Menyambut Hari Raya Saraswati

Sebagai salah satu agenda rutin Sekehe Teruna Dwi Tunggal Br. Gadon Kerobokan, maka pada hari sabtu tanggal 11 Agustus 2009 yang bertepatan dengan hari raya Saraswati, kami mengadakan persembahyangan ke pura Desa, Puseh, Dalem dan Peti Tenget.

 Acara persembahyangan ini memang kami buat sebisa mungkin untuk dihadiri oleh seluruh warga sekehe teruna, namun hanya separuh saja yang bisa menghadiri dikarenakan ada beberapa anggota cewek yang kebetulan lagi ’dapet’ dan kesibukan bekerja yang tidak bisa digantikan, semua bisa dimaklumi sebatas ada niat baik dari warga bersangkutan untuk menginformasikan perihal ketidak hadirannya tersebut.

1

 Pada kesempatan ini kami ditemani oleh Bape Kelihan Adat yang rela meluangkan waktunya untuk bersama kami bersembahyang hingga ke Pura Peti Tenget, nah ini merupakan awal yang baik untuk kepengurusan banjar yang baru saja dilantik beberapa bulan yang lalu.

 Sekiranya acara dimulai jam 7 malam ternyata akhirnya molor hingga jam 8 malam, ini cerita biasa yang selalu saja terjadi disetiap kegiatan. Mengawali kegiatan tersebut kami melakukan persembahyangan di Pura Banjar, sekiranya kami memohon keselamatan dan kelancaran dari pada acara yang kami laksanakan.

2

 Melanjutkan acara persembahyangan tersebut kami menuju Pura Desa lan Puseh. Sungguh sangat kebetulan kami berjumpa dengan Kelihan Desa/Bendesa Adat Kerobokan yang juga melakukan persembahyangan. Pemangku Pura Desa pun seperti biasa menyambut kami dengan ramah, seolah-olah sudah hafal betul dengan kehadiran kami dari Sekehe Teruna Dwi Tunggal disetiap hari-hari raya.

 Setelah sedikit berbincang dengan Sekre. Desa Adat kami kemudian melanjutkan dengan acara persembahnyangan yang langsung dipimpin oleh pemangku Pura Desa. Sungguh suasana yang sangat khusyuk dan sakral terasa saat prosesi berlangsung. Meninggalkan Pura Desa kami kemudian menuju ke Pura Dalem.

 Memasuki areal pura Dalem Kerobokan sungguh sangat menabjubkan, penataan kemudian renovasi terhadap areal pura sungguh sangat apik sehingga menambah suasana spirit pura. Ini tak terlepas keberadaan kop. BUMDA yang  dirintis dari warga Desa Adat Kerobokan.

 Tak lebih dari 20 menit kami mengakhiri acara persembahyangan di pura Dalem untuk selanjutnya meluncur Pura Peti Tenget.

 Setibanya di Pura Peti Tenget suasana sungguh sangat riuh, begitu banyak orang yang hendak melakukan persembahyangan pada hari turunnya pengetahuan ’Saraswati’. Dominasi anak muda yang masih berstatus ’ABG’ menjadi pemandangan yang menarik untuk diamati.

 Suasana yang sedikit ramai memberi ciri yang yang berbeda untuk setiap tempat yang kami kunjungi. Mengakhiri acara persembahyangan dilanjutkan dengan acara bebas.

 Secara keseluruhan dari pelaksanaan acara tersebut sangat memuaskan karena antusias warga Sekehe Teruna Dwi Tunggal yang masih bisa saya/kami kategorikan kompak, karena dari 40 anggota aktif sudah ada 25 orang yang  bisa mengikuti kegiatan persembahyangan ini.

Besar harapan saya/kami warga Sekehe Teruna Dwi Tunggal semoga dikemudian hari kami tetap bisa kompak seperti yang sudah kami lakukan. Nah bila semua kaum muda Bali mempunyai harapan yang senada dengan kami maka kita akan tetap bisa menjaga eksistensi Sekehe Teruna di Bali.

 Terima kasih.

Advertisements

Posted on 11 August 2009, in Budaya, Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Mantab bruur, yen tawang keto milu bareng2 st. dharmakerthi ke ptitenget bruur… Lanjutkan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: