Permen impian

Semalam saya mampir ke mini market membeli beberapa camilan. Maklumlah kalau pulang kerja sedikit lebih awal, saya jadi sering kelaparan tidak karuan. Setelah berkeliling beberapa blok saya temukan coklat, jus dan beberapa snack. Kemudian saya harus mengantri untuk membayar barang bawaan saya.

Ketika itu di dalam antrian, saya mengamati seorang bapak paruh baya dengan istrinya yang sedikit menor beserta anaknya. Sepintas saya melihat si anak mirip adik saya yang paling bontot. Perawakannya kurus trus agak sedikit kumal sambil menatap barang belanjaan bapaknya yang sedang di hitung oleh petugas kasir. Lumayan banyak barang yang dibeli si bapak, ada roti dan beberapa keperluan sehari-hari lainnya. Nampak si anak melilit di samping bapaknya sambil merajut minta dibeliin sesuatu. Wajah si bapak seakan-akan tidak peduli. Anaknya tetap saja berbisik dan menatap bapaknya. Akhirnya si bapak bosan kemudian mengangguk dan membiarkan anaknya berlari menghampiri yang diinginkannya.

Sambil melirik anak tersebut, saya penasaran kira-kira apa sih yang diinginkannya. Ternyata harapan si anak tersebut jatuh pada permen frozz yang saya perkirakan harganya tidak lebih dari Rp. 2000,-.ย  Kontan wajah anak tersebut berubah ceria, karena permen impiannya akan segera dimilikinya. Beberapa kali dia memilih-milih permen yang beraneka ragam tersebut. Akhirnya terpilih olehnya permen frozz berwarna orange yang sudah pasti rasanya seperti jeruk.

Nah, karena permen sudah di hadapannya kemudian si anak tersebut memanggil bapaknya yang masih di kasir dengan suara yang dipelankan.

“Paaak…pak..yang ini aja yah? ” sambil menimang-nimang permen yang akan dimilikinya.

Bapaknya tidak mempedulikan anaknya dan membiarkannya memanggil-manggil dirinya. Si anak pun masih berusaha memanggil bapaknya dengan suara pelan.

“Heehhh…bapaaak..pak..heehh..ini yah pak..yang ini aja..” suarannya sudah mulai sedikit memelas dan menunjukkan bapaknya dengan kotak permen yang mau dibelinya.

Kemudian bapaknya melirik kotak permen yang mau di beli anaknya. Tiba-tiba setelah melihat permen yang diminta anaknya kontan wajah si bapak berubah, tatapannya ingin membatalkan keinginnan anaknya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, si bapak tadi membiarkan anaknya sibuk dengan harapannya.

Sekali lagi saya dengar keluh si anak.

“Pak…paaak..yang ini aja yah..!” tapi suaranya sudah sedikit pelan, karena sedikit ketakutan melihat tatapan bapaknya.

Akhirnya setelah beberapa lama berusaha, akhirnya si anak menyerah. Permen impian yang semula menjadi harapan dan sudah ditangan harus ia letakkan lagi ditempatnya. Dan berlari lagi mendekati bapaknya.

Pada saat bersaamaan pula kasir telah selesai menghitung barang belanjaan bapak tersebut tentunya minus permen impian.

“Total 22 ribu rupiah pak” kata penjaga kasir. Bapak tersebut meronggoh dompetnya dan memberikan kasir dengan uang pas.

Saya melihat wajah si anak mencoba menjaga suasana hatinya yang sedang gundah dengan tetap tersenyum menatap ibunya yang sudah menunggu mereka di depan tempat tersebut. Akhirnya tibalah saatnya saya membayar belanjaan saya.

Saya masih mencuri pandang mengamati keluarga kecil tersebut. Si anak mengambil tas belanjaan bapaknya dan melihat kedalamnya, seakan- akan mencari cari sesuatu, dan bapaknya menatap anaknya semakin tajam. Nampak amarah yang begitu besar terpancar dari mata bapak itu. Saya tidak tahu apakah karena keinginan anaknya yang tidak terpenuhi membeli permen atau ada yang lainnya. Saya tidak tahu dari mana rasanya hati saya tersayat, sedikit saja pikiran saya biarkan bermain- main dengan perasaan saat itu, mungkin air mata saya meleleh. Ingin saya membayarkan anak tersebut permen impiannya tapi saya khawatir bapaknya tersinggung.

Setelah melunasi barang belanjaan, dalam perjalan pulang hingga saat ini saya masih tidak bisa lupa dengan kondisi yang dialami si anak tersebut. Selalu saja ada pertanyaan dalam benak saya.

Bagaimana yah perasaan si anak? Pasti akan sangat sedih sekali kalo hanya untuk sekotak kecil permen harus menjadi sebuah mimpi yang belum tentu bisa dimilikinya. Kenapa yah bapaknya tiba-tiba mengurungkan niatnya semula yang hendak membelikan anaknya permen setelah melihat kotak kecil permen tersebut? apakah dia khawatir harganya mahal? Mengapa ibu anak tersebut hanya diam saja, dan membiarkan perasaan anaknya membunuhnya?

Aduh sedih sekali rasanya ketika kita mampu menolong orang lain akan tetapi keadaan tidak memungkinkan kita melakukannya. Yah, semoga saja ada jawaban yang bisa saya terima seadainya anak, bapak dan ibunya menjawab pertanyaan saya.

Sekian, terima kasih.

Advertisements

Posted on 22 January 2009, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 20 Comments.

  1. Pertamaxxxx nie kayaknya ๐Ÿ˜€
    Ya begitulah bli,terkadang kita dihadapkan pada persoalan hidup yang unik dan dan membutuhkan nalar tinggi untuk mencari sebuah jawaban,Karena kita mampu namun tak boleh atau boleh namun tak mampu ๐Ÿ˜€

    Sige said
    Yoa u r the 1#, hehe.

    Iya De, manarik juga bahasanya De hehe. Kali ini emang bener saya mampu tapi ndak boleh.

    Sungguh sedih si anak itu.

    Trims De.

  2. Si Bapak takut gigi anaknya jadi rusak kali, kebanyakan makan permen… he… asssalll…. ๐Ÿ™‚ Hmm… ternyata Sige memang top. Orang yang penuh empati… saluttt!!!

    Btw, Sige, thanks udah menempatkan link ceritangin di blog ini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, mohon kiranya link tersebut bisa di-update, karena saat ini ceritangin sudah tidak ngekost di WordPress lagi, tapi ngontrak di sini.

    Salam.

    Sige said
    Just common feel aja Bli, saya yakin setiap orang yang melihat kejadian itu akan merasa iba.

    Saya bisa menerima alasan kalo saja untuk mendidik anak supaya ndak makan permen berlebih, hanya saja momment mendidiknya tidak pas menurut saya.

    Wah, cool. Berita bagus ney..harus makan-makan Bli Wir. Sudah pindah ke rumah yang lebih bagus, ngontrak nya lebih deket. hehe. Ok, sudah saya ubah linknya ko. Btw, Blog yang lama gag di pakai lagi?

    Trims

  3. hmm…, memang banyak sekali bro faktor yang bisa kita kaji dari peristiwa diatas sama seperti posting saya kemaren.

    1. Klo kita terdorong perasaan kasian mungkin kita akan membelikan anak itu atau mungkin kita akan ngomong ke bapaknya (klo berani), “cuma 2000 rupiah aja loo”

    2. Klo kita coba untuk melogikakan, mungkin si bapak ingin mendidik si anak untuk terbiasa menjadi konsumtif dan manja

    3. Tapi sekarang pertanyaan saya apa kata “rasa” anda?

    Sige said
    Hmmm…

    Telah terjadi kegagalan system pada diri saya untuk point 1 dan 2 Bli. Perasaan dan logik saya telah di buat tumpul karena keadaan yang tidak memungkinkan.

    Dan mengenai point 3 satu jawaban saya “tidak pas”.

    Oh iya gapapa ko Bagus di beliin permen asal rajin sikat gigi.

    Trims Bli.

  4. poin 2, tidak terbiasa maksudnya, wekeke..

  5. hiks…hiks… hiks.. jadi sedih membaca cerita nyata ini.. kenapa begitu tega ya.. bapak ..itu.. apa mungkin kita juga akan seperti itu nanti setelah menjadi bapak? ya.. kita tidak tau nanti..semoga sebelum saya bertindak seperti itu , saya ingat dengan tulisan ini dan bisa menentukan sikap sebagai seorang babak bapak yang bija bijak.. amin….

    Sige said
    Hik..hik..kalo yang saya rasakan pada saat itu sedih karena feels saya “tidak pas” terhadap apa yang dilakukan bapak itu terhadap anaknya.

    Amin, semoga tulisan sederhana ini bisa kita ingat selalu..

    Trims Bro.

  6. yampun sedih banget ya.
    untuk mendaptkan permen aja, serasa hanya mimpi.
    ;(

    Sige said
    Halo Rossa..kalo saya jujur sedih sekali melihat kejadian itu dan iba sama si anak. Saya tidak melihat ada unsur mendidik di sana, melainkan kekerasan terhadap kejiwaan si anak. Kalo Rossa sedih berati tidak hanya saya yang merasakan hal itu.

    Trims yah.

  7. Si bapak jadi emosi kali krn si anak lama milih permennya broo…. hehehe…

    Sige said
    Wah kek nya si Bapak ini udah dari tadinya emosi bro..bused masak sinis gitu sama anak sendiri, kek bukan anaknya aja..apa itu anak tetangganya yah? wah berati saya salah dung..hehe

    Tapi sih kayaknya anaknya sendiri, cuma si bapak seperti nya ada yang error dalam dirinya..

    Trims bro

  8. Menurut saya apa yag dikatakan bli yande ada sepertinya masuk akal, Si bapak mungkin ingin mendidik anaknya agar tidak konsumtif. Dan saya rasa itu tidak salah, agar si anak dari kecil bisa mengerti dan menyadari kondisi keuangan keluarganya sehingga setelah dia berajak besar nanti bisa mengerti dan mungkin akan bisa memotivasinya untuk berbuat lebih guna meningkatkan perekonomiannya.

    Sige said
    Kalau bicara logic, alasan itu bisa diterima oleh akal Bro. Dan terkadang ketika mata dan telinga menyaksikan langsung pun otak masih mampu memberikan alasan yang rasioal mengapa si Bapak berbuat seperti itu.

    Tapi, ketika feels/rasa yang menera, bagi saya pribadi cuma satu jawaban yaitu “tidak pas”.

    Pembelajaran bisa dilakukan tanpa harus membunuh perasaan si anak, mendidik tidak harus mendikte kejiwaan si anak.

    Dan yang namanya anak, pembelajaran yang terbaik adalah dengan contoh. Dan mengenai manja, sudah seharusnya anak kita berikan perhatian khusus, jangan sampai dia merasa kurang kasih sayang. CUma permen lo bro??? dia ndak minta PS atau SEpeda loh!! Cuma Permen!!!

    Trims komentnya.

  9. Anak yang sedih….so mungkin pelajaran bt kita untuk tetap kerja keras bro sehingga nanti bisa mencukupi keperluan keluarga kelak…..tapi perlu juga untuk mendidik anak agar memaklumi kondisi keuangan keluarga. Semoga lain kali anak itu mampu membeli permen impiannya…..

    Peace….^_^

    Sige said
    Saya lebih sehati dengan jawaban Bro Jun, mari kita bekerja keras semoga anak kita kelak tidak mengalami seperti cerita saya.

    Lebih baik saya kekurangan, dari pada anak saya merasa kekurangan.

    Trims Jun.

  10. imo, penyebabnya adalah kurangnya pendidikan dan pengetahuan orang / kita untuk menjelaskan sesuatu secara verbal, terutama kepada anak kecil padahal ini yg paling penting.
    Kasihan anaknya sih, tapi sebenarnya yg perlu dikasihani itu bapaknya, kasihan ibunya juga soalnya kok yg pegang duit malah suaminya sih hehehe, kan yg ngelihat jadinya kasihan, kasihanilah juga kita2 yg komentar ini, loh loh…
    ๐Ÿ˜€

    Sige said
    Oalahh tetangga saya ney berkunjung, hehe.

    Nah itu dia, Ibue malah menor trus bapae malah yang belanja-belanja. Anak e malah makan hati ndak di bisa memiliki permen yang udah di tangan. Hik hik.

    Heh? Kasianilah orang-orang yang koment ini bila suatu hari nanti dia melakukan hal yang sama dengan bapak itu.

    Trims bro

  11. itu pelajaran yang sangat berharga, kadang kita harus diajarkan untuk siap menghadapi kenyataan yang jauh dari yang kita impikan, sejak dini….Permen itu mungkin satu contoh kecilnya……….

    Sige said
    Sekian lama kutunggu dirimu Beb..
    Iya walaupun tidak lebih dari 10 menit peristiwa tersebut, seakan sudah memberikan pelajaran yang begitu berharga dan mahal. Bila dibandingkan dengan harga permen tersebut, harga dari sebuah pelajaran beribu kali.

    Trims Nia.

  12. gak usah sungkan2 bli, kalau lain kali liat saya sedang belanja ama anak saya dan saya lagi bokek sehingga saya gak sanggup beliin anak saya, jangan sungkan2 bayarin anak saya bli,…..

    Sige said
    Halo bro..oh pasti, jangan ditanya deh Bro. Setelah anak ente tak beliin permen, sampeyan tak geplak kepalanya..Saya pasti ndak sunggkan ko geplak sampeyan Bro.

    Trims yah.

  13. pengalaman yang bagus bli, skotak permen mungkin menjadi harapan yang gagal buat anak itu, tapi mudah2an kelak cita-citanya tidak gagal juga, hilang seperti permen tersebut.

    Sige said
    Semua serba kebetulan Bro Eka, semoga saja seperti yang Bro Eka bilang.
    Stop kekerasan mental pada anak!!

    Trims yah.

  14. Untung bokap dulu g’ mpe segitu’na,,, kesian bgd iiah tuh bocah.. tapi kok om g’ ngebeli’in iiah??

    Sige said
    Yah syukurlah Bro ndak sempet ngalamin. Sebenarnya untuk hal-hal tertentu orang tua sah-sah saja membatasi keinginan si anak. Misal anak kelas 4 SD minta di beliin i-phone, nah wajar sekiranya si anak di berikan pengertian untuk tidak membeli sesuatu yang belum saatnya dia perlukan.

    Seperti yang saya tulis di atas, ada moment dimana kita tidak bisa membantu karena keadaan Bro.

    Trims yah.

  15. kalau kita mau positip tingking terhadap si bapak, mungkin saja poin no 2 dari blih yande itu yang diaplikasikan beliau. Tapi saya sependapat denang rasa bro sige ada yg “tidak pas” pada caranya.

    Kembali lagi, mungkin juga si bapak sudah terbiasa dengan proses edukasi yang seperti itu juga dari dia kecil. Memang sangat penting adanya proses edukasi bagaimana menjadi orang tua yang baik, karena saya sendiri juga masih bingung2 nih (^_^)

    Sige said
    Hai Bro Kocu, bagaimaina kabar si Junior..hehe.

    Mengenai bagaimana cara menjadi orang tua yang baik, saya akan banyak belajar dari Bro Kocu, karena lebih dahulu memakai label Bapak.hehe..

    Yah harapan saya, dengan membaca pengalaman singkat ini dan kemudian sharing dengan Bro yang udah pada merit dan jadi orang tua, semoga nanti kelak (saya) bisa menjadi orang tua yang baik pula.

    Trims Bro yah.

  16. topic yg diangkat bagus puk….:D

    Sige said
    Halo Kris, beh tumben awak mampir, btw tnx kunjungannya.

    Mengenai topik, cuma hal biasa dan sering ada di sekitar kita Kris, hanya saja sering kita berlogic ria sehingga semua seRASA berjalan normal dan wajar-wajar saja.

    Trims kunjungannya Bro.

  17. huuuaaa… jadi ikut ngerasa sedih baca ceritanya T.T
    itu anak sabar banget yah ga nangis sambil gulung2 minta permen… dia pasti takut banget sama bapaknya T.T

    Sige said
    Hik hik..saya yang melihat langsung dengan kepala mata sendiri serasa di silet tanpa obat bius..perih banget..trus ndak bisa ngapa-ngapain melihat sikon seperti itu.

    Aseli tuh anak takut banget ma bapaknya, saya yang melihat bapak anak itu jadi sedikit serem.

    Tnx pit.

  18. menyedihkan sekali kyk masa kecil eka yg serba kekurangan, tp cara bapaknya kurang bagus u/ megajar biar ga konsumtif, harusnya anak itu dinasehati dikit trus diemin aja jgn pasang muka marah jd sereeem….;D

    Sige said
    Nah itu dia Ka, saya setuju banget ma Eka. Nanti kalo Ka jadi mami gag boleh galak yah ma anak sendiri, jangan ditiru tuh bapak.

    Trims yah

  19. aduh die sedih bgt…. seandainya ak ada di sana pasti sudah ak beli permen itu untuk adik kecil yg malang, crita mu mengingatkanku pada masa kecil ku… hik ,hik,hik

    Sige said
    Hik..hik..hik..nangis bareng yukss.

    Aduh dek, ndak enak ma bapak itu, serius.
    Iya ndak papa dek, sekarang kan dek udah bisa beli permen sekarung, yang penting nanti seandainya sudah berkeluarga, semoga anak kita tidak mengalami hal yang serupa dengan yang dilakukan si bapak itu terhadap anaknya.

    Trims yah

  20. masa kecil kurang bahagia… kasian…

    Sige said
    Alow Gelza..

    Hmmm..begitulah Bro..sepertinya anak itu kurang bahagia, semoga lain kali keinginan ank tersebut bisa terwujud..

    Trims Bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: