Orang tua, di manakah dirimu?

Sesuatu yang tidak mengusik mata untuk melirik tentu saja tidaklah akan menjadi bahan yang asik untuk diperbincangkan. Seperti itulah keadaan yang sedang terjadi saat ini. Bila berkeliling seputaran Denpasar kemudian Kuta, sesuatu yang dahulu mungkin tabu sekarang seakan-akan  sudah menjadi trend yang lagi dilakoni tidak hanya oleh kaum muda bahkan juga kaum yang sudah berumur pun melakukannya dengan senang hati. Nah pada kesempatan ini sedikit saya berceloteh tentang kekhawatiran saya pada perilaku generasi muda khususnya remaja putri di Bali tentang trend berpakian minim.

Bila kita sedikit meloncat ke masa lalu, yah paling tidak 7-8 tahun silam, coba kita sedikit mengingat kembali cara masyarakat kita berpakaian di jalan atau juga di tempat umum, tentu akan sangat terlihat perbedaannya. Memang sih ada yang tidak berubah dari motivasi berpenampilan masyarakat kita, yaitu ingin tampil menarik dan baik untuk dilihat. Perlahan tapi pasti perubahan cara berpenampilan ini semakin hari semakin ke barat-baratan, sehingga kita rumpun bangsa yang berbudaya timur mejadi kebarat kebirit dibuatnya, bila saya amati perubahan yang terjadi saat ini.

Tidak bisa dipungkiri memang Bali sebagai tujuan wisata dunia dan terminalnya beragam kebudayaan membuat sedikit banyak beberapa tempat di Bali [sebut saja Kuta dan Denpasar] sudah mulai mengalami pergeseran dari yang seharusnya. Tentu saya mengatakan dan tidak menutupi lagi bahwa sebagian dan hampir seluruhnya telah terjadi pergeseran cara berpenampilan. Saat ini yang sedang terjadi di masyarakat kita [sebagian kaum wanita] sangat senang mengenakan pakaian yang sangat minim, bahkan dahulu mungkin kita sebut sebagai celana dalam sekarang sudah menjadi celana luar yang biasa di pakai sehari-hari bahkan ditempat keramaian umum.

Fenomena wanita berpakaian serba minim khususnya remaja putri  tentu saja membuat reaksi yang beragam dari masyarakat khususnya kaum pria seperti saya. Bagaimana tidak bereaksi, wong di beri aksi kok..hehe..Mengenai reaksi yang muncul tentulah beragam dan tidak mungkinlah saya mengetahui opini-opini kaum pria bila di suguhi hal-hal semacam ini secara live. Yah mungkin salah satu komentar saya adalah terjadi suatu penghakiman terhadap kebiasaan berpakaian minim tersebut, yah paling tidak di benak orang yang melihat pastilah dia mengatakan “apa tidak malu yah berpakaian seperti itu”, yah walaupun ada komentar- komentar lain kadang yang menyusul.

Sesuatu menjadi wajar di negeri kita karena hal tersebut biasa dilakukan, walaupun itu nyeleneh dan aneh. Seperti cara berpakaian dari kaum muda serba minim tersebut. Nah yang mencongkreh mata saya hingga saya menulis di blog ini adalah ketika fenomena ini menimbulkan suatu aksi-aksi yang menjurus ke pelecehan sexual, tentunya ini akan sangat merugikan baik si berpakian minim itu maupun lingkungannya [keluarga, sekolah,dsb]. Buktinya sering banget di tanyangan-tanyangan yang mengulas tindakan-tidakan kriminal di negeri kita, pasti ada sajalah kasus yang terkait tindak asusila terhadap wanita. Yah sangat mungkin kasus-kasus tersebut dipicu oleh cara berpakaian yang serba minim dan tidak sepantasnya.

 Orang tua, dimanakah dirimu? Kalo fenomena berpakaian minim ini sudah menjadi suatu permasalahan maka hal pertama kali yang saya pertanyakan adalah peranan orang tua. Tidakkah orang tua risih melihat dengan gelagat putrinya yang berperilaku demikian? tidakkah mereka mengkhwatirkan hal-hal terburuk yang mungkin saja terjadi pada anak-anak mereka? Nah semoga saja tulisan ini sempat di baca oleh orang tua yang memiliki anak atau putri yang sedang beranjak dewasa bisa memberikan nasehat [tidak hanya memberi uang] untuk tetap menjaga sikap dengan berpakain yang sopan dan tidak terlampau minim.

Sekian terima kasih.

Advertisements

Posted on 31 March 2009, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. apapun alasannya…. ga bisa dibenarkan pelecahan seksual itu. kita pake perhiasan bukan berarti kita membenarkan perampokan bukan 😀

    masalah minim ga nya pakaian… itu mah hak pribadi orang masing masing yah… kalo dibilang ga sesuai adat timur, jaman dulu malah perempuan bali sama sekali ga pakai penutup ga pake penutup dada apa apa a.k.a topless 😀

    Sige said
    Alow Gek..
    Nah itulah yang terjadi gek, berpakaian yang tidak sewajarnya [terlampau minim] memberikan celah terjadinya hal-hal seperti pelecehan sexual. Kata orang lebih baik mencegah dari mengobati.

    Benar itu hak setiap orang untuk berpakaian, hanya saja kita hidup di negara yang tidak hanya mengenal hukum tertulis untuk mengatur tatanan di masyarakat, tapi ada juga norma-norma di masyarakat kita, salah satunya norma kesopanan [sosiologi,smu] yang wajib kita ikuti.

    Jaman dahulu orang berpakaian seadanya memang karena keadaan yang mengharuskan demikian, berbeda dengan sekarang pola hidup sudah berubah tentunya cara berpakaian harusnya berubah juga karena cara berfkir serta pemenuhan kebutuhan manusia [terutama untuk berpakaian] pada saat ini jauh lebih baik dari dahulu, namun tetaplah kita di Bali berbudaya timur, budaya yang mengenal namanya norma kesopanan.

    tnx yah komentnya.

  2. Pergeseran budaya memang bukan selalu hal yang baik. Yah, paling tidak menurut saya kebiasaan berpakaian minim itu bukanlah hal yang patut untuk di ikuti. Apalagi buat pria2 seperti saya dengan sedikit lemak berlebih di perut 😆 hahaha. Ehm. Yang bro sige maksud bukan hanya para gadis2 remaja kan? (^_^)

    Sayangnya, kali ini saya kurang setuju dengan pernyataan bro sige mempertanyakan peran orang tua. Memang sudah kewajiban bagi orang tua untuk membekali anaknya dengan semua nilai2 benar yang selengkap2nya. Paling tidak menurut versinya. Tapi semakin dilarang terkadang keinginan anak muda justru semakin menggebu dan keputusan akhir pun tetap berada di tangan sang anak.

    Tambahan lagi, bagaimanapun juga negara harus berjuang dalam menjamin keselamatan rakyatnya dan memberi rasa aman. Jadi setiap tindakan pelecehan seksual apapun penyebabnya haruslah di tindak tegas. Jangan sampai pelaku di beri kesempatan untuk berkelit dengan alasan korban yang salah karena (menurut pelaku) dia berpenampilan terlalu sexy dan menggoda.

    Sige said
    Alow Bro Koncu,
    Jikalau pergeseran menuju ke arah positif tentulah tidak menjadi persoalan dan patut di pertahankan. Jika sebaliknya, nah mari sama-sama kita benahi.

    Oh tidak masalah Bro, memang pasti akan selalu ada perbedaan dalam menyikapi suatu permasalahan, apalagi mengenai sosial. Di akhir tulisan sudah saya kerucut permasalahan kepada remaja putri yang berpakaian minim. Jadi filtering pokok tetap adalah keluarga, dalam hal ini Orang tua. Apapun alasannya orang tualah yang lebih berhak dari pada komponen yang lain untuk mendidik anak-anak mereka. Benar semua kembali pada mentality si anak, tapi sejauh manakah seorang remaja ABG bisa menentukan sikapnya? [tentunya tidak hanya dalam hal berpenampilan ] Nah pada masa-masa transisi inilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Ini kalo menurut arah pikiran saya.

    Yup, segala tindakan yang mengarah ke pelecehan apalagi pelecehan sexual harus di tindak tegas oleh aparat penegak hukum.

    Btw, nice koment Bro Tnx.

  3. GAMBARNYA DONK BOSSSS!!!, GAMBAR…..!!!, BUKTINYA MANA….?? Wakaka…..

    Hmmm…. apakah anda salah satu pendukung UU APP?! *pandangan curiga dengan sejuta kebengisan = ON*

    Sige said
    Alow Bli, wah kalo gambarnya mending ndak usah, karena kalo saya cantumkan gambar persepsi akan menjadi berbeda. Untuk postingan tertentu saya tidak cantumkan gambar. “Bukti dengan gambar??” ntr aja kalo ada yang memaksa membunuh saya untuk menampilkan gambar baru saya tampilkan.wekekeke..

    Tadi saya sempat berfikir argue ke UU itu tapi saya urungkan, saya ndak mau masuk kepolarisasi setuju/tidak setuju serta berbagai polemik lain yang menyertai kontroversinya.

    Mending kita sama-sama sikapi masalah ini dengan normatif yang sudah kita punya di Bali.

    Suksma Bli

  4. Wah…kalo masalah itu, gak cuma di Bali Bro…
    Di Desa-2 daerah Bendol juga dah banyak yang berpakaian minim. Bahkan Remaja SMA-pun dah “bertingkah”

    Sige said
    Alow Bro Bendol.
    Nah loh, ternyata ‘trend minimalis’ sudah merebak kemana-mana yah..termasuk di desa desa yah..[prihatin]

    CODE RED untuk semua orang tua.

    Trims Bro.

  5. Bli Sige,

    Terjadinya pelecehan seksual dikarenakan adanya AKSI dan REAKSI gono yah..???
    Tapinya klu REAKSINYA gak PIKTOR ( pikiran kotor ) gimana hayoooooooooohhh……

    Melirik koment Bli YANDE….
    MANA GAMBARNYAAAAAAAAAAAA….?????
    Kiks..kiks….aku juga mo liat-liat….seminim apa sih…

    Sige said
    Alow Kang..
    Segala sesuatu kan asal nya dari Aksi-Reaksi hukum dualitas kang. Dari pada dari pada mending dari pada deh kang..hehe.

    Penasaran kang yah, hehe..ah Bli yande suka ngomporin ney..untuk saat ini ndak saya posting Kang..malu masang begituan.

    Trims Kang komentnya.

  6. Menurut saya Trend ini karena Globalisasi & Perdagangan bebas serta ditunjang kecanggihan teknologi saat ini. Perusahaan mode selalu update product dan bebas menjual barangnya kesluruh dunia, tentu saja para celeb kita ngikuti, disambung oleh masyarkt luas yg konsumtif dan suka niru (terlebih masyrakat Bali, trend meledak dari Kota ke pelosok kampung).

    Khusus untk Bali dari tahun 90an bule & pendatang lokal berbaur, terjadi percampuran budaya dan perkawinan nilai sosial yg berbeda. Para cewek yg dunianya bergelut dengan dunia bule sudah biasa berpakaian super mini kita sudah bisa melihatnya. Tapi sekarang pergeserannya bukan lagi di daerah wisata saja tapi sudah menjadi epidemi di seluruh pelosok. Terus terang saya prihatin melihat trend pakaian mini pada cewk saat ini, saya sbg cowk saja merasa risih melihat karena bagian yg dilihatkan itu aurat yg sensitip dan hanya boleh dinikmati pasangannya saja tp ya kadang2 menikmati juga,hehehe… . Lihatlah dijalan para ABG yg masih Becing2 (anak kodok) sudah pamer bodi, bgitu juga para ibu2 sama saja ga mau kalah. Ibu2 berdandan spt ABG 20th sdangkan ABG bau kencur berdandan spt wanitu 30th.

    Spt kata org tua lebih baik mencegah drpda mengobati, lbih baik menjaga sikap berpakaian drpd suatu saat diusilin sama cowk, kalau di colek mendingan tp kalau diperkosa gimana hayo…??? Untung di Bali masih aman, terbilang jarang ada plecehan.
    Inget kita tdk bisa menyamakan kadar otak kotor setiap orang, jdi jgn selalu menghakimi pria punya otak kotor krn jika melihat lwan jenis Hot semua pria normal pasti sudah salah tingkah.

    Saya sependapat org tua dan lingkungan sekitar mempunya andil besar dlam membentuk watak & kepribadian anakn krn pendidikan pertama dan banyak waktu untk belajar itu ada dirumah, orang tua adalah guru yg mempunyai kewajiban membentuk anak menjadi SUputra.

    Sige said
    Nah yang saya garis bawahi dari yang disampaikan oleh bro admin yang mungkin belum tersirat dalam tulisan saya adalah pola atau gaya hidup konsumtif dan ‘milu-milu tuwung’ atau ‘ikut-ikutan’. POla ini selalu update untuk setiap generasi, tidak hanya dalam berpenampilan saja banyak anak muda khususnya remaja putri yang milu-milu tuwung, namun hampir disegala aspek sudah seperti itu, nah kalo seperti itu yang terjadi, dimana dong kekhasan penduduk Bali kalau sikap dan perilaku nya saja sudah imitasi.

    Memang tidak bisa berkelit lagi sekarang serba terbalik, anak-anak niru perilaku orang dewasa, dan orang dewasa pun berperilaku seperti layaknya anak-anak. Mumpung kita sama-sama saat ini detik ini masih waras, mari mari letakkan sesuatu pada posisinya.

    Trims Bro admin nice comment

  7. ikut comment ah…
    he.. kalau saya sih lihat seperti itu biasa aja..he,malah menikmati daripada melihat sesuatu yang lebih fullgar seperti misalnya kite ke pelosok desa kita masih melihat banyak para remaja yang masih mandi di tempat umum bahkan sampai fullgar..mungkin mereka berpakaian begitu karena lingkungan yang mengharuskan pakaian seperti itu agar kelihatan menarik dan pas dengan keadaan.. he,….

    Sige said
    Alow Bro, lama ndak muncul ney?wekeke.

    Hmmm sperti yang saya tulis diatas bro, karena biasa maka sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa-biasa saja dan terkesan wajar.
    Bergaya boleh, hanya saja tetap perhatikan batas-batas kewajaran.

    Tnx commentnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: