Sebuah omong kosong dari ideologi racun serta sumpah serapah tentang petasan

Kita menjadi sungguh prihatin bila melihat belakangan ramai peristiwa ngeBom dan diBom di berbagai wilayah NKRI. Tak pelak hampir beberapa kota besar yang vital terhadap perekonomian bangsa telah menjadi sasaran tukang ngeBom yang bermukim makmur di negara kita ini.

Entah ideologi apa yang dianut oleh si pembuat onar alias Bomber a.k. teroris, sehingga mereka tega mengakhiri nyawa mereka sendiri, bahkan menebar teror yang sudah membuat kita selalu khawatir bila bepergian dan berada di tempat keramaian.

Namun yang jelas para Bomber ini pasti memiliki masa kanak-kanak yang suram atau tidak bahagia. Hehe, bagaimana tidak?

Lah, mungkin sewaktu kecil para Bomber yang biadab ini tak punya duit untuk membeli petasan sehingga berikrar mereka pada hati kecilnya yang teramat dalam, bahwa ketika mereka besar nanti dan bila ada cukup uang maka mereka berjanji akan membeli petasan dan bermain sepuasanya.

Hmm, bisa jadi ini adalah alasan yang sangat masuk akal, karena begitu besarnya keinginan untuk bermain petasan yang tak kunjung kesampaian selama masa itu.

Bicara mengenai petasan, hampir setiap menjelang hari raya keagamaan senantiiasa di meriahkan oleh namanya petasan. Namun karena berbagai alasan maka peredaran petasan mulai dibatasi bahkkan di ciduk oleh petugas keamanan bila ketahuan menjual petasan.

Nah inilah kontradiktifnya serta efek yang ditimbulkan dari petasan ini.

Anak-anak yang pada masa kecilnya membutuhkan kebahagian dengan caranya sendiri, telah di renggut hak asasinya untuk bermain petasan. Disamping himpitan ekonomi dari orang tuanya yang begitu pas-pasan, semakin bersumpah serapahlah si Bomber cilik untuk kemudian hari ketika mereka besar nanti maka mereka akan bermain petasan sepuas-puasnya.

Ketika si Bomber cilik beranjak besar dan cukup uang tibalah saatnya untuk melampiaskan penantian selama ini. Maka dibelilah sebanyak-banyaknya petasan dan kembang api, tak lebih hanya untuk melampiaskan perasaannya untuk bermain petasan selama ini. Bermainlah dia dengan suka ria dengan petasan yang di belinya.

Celaka oh sungguh celaka, suatu “ideologi racun” dengan penganut-penganutnya telah melihat masa lalu yang di alami oleh si Bomber cilik. Maka dengan berbagai bujuk rayu, yang pasti tak jauh-jauh dari petasan,di rekrutlah dia untuk ikut beriman pada ideologi tersebut

Dari proses rekrut tersebut maka terciptalah bomber-bomber yang asik dengan bom atau petasan yang mereka anggap layak untuk orang seumuran mereka.

Semakin berani dan semakin tak berperikemanusiaan aktivitas Bomber di negeri ini.

So, inilah  cerita omong kosong dari ideologi racun serta petasan ala bomber bermula hingga saat ini.

Adakah caranya menghentikan si Bomber a.k. teroris ini???

Advertisements

Posted on 23 April 2011, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. berlindung dibalik jihad,… saya percaya 100% kalau mereka para teroris itu salah mengartikan kitab sucinya. Tapi saya pernah tergelitik saat ngobrol sama teman2 “coba pluasin (tanya ke org pintar), saat mati dr azhari dapet sorga ga ya?” hehehehehe. keep ngeblog bro…mohon tengok juga ke blog tetangga a.k.a dewarama blog hehehehe

  2. seharusnya seih mereka bs lbh manusiawi dan lbh realistis serta bijak menyikapi sgla persoalan… Wallah alam

  3. loo sok suci la

  4. bwakakakaka..teroris koment..sabar kang Dio..sabar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: