Catatan Lomba Desa Adat Kerobokan

Hari ini saya memiliki waktu sedikit lebih luang untuk memanjakan diri dan membuat sedikit hati pikiran lepas dari totalitas kegiatan rutin di kantor. Pagi ini saya awali dengan kegiatan sekehe teruna, kemudian tidur siang yang sangat menyehatkan dan sore ini kembali ke hobby saya menyalin dan menyalin pengalaman-pengalaman sederhana yang saya alami.

Saya teringat dengan kegiatan lomba desa beberapa pekan yang lalu dan lomba sekehe teruna yang diadakan tadi pagi. Sungguh meriah suasananya, begitu banyak atraksi dan warga desa adat Kerobokan yang terlihat sangat antusias dalam menyambut kehadiran tim penilai.

Menoleh kebelakang terkait persiapan lomba desa, maka dapat diamati sepanjang jalan raya Kerobokan menuju Dalung yang dipagari oleh hiasan penjor, bila menelusuk lagi ke sepanjang wilayah desa Kerobokan maka hampir semua banjar sudah mulai melengkapi administrasinya masing-masing, meliputi papan nama untuk banjar, batas banjar bahkan renovasi di setiap banjar dalam upayanya ikut serta menyukseskan prihal lomba desa, yang untuk kecamatan kuta utara diwakilkan oleh Desa Adat Kerobokan dan diadakan di pura Desa lan Puseh desa adat Kerobokan.

Saya dan kawan-kawan dari sekehe teruna Dwi Tunggal Br.Gadon juga mencoba ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dua hari menjelang pelaksaan lomba saya diminta mengkoordinasikan kawan-kawan di sekehe teruna untuk membuat penjor yang akan dipasang di banjar. Menurut saya ini adalah suatu momen yang sangat baik sekali untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkuat rasa kepemilikan terhadap salah satu organisasi kepemudaan yang ada di Bali.

1

2

Sebenarnya ada cerita yang menggelitik yang saya alami saat membuat papan struktur organisasi sebagai salah satu kelengkapan admistrasi sekehe teruna, yangย mana saya harus begadang habis-habisan untuk menyelesaikannya. Tidak begitu susah sebenarnya membuat suatu papan struktur organisasi bila instruksi dan waktunya mencukupi. Saya diinformasikan untuk membuat papan struktur tersebut 2 minggu sebelum hari H, namun saya berikan format penulisannya seminggu sebelum hari H dan formatnya salah lagi. Aduh saya bener-bener geleng kepala dibuatnya [pengurus banjar]. Padahal selama 2 minggu jeda waktu itu saya sudah mencoba menghubungi bapak kelihan adat namun beliau mengatakan akan langsung ke rumah saya memberikan formatnya, dan memang benar sih beliau kerumah namun setelah hari H tinggal seminggu lagi.

Yah bagi saya sih itu bukan suatu permasalahan yang begitu serius, dan saya mengerjakannya tak lebih dari 3 hari di sela-sela jam kerja kantor begitu padat. AKhirnya dalam tempo singkat papan struktur organisasinya selesa saya buat, tapi sungguh mengecewakan ketika dicek pak kelihan ternyata masih tidak sesuai format yang harapkan. Kontan saya tidak terima dan menunjukan format yang sebelumnya diberikan kepada saya. Fiuh, apapun penjelasan saya akhirnya saya diminta membuat ulang dan disesuaikan dengan format yang dikehendaki.

Kecewa juga sih sebenarnya dengan sikap-sikap seperti itu, seakan-akan tidak menghargai waktu saya mengerjakan papan struktur organisasi yang masih salah, coba dari awal saya diberikan format yang benar tentu saja tidak akan mengulang pekerjaan yang sama. Namun disamping rasa kesal saya, ada pelajaran yang saya dapat, bawasannya selalulah menyampaikan informasi [berkomunikasi] dengan baik dan benar kepada siapa saja, karena bila itu gagal maka akan banyak yang dirugikan, terlebih lagi yang memberikan informasi tersebut adalah seorang pemimpin yang tentu saja segala sikap dan lakunya akan selalu menjadi perhatian dari anak buahnya dalam hal ini anggota banjar.

Kemudian tibalah hari dimana lomba desa dilaksanakan tetapnya tanggal 19 juni 2009 yang sekaligus pembukaannya. Mungkin akan lebih mengasyikan bila saya tampilkan beberapa foto pada pada saat pawai lomba desa tersebut.

3

4

5

6

7

8

9

11

10

12

Bila saya amati pelaksaan lomba desa yang diadakan oleh pemkab Badung, tentu saja ini merupakan suatu upaya yang sangat baik untuk tetap menjaga kelestarian seni dan budaya yang ada di Bali. Dengan perkembangan manusia di setiap jaman yang selalu dinamis akan perubahan maka sudah sepatutnya kita sebagai warga masyarakat Bali berupaya menjaga serta melestarikan warisan dari leluhur kita.

Namun saya juga tidak menutup telinga akan beberapa komentar miring seputaran pelaksanaan lomba desa, salah satu contohnya adalah dana dan waktu yang sangat tersita dalam pelaksaan lomba desa tersebut. Sebenarnya kalo boleh jujur, saya sangat setuju dengan pelaksanaan lomba desa yang diadakan oleh Pemkab Badung, tapi bukan pada lombanya [kalah-menangnya] namun lebih kepada aspek-aspek pelestarian budaya, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk itu semua, dan saya rasa itu wajar. Dan harapan saya semoga masyarakat kita lebih mau membuka diri, meluangkan waktu maupun tenaga dalam upaya pelestarian budayanya sendiri.

bersambung ke lomba Sekehe Teruna di postingan berikutnya…

Advertisements

Posted on 5 July 2009, in Budaya, Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. asyiik. pertamaxxx..
    perawanin ahh.. ๐Ÿ˜€

    keren ini postingan nya.
    jadi pengen ke sana. ๐Ÿ™‚

    Sige said
    Wah selamat yah..dpet perawannya,jangan lupa dinikahi setelah dperawani..wekeke
    Wah makasi ross..iya maen dong ke Bali,ntr biar sige yang jg guidenya..
    Trims yah..

  2. gak pertamax!!
    wah, cuma dapet sisanya aja nih, gapapa deh ๐Ÿ˜›

    Tapi kapan acaranya nih bro? aku sering lewat kerobokan tapi ga pernah sadar ๐Ÿ˜€ kalo mau ada lagi bilang2 ya, sapa tau bisa kena jepret kamera bro sige kalo pas lewat, lumayan kan bisa mejeng di blog ini jg ๐Ÿ˜› hehee

    Sige said
    Alo Bro Kocu..wah sayang sekali udah diperawani ama Rossa..hehe.

    Sayang sekali acaranya udah lewat Bro..hik hik..Oh kerobokan yang mana dulu ney?? wilayah Kerobokan cukup luas..

    Wakaka..bener juga yah, ntr Bro KOcu sebagai latarnya, nanti gambar backroundnya dibuat blur..bakal keren tuh…

    Trims bro

  3. admin stdharmakerthi

    menurut saya format pnilaiannya yaah diubah dikit lah, jngan kbanyakan seremonialnya.. menghbiskan duit + tenaga yg bnyak, ibu2 pkk + warga bnjar dr pagi dah bkin pagar betis nyakupi lime nyambut team pnilai, tp eh jam 2 bru dtang.. “bedak dah luntur + basang seduk” celoteh krama banjare…

    Yg lucu team pnilai cuma dtang 5 menit, tolah-toleh, nulis dikit, trus bilang “sampun becik2, lanjutkan… suksema…” hehehehe… apa mksudnya..?? gitu diank..??
    kami dr pemuda sih bersyukur krn administrasi ga diliat krn benyah latig, hehehehe….

    kalo lombanya spt ini ya cuma pas dihari pnilaiannya aja pd prepare & jadi becik smuanya, trus kalo dah slesai ya ga terurus lagi…. mending team pnilai dtngnya mendadak tnpa pmbritahuan spya tahu the real condition didesa adat / banjarnya, trus yg ga disentuh tu masalah mengolahan lingkungan / sampah.. mending yg jdi juara jika mampu menekan produksi sampahnya desanya + mengolah sampah jadi manfaat… ato mending stiap desa dikasi duit bat diklola tuk membngun trus nanti dinilai kberhsilan pnglolaannya.. ga spt ini bat persiapan pnilaian mnghbiskan duit buanyak yg manfaatnya ga trasa, iya kalo desanya kaya nah kalo tdk ya mreka hrus ngutang deh…

    Peace…..

    Sige said
    Alow Bro Admin..
    Iya saya juga sempat mendengar pendapat yang senada dengan Bro Admin, karena memang hampir sebagian besar agenda dari Lomba Desa ini adalah ‘pertunjukan’.

    Kalo saya melihat, lebih kepada side effect dari adanya lomba ini, bukan kepada bagaimana teknisnya. Namun memang tidak bisa dipungkiri bawasannya ada harga untuk itu semua, tapi is ok lah kan tidak setiap tahun diadakan.
    Sederhana saja side effect diadakannya Lomba desa dan sekehe teruna ini, kita [saya] sebagai generasi muda dengan dipertontonkan dengan suguhan pawai tersebut seakan-akan diingatkan dan seolah-olah dibentak kembali bahwa begitu banyak hal yang selama ini saya tidak ketahui ada di daerah saya.

    Sebagai contoh Gong Luwang yang ada di Banjar Tegeh, ini merupakan seperangkat alat musik tradisional yang terkuno yang ada di wilayah Badung [sejauh pengetahuan saya], kemudian ada juga Baris Tekok yang ada di Banjar Jambe yang tergolong disakralkan dan merupakan warisan dari leluhur dan saya rasa jarang jg ada didaerah lainnya,kemudian adalah rangkaain upacara dalam Panca Yadnya yang di rangkum dengan maknanya oleh IB. Sudiksa, sungguh suatu moment yang langka pembelajaran yang saya dapat.

    Hanya saja memang waktu pelaksanaannya kurang pas, karena dilaksanakan pada hari Jumat, seandainya kalo hari Minggu tentu akan lebih banyak masyarakat tang menyaksikan dan belajar dari adanya pawai lomba desa tersebut.

    Bila kita bicara teknis seperti yang Bro Admin katakan itu juga baik sekali, hanya saja akan susah sekali menilai kriteria yang di lombakan, karena salah satunya adalah tentang ritual upakara Panca Yadnya, sehingga tidak memungkingkan bila tim penilai mengunjungi desa yang bersangkutan tanpa pemberitahuan dan tidak setiap saat akan ada upcara-upacara yang terkait dengan Panca Yadnya tersebut.

    Saya sangat tertarik dengan pengelolaan sampah yang bro Admin katakan tadi, ini saya rasa harus dimasukan kedalam agenda lomba desa, karena ini adalah salah satu nilai postif hub.manusia dengan lingkungannnya [palemahan dalam Tri Hita Karana] dan ini tindakan nyata bagaimana kita menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan kita.

    Nah disinilah kita harus sama-sama belajar, untuk tetap menjaga apa yang sudah kita prepare pada saaat lomba. Yang tadi administrasinya amburadul jadi lebih tertata setelah adanya lomba Desa. Seperti batas banjar, papan nama banjar, struktur organisasi [ pepalihan] dan sebagainya. Seperti saya di St. DT baru grudugan sekarng menyiapkan adminstrasinya..hehe..

    btw thanks komennya bro.

  4. kasian yg udh dandan lama tp diliat bbrp menit, tp bagus kok postingannya, eka seneng ngliat foto2 nya..!
    btw mna postingan bhs balinya kok dikit,sekedar usul ya nur,tiap bln buat satu postingan pake bhs bali ya kan seru…,sambil melestarikan bhs bali,hehe…!ok…!

    Sige said
    Alow Ka..hehe iya kasian juga sie, pupurnya luntur…tapi mau gimana lagi, tuan rumah musti mau korban dikit.

    Thanks banget Ka supportnya, dan masukkannya segera akan di folow up..
    Iya sama-sama Ka mari, yukk nae buruan ngeBlog..

    Thanks

  5. lomba STT-nya kalo tidak salah diwakili oleh STT saya, untunglah saya sudah pensiun jadi ketua, hehehehe

    Sige said
    Alow Bro Wira,
    Heh?? Bro Wira dari banjar Anyar anyar yah? wah kebetulan bersua di sini. Kalo bener dari sana berati bener kalo ST nya bro Wira yang mewakili, untuk lomba Sekehe Teruna duta dari Kecamatan Kuta Utara adalah ST Dwi Tura. Memang banyak talenta muda berbakat disana, dari megambel dipimpin bos Ardana, trus seni Ogoh-ogoh yang selalu tampil bagus.
    Btw Bro Wira udah lama pesiun? wah banyak cerita yang saya denger dan lihat prihal lomba sekehe teruna tersebut.nanti menyusul postingannnya.

    Tnx komentnya Bro.

  6. jadi pingin tw dan kenal stt dwi tura?

  7. Satrio Wicaksono

    waw.. bali banget ya postingannya….

  8. wah seneng banget bisa ngayah di kerobokan …akhirnya kita dapet juara satu tingkat propinsi…..walaupun pas dapet ngemsi grogi habis tapi semua dapat teratasi dan sukses……..

  9. wooe bli de,,,,
    nunggah masih photo baris tekok jagi yg ditu….ahaha
    deemen atii ne pak de jomit masuk internet..
    wkwkwkwkwkwk

    Sige said,Woeee juga Tuu..^^
    Oh nah jemak gen be,copy gen uli blog yang ne..beh maneb sajan ngelah web yo nokkk ^^

  10. Putu hendra batu bidak

    ke jek ade dtu nh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: