Category Archives: Keyakinan

Batur Besakih 18 jam.

Sore itu motor saya pacu sekencang mungkin dari Bukit Jimbaran menuju Denpasar karena saya punya janji ikut bareng keluarga ‘nangkil’ ke Pura Batur dan Besakih. Rencananya kami akan berangkat sore hari dengan perhitungan malam bisa tiba di kedua Pura dan menjelang dini hari kami bisa pulang. Ahirnya saya tiba di rumah dan setelah menyiapkan segala sesuatunya kami pun berangkat menuju Pura Batur kemudian Pura Besakih. Kami ‘nangkil’ ke kedua Pura ‘Khayangan Jagat’ ini terkait dengan adanya piodalan di Batur dan Besakih. Sebelumnya saya sempat juga ‘nangkil’ ke Besakih bersama kawan-kawan alumnus Udayana, asik juga malam-malam namun sekarang pun rasanya juga pasti berbeda karena jarang-jarang juga bisa jalan bareng sekeluarga. Kami mengambil jalur yang cukup sepi pelintasnya yaitu menuju Batur melalui desa Petang. Eh ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena banyak juga ‘pemedek’ yang melewati jalur desa Petang tersebut.

Tanpa terasa 2 jam di perjalanan akhirnya kami tiba di Pura Batur, sungguh sangat ramai malam itu di Pura Batur padahal kami sudah berangkat agak malam, eh ternyata makin malam makin ramai saja. Memasuki areal pura menuju jaba sisi kemudian masuk ke jaba tengah tidak begitu sulit namun yang menjadi sedikit tidak mengenakkan ketika hendak masuk ke areal tersuci pura/utamaning mandala. Dengan pintu [kori] yang begitu sempit ratusan ‘pemedek’ sudah mengantri. Melihat keramaian itu saja sudah sedikit menggeser spirit yang dari rumah sudah kami pupuk, namun sangat bersyukur kami bisa sembahyang melalui jaba tengah karena memang diarahkan demikian oleh panitia yang melihat ramainya ‘pemedek’. Kalau saya pribadi tidak pernah mempermasalahkan apakah dari utamanin mandala maupun jaba tengah namun saya lebih menjaga rasa yang sudah saya pupuk dan tidak mau hilang karena cuma berdesak-desakan, namun banyak juga yang tetap ngotot ngantri mungkin hingga larut. Akhirnya sungguh lega rasanya sudah bisa nangkil ke Pura Batur bersama keluarga, dan perjalanan spirit selanjutnya adalah Besakih.

batur

Nah disnilah benar-benar di uji niat kami, macet hampir 5 jam. Kami pulang dari Batur jam 10 dan tiba di Besakih jam 3 pagi. Dalam suasana macet saya menghawatirkan kondisi ibu dan bapak. Ibu yang punya sejarah maag kecapean yang bisa aja muncul dengan gejala yang berbagai macam, trus bapak juga nyetir non stop [maklum saya hanya penumpang sejati]. 

Dan akhirnya kami tiba di Besakih, saya lihat kondisi ibu sudah tidak benar [mual, pusing dsb]. Bapak dengan adik yang paling bontot duluan, maklum kondisi mereka berdua masih fit. Nah saya dengan ibu jalan mengikuti, sesekali harus berhenti bentar karena ibu muntah. Yah syukur kondisi ibu akhirnya segera pulih setelah menghirup segarnya udara di Besakih yah walaupun sesekali bau karet yang tidak mengenakkan membuat mual.

 Tibalah kami di areal pura Besakih, wah rame rame banget, sungguh rasa nya spirit ini meledak-ledak, hawa yang meneduhkan menanangkan walaupun begitu banyak ‘pemedek’. Persembahyangan pertama di Besakih kami menuju ke Pura Pedarman. Nah akhirnya saya mengetahui kemana seharusnya saya ‘mencakupkan’ bakti ke leluhur saya.

Arya Kanuruhan [Tangkas Kori Agung]

Selanjutnya ke Penataran Besakih, lumayan ramai mengantri namun semua berjalan lancar hingga akhir persembahyangan.  Sedikit yang tidak mengenakkan mata adalah banyaknya sarana persembahyangan yang tidak terpakai berserakan di areal persembahyangan. Sedikit disayangkan sikap ‘pemedek’ yang tidak memperdulikan kebersihan arel suci pura, sebenarnya kalau semua orang yang nangkil mau membuang sampahnya pada tempat yang telah disediakan tentu tidak akan timbul komentar seperti yang saya sampaikan.

mom-n-sis

dad-n-lit-bro

Kami siap-siap untuk balik pulang kurang lebih jam 6 pagi. Sebelum pulang kami sempat mampir kerumah makan untuk mengisi bahan bakar badan, namun saya tidak ikut makan karena peyut lagi tidak bersahabat [alias mules]. Dalam perjalanan pulang pun harus mengantri lagi karena macet merayap total hampir 3.5  jam, fiuh datengnya macet pulangnya macet juga. Namun walaupun demikian macetnya sungguh pengalaman spirit yang menyenangkan bisa ‘nanggkil’ ke pura Batur dan Besakih.

Advertisements

Yakinkah kalau kita sesungguhnya “sempurna”?

Semalam saya menyimak acara yang menarik dan memberikan suatu motivasi dalam diri saya bahwa manusia adalah sempurna. Dalam acara tersebut ada dialog antara Anto (nama panggilan) seorang yang cacat fisik sejak lahir, dia tidak memiliki telapak tangan dan kaki sebelah. Saat diwawancarai oleh presenter Andy, anto tampak sangat percaya diri, penuh senyum dan canda tawa, bahkan saya tidak melihat ada rasa minder atau merasa dirinya adalah seorang cacat fisik, bahkan anto menjadi motivator bagi rekan-rekannya di band tempat dia berkreasi.

Itulah dia Anto seorang cacat fisik dengan segala kekurangan fisiknya, namun diantara kekurangan-kekurangan tersebut suara merdu serta semangat hidupnya begitu besar membuat saya kagum bahwa hidup ini perlu untuk disyukuri. Entah dalam keadaan susah,sedih,sakit,bahagia,jatuh cinta,ditinggalkan dan sebagainya, namun kita harus tetap bersyukur kita telah diberikan kesempatan oleh Beliau untuk menghela nafas dan dikatakan sebagai sesuatu yang hidup (manusia).

Nah dalam wawancara tersebut Anto pun mensyukuri bahwa dia hidup dan disekelilingnya banyak orang-orang yang menyayangi dia, terutama ibu nya yang begitu sabar. Satu kalimat yang hingga saya menulis sekarang tetap menggema dalam telinga saya dan terlintas dalam pikiran saya, bahwa dia (Anto) mengatakan dirinya adalah sempurna. Sempurna semacam apa? mari kita renungkan kalimat seorang cacat mengatakan dirinya sempurna.