Belajar mengenal tanggung jawab

Tulisan ini merupakan hasil dari banyak mengamati kemudian menariknya sebagai sebuah kesimpulan yang saya coba padu padankan dengan apa yang sudah saya alami didalam kehidupan saya yang sudah mencapai angka tiga puluhan.

Saya ingat betul ketika saya menginjak sekolah menengah atas dimana sebuah tanggung jawab pertama saya adalah sebuah benda, benda tersebut adalah sebuah motor bebek keluaran tahun 90an.

Pada waktu itu memang kata tanggung jawab belumlah sefasih sekarang untuk diucapkan, tahunya cuma sepeda motor baru dibeliin dari jerih payah orang tua dan mesti dirawat baik. Sehingga penerapannya adalah sebatas dipakai sewajarnya dan dirawat baik.

Hingga akhirnya 8 tahun motor tersebut saya rawat selayaknya bagian yang melekat pada diri saya.

image

Kemudian ketika beranjak memasuki masa perkuliahanan barulah kemudian saya dikenalkan dengan tanggung jawab yang bukan berupa barang, akan tetapi sebuah tujuan, yakni kuliah sebaik-baiknya sehingga bisa lulus tidak lebih dari 4 tahun dan nilai yang baik. Baru kemudian belakangan saya tahu bahwa nilai yang baik tersebut memiliki angka yakni minimal dengan IPK 3.

Selama 3 tahun 10 bulan saya lalui dengan lika liku yang menurut saya penuh dengan pembentukan watak dan karakter dalam diri saya. Mulai mengenal lingkungan yang lebih luas dan tentunya mulai mengenal namanya berpacaran.

Selama masa perkuliahanpun saya lalui dengan suka cita, mulai dengan kegiatan belajar, dan kegiatan kemahasiswaan. Dan masih sama, kata tanggung jawab masih belum sefasih sekarang untuk di ucapkan, tapi yang saya tahu waktu itu adalah tujuan saya berkuliah musti tercapai.

Akhirnya tepat di bulan Agustus 2006, beberapa hari setelah saya bergabung ditempat saya bekerja saat ini, sebuah toga sudah saya sematkan di kepala siap untuk di geser oleh Bapak rektor sebagai tanda kelulusan. Sebuah proses dalam mencapai tujuan dari sebuah kata tanggung jawab.

Ketika itu tanggung jawab masih berasal dari orang tua, nah kemudian perlahan tanggung jawab mulai saya kenal berasal dari diri sendiri.

Masa mengenal lawan jenis atau bahasa bekennya berpacaran merupakan sebuah tanggung jawab bagi saya. Bagaimana tetap berperilaku sewajarnya, belajar mulai menggunakan kata komitmen untuk saling menjaga satu sama lain.

Sebenarnya kata komitmen ketika berpacaran masih terlalu premature untuk diutarakan, namun karena ini adalah sebuah proses maka tidak menjadikannya tabu lagi. Baru saya sadari bahwa usia pacaran yang cukup lama hingga bertahun-tahun menjadikan sebuah pasangan tersebut siap untuk menikah.

image

image

Tepat mendekati tahun kelima sebuah komitment pun kami sepakati, menanggalkan masa-masa pacaran yang manis. Tanggung jawab untuk mengenal satu sama lain, berinteraksi dengan masing-masing keluarga dan mengenal manisnya peluh bekerja 5 hari.

Memasuki masa berumah tangga, kemudian memiliki keluarga kecil sendiri adalah bagian dari segelintir tanggung jawab yang sudah tidak hanya datang dari diri sendiri tapi sudah menjadi sebuah tim dari suami dan istri.

image

Saat ini kata tanggung jawab sudah sangat fasih, akan tetapi bagaimana melaksanakan sebuah tanggung jawab adalah sebuah proses seumur hidup.

Mari kenali apa tanggung jawab kita dan selamat hari minggu.

Advertisements

Posted on 31 August 2014, in Pribadi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: