ibu kita senantiasa melindungi kita.

Tolak Reklamasi Teluk Benoa, cabut Perpres 51 tahun 2014

http://www.forbali.org/id/mengapa-kami-menolak/

 

 

 

Advertisements

Dharma Suaka dan bagi-bagi “sesari”

Semalam tepat  rahina Sukra Umanis warga banjar Gadon Kerobokan mengadakan rapat bulanan. Pukul 19.00 “kul-kul” banjar sudah dibunyikan menandakan rapat akan segera dimulai. Saya pun bersiap dengan pakaian adat madya untuk menghadiri acara bulanan tersebut.

Beberapa warga pun mulai berdatangan dan memenuhi balai Banjar, bertemu dengan teman yang  jarang saya temui dikarenakan kesibukan merupakan momen yang menyenangkan.

Obrolan sebelum rapat seakan menghangatkan suasana balai Banjar semalam. Tak seperti biasanya, rapat malam ini agak berbeda karena warga disuguhi snack dan kopi. Kami pun saling bertanya, tumben rapat banjar dapat kopi dan snack, ada apa gerangan yah. Tak seorangpun teman yang tahu, yah kami mengira-ngira apa karena rapat perdana dari pengurus Banjar yang baru, hmm bisa jadi juga.

Tak berselang beberapa lama kemudian rapat dimulai dan salah satu agenda mengawali rapat adalah adanya “dharma suaka”atau perkenalan dari 2 anggota calon legislatif dari partai Gerindra.

Nah sambil menikmati kopi hitam dan snack yang dibagikan oleh prajuru Banjar kami mendengarkan perkenalan dari kedua caleg tersebut. Ada beberapa kata yang menarik yang masih saya ingat adalah kata-kata bahwa mereka (caleg) tersebut diantaranya bahwa mereka datang kemari sebagai upaya memperkenalkan diri agar ketika pemilu nanti mereka dikenal dan mereka datang tidak membawa apa-apa hanya “sesari” canang yang dihaturkan di pura Banjar.

Beberapa kali kata “sesari”disebut-sebut membuat saya bertanya-tanya, ada apa dengan “sesari”?

Setelah urain dari kedua caleg tersebut, akhirnya rapat banjar dilanjutkan dan kedua caleg pun mohon doa restu kepada warga dan berterima kasih atas sambutan kami, lalu mereka meninggakan acara rapat serta meninggalkan “sesari” tentunya.

Acara rapat pun kemudian berlanjut seperti biasa, dan perlahan mengenai kopi dan snack pun mulai terungkan. Ternyata makanan semalam merupakan sumbangan dari kedua caled tersebut. Oh pantes saja, rapat malam ini rada elit,haha..ada sumbangan ternyata.

Hal berikutnya yang membuat saya dan warga penasaran adalah “sesari” yang diamplopkan berwana coklat. Hihi, sudahlah pasti “sesari” yang dimaksud tidak seperti sesari pada umumnya.

Pengurus Banjar pun kemudian menyampaikan ke warga prihal tersebut dan sepakat untuk membuka amplop tersebut untuk memenuhi rasa penasaran kami tentang “sesari” dari kedua caleg tersebut.

Dan wow, pengurus menghitung dan membaca jumlahnya. Total ada 5 juta rupiah,. Wahh, ternyata banyak juga “sesari”nya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau menjelang pemilu pastilah banyak caleg-caleg yang dermawan, mereka menjadi sangat perhatian dan uang seakan bukan masalah buat mereka. Tentu saja yang dilakukannya tidak gratis, mereka mengharapkan suara pemilih pada pemilu yang akan datang.

Kalo saya pikir-pikir, sudah pastilah biaya yang dikeluarkan caleg-caleg tersebut sangatlah besar padahal belum tentu warga akan mendukung mereka. Kenal wajah baru saja dan track record mereka pun tidak kami ketahui, walaupun uang yang disebut-sebut sebagai sesari sudah ditangan.

Salah seorang pengurus banjar yang kebetulan anggota KPPS menyampaikan ke warga prihal kedatangan kedua caleg dan prihal uang tersebut bahwa sah-sah saja para caleg tersebut memperkenalkan dirinya ke warga pada acara rapat bajar, kita tidak boleh melarang toh mereka berniat memperkenalkan diri kepada warga.

Dan prihal uang tersebut, warga banjar tidak pernah merasa meminta uang kepada siapa pun termasuk kepada caleg yang berdharma suaka ke Banjar pada malam itu, jadi uang yang disebut sebagai “sesari” pun sah-sah saja kita terima untuk dimasukan kedalam kas Banjar. Mengenai apakah warga akan memilih caleg tersebut, maka hal tersebut kembali diserahkan ke pilihan warga masing-masing tak ada keharusan untuk memilih mereka.

Warga pun seakan-akan diberikan alasan yang tepat untuk menerima “sesari” tersebut.

Acara rapat pun berlanjut dan tibalah pada akhir sesi dan rapat Banjar pun ditutup.

Berjalan pulang saya kepikiran bagaimana kalo ada 10 caleg yang berDharma Suaka, wah pasti lumayan kas Banjar dapat “sesari”, haha…

Terima kasih,