Etika dan kedewasaan dalam ‘berproses’ kerja

Sudah hampir 3 tahun berkutat dengan dunia kerja telah banyak memberikan pengaruh yang positif dan negatif ke dalam diri saya. Positf dengan tambahan wawasan dan pengetahuan di bidang kerja  dan terkadang negatif karena tuntutan pekerjaan pula sehingga pola hidup yang sediakalanya tertata apik menjadi ‘blas’ kacau beliau karena diuber-uber schedule.

Pembelajaran yang belum ‘lunas’ saya dapatkan di dunia kampus terdahulu perlahan-lahan sekarang terisi ketika saya memasuki dan menjalani fase berikutnya dari fase terbesar dalam hidup saya. Tentang sikap dan bersikap, tentang profesional dan proposional, tentang komunikasi dan berkomunikasi tentunya juga tentang tanggung jawab dan pengabdian.

Seperti yang semua orang ketahui dan saya yakini bahwa belajar yang paling efektif adalah dari guru. Otodidak menjadi opsi kedua setelah tuntunan guru, dalam hal ini pengalaman bisa menjadi guru untuk setiap individu. Untuk mendapat pengalaman maka bersiap-siaplah menjadi individu yang bodoh, serta sering kali di plintir sana sini dengan bahasa, karena itu adalah sesuatu yang lumrah untuk dapat menemukan pembelajaran tersebut yang tentunya didapat dari kerja.

Kerja bagi saya adalah suatu kewajiban hidup, sama halnya ketika masih mengenyam pendidikan di dunia sekolah dan kampus dimana belajar adalah kewajiban yang utama. Dari kerja inilah salah satu syarat peng’iya’an bawahasannya kedewasaan dapat di ukur. Walaupun bukan suatu nilai ukur yang pasti bawasan orang tersebut bisa dilabelkan dewasa dari kerjanya, namun ada beberapa prasyarat kedewasaan itu bisa didapatkan dari dunia kerja. Salah satunya adalah etika.

Etika seperti yang saya pelajari terdahulu di bangku sekolahan memiliki pengertian mendasar tentang perilaku yang terkorelasi dengan nilai baik, benar, buruk dan salah. Dunia kerja pun secara umum memiliki etika yang sama untuk setiap tempat, namun yang membedakan hanya bahasa tulis yang dipakai untuk menyampaikan tentang nilai baik,benar,buruk dan salah tesebut.

 Sedikit menjadi ribet ketika etika ini berbanding lurus dengan perilaku, menjadi susah karena perilaku yang seyogyanya diberlakukan di komunitas tertentu misal komunitas warung kopi di berlakukan juga di dunia kerja atau lebih spesifik lagi adalah di kantor. Kantor mempunyai aturan yang wajib untuk diketahui dan dijalankan oleh setiap individu yang mengorek rejeki dari sana. Sederhana saja contoh berikut yang menurut saya tidak sesuai dengan etika, atau mungkin pembaca bisa menyikapinya dengan kaca mata sendiri.

Aturan kantor adalah jam kerja mulai jam 8 pagi, nah seorang karyawan perusahaan tersebut datang ke kantor untuk sekiranya bekerja pada jam 8.30 [telat 30 menit tanpa alasan], kemudian langsung menggelar sarapan di meja kerjanya, sambil membaca koran di internet. Tidak puas dengan itu karena dirasakannya masih pagi kemudian dilanjutkan lagi dengan browsing-browsing menggunakan fasilitas yang diperuntukan untuk kerja hingga jam 9.30. Tiba-tiba ada telepon masuk, kemudian bertelepon ria dengan bisik-bisik, sesekali cekikikan yang tidak jelas hingga hampir 30 menit, kemudian hampir 3 kali menerima telpon selama sejam. Penegasan lagi status karyawan ini hanya staff biasa.

 Nah saya melihat sikap yang ditunjukkan oleh individu dari contoh di atas tersebut adalah sesuatu yang memiliki nilai buruk sekaligus salah. ‘Salah’ karena telah melanggar ketentuan atau kesepakatan kerja antara individu tersebut dengan perusahaan yang mempekerjakannya, dua diantaranya adalah terlambat dan menggunakan fasilitas kantor tidak pada waktu dan peruntukannya. Kemudian ‘buruk’ karena perilaku yang sangat tidak profesional dengan hak yang akan didapatnya setiap bulannya dari kewajiban yang diabaikannya.

Mengamati atau menjadi pengamat terkadang bukan sesuatu yang mudah karena bekerja dengan team mutlak diperlukan kekompakan [bukan kompak malasnya] dalam segala hal. Etika wajib dijaga bila dalam kerja dalam suatu team atau kelompok, sebab yang semua individu dalam team tersebut akan mempengaruhi kinerja kelompok. Tentu sangat tidak adil bila salah satu indivu dalam team memanfaatkan kerja dari kawannya. Sehingga susah sekali rasanya untuk bersikap cool dan tenang ketika kinerja team terganggu oleh satu dua orang invidu yang etika nya sudah mulai luntur atau malah tidak ada pernah tahu tentang etika kerja yang saya bicarakan.

Hasil dari kerja meliputi proses, proses kerja ini ada etikanya. Ketika etika kerja sudah terabaikan, tentu saja banyak pihak yang akan merasa dirugikan. Hasil sudah menjadi prioritas nomor dua ketika kenyamanan kerja menjadi harapan. Kenyamanan untuk diri sendiri belum tentu begitu juga dengan rekan kerja dalam satu team, jadi mutlak banget diperlukan sikap yang iklas menjalankan etika bekerja di kantor yang sudah menjadi baku dalam proses kerja, karena bila itu dilanggar tidak saja dirinya, kantor dan lingkungan kerjanya akan terganggu.

Menurut  pemahaman saya dan yang saya lakukan selama ini dalam berproses kerja, bila zona kenyamanan saya terusik oleh segelintir karyawan yang masih sama-sama berlevel kuli [staff biasa] tidak ada suatu kekhawatiran untuk menegur atau sekedar menyarankan bawasannya etika kerja sedang dilanggarnya sehingga mengganggu dalam proses kerja yang individu lainya sedang lakukan, tentu saja penyampainya dengan berproses pula. Bagi saya ketersinggungan itu adalah nomor sekian ketika penghargaan terhadap diri sudah diabaikan oleh sikap-sikap yang tidak profesional seperti yang saya contohkan di atas.

Jadi bekerja atau kerja adalah suatu proses standarisasi label kedewasaan suatu individu dimana etika kerja yang menjadi garis pembatas antara pemenuhan hak dan kewajiban dari sebuah proses kerja tersebut.

Sekian terima kasih

Advertisements

Posted on 21 May 2009, in Pribadi, Umum. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. o iya, jangan lupa di cek dulu bro secara kekeluargaan, maksudnya di cek jangan2 biar cuma staf biasa dia itu masih ada hubungan keluarga cukup deket ama direktur 😛 hehehehe

    Sige said
    Halo bro Kocu.
    Ha iya yah, saya gag kepikiran jangan-jangan, jangan-jangan..wakakaa.Saya lupa kalo sedang di Indo yang KKN nya minta ampyun..

    Trims bro

  2. Sangat setuju,bli. Soalnya apabila ada karyawan lain yang lebih yunior, setidaknya pasti akan terpengaruh baik sikap maupun mental. Sikap yang tidak profesional akan berpengaruh secara keseluruhan bagi kinerja team, banyak atau sedikit. Mudah2an org spt itu sgr sadar..he..he….karena bagaimanapun menjadi seorang profesional tidaklah mudah, dimana etos kerja dan disiplin terhadap aturan harus berjalan seimbang. ^_^

    Sige said
    Kalo kita sedikit menerapkan apa yang kita dapat di bangku sekolah apalagi bangku kuliahan, maka semakin senior tentunya harus lebih senior juga dalam bersikap, apa ndak malu kelakuannya mirip anak-ank gitu..
    Btw, kapan-kapan kita hunting bareng yoo..

    Tnx bro

  3. Pengalaman ditempat kerja ya broo?? Sapa tuh? si wewe bukan? hehehehe…

    Memang ajak liu ngendah, ado kene ado keto… Tp kalo di kantor PNS yg ngasi contoh “jelek n males” biasanya yg Senior, kita yg muda apalagi yg statusnya Honorer di ubek2…..

    Sige said
    Alow bro admin.
    Hehehe…cuma rangkuman beberapa kebiasaan anak-anak…oh om wewe ndak lah, doi kan rajin [kek nya…]

    Iya juga sie bro, ajak liu mule keto cuman..kan ada aturan yang mengharuskan sikap kita harus tertata hanya untuk dikantor..kalo di luar kantor silahkan mau seperti apa..hehe..wah perlu di OSPEK tuh PNS PNS..

    Trims bro Admin.

  4. Waduh…kalo PNS yang kayak gitu, apa gunanya ada Prajabatan? Mind Set dll?
    Ya…minimal, dimulai dari kita sendirilah…Semoga gak kayak dia.
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: