Sudah saatnya kaum monyet memimpin bangsa

“Sudah saatnya kaum monyet memimpin bangsa”

Demikian slogan dari team sukses Partai Monyet dalam mengawal Partainya yang sudah berdiri sejak 17 hari yang lalu di hitung semenjak anda membaca artikel ini. Caleg Partai Monyet dengan nomor urut 1 ini sangat optimis mampu bersaing dengan para manusia yang notabene berasal dari monyet (konon cerita pak Darwin, red).

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai monyet, Pak Apes demikian panggilan salah satu Caleg dari Partai Monyet menyempatkan diri ketika saya wawancarainya.

Dengan kesederhanaan ala monyet, Pak Apes menyapa saya dengan senyuman berjuta gigi dan segera mempersilahkan untuk memasuki hutan tempat dia biasa bergelantungan dan sesisir pisang susu pun sudah siap menemani kami di atas meja.

Melihat saya dengan wajah sedikit kelaparan, sesekali Pak Apes mempersilahkan saya menikmati pisang yang konon sudah menjadi makanan favoritnya sejak jaman bahula dulu.

“Pak Apes, melihat bursa Caleg yang begitu marak belakangan ini, apakah bapak selaku perwakilan monyet merasa minder atau segan bersaing dengan Caleg dari manusia?”, saya mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan sambil mengalihkan perhatian saya dari pisang susu nya Pak Apes.

“Dik hadi, kami percaya apa yang di katakan rekan anda Darwin dengan teori Evolusinya sudah sangat menegaskan bawasannya kami kaum monyet punya kredibilitas dan kapabilitas untuk bisa bersaing dalam bursa Caleg tahun 2009. Perlu Dik Hadi ketahui, kami kaum monyet adalah moyangnya manusia, masa iya kami takut bersaing dengan turunan kami yang punya satu ekor di depan, sedangkan ekor kami ada dua, di depan dan belakang..hahaha..”.

Dengan nada guyon Pak Apes menjawab pertanyaan saya, kami pun tertawa bersama seakan melupakan perbedaan antara kami.

Sejuknya hutan pada saat itu membuat saya betah berada di gubuk sederhana pak Apes, tak berselang lama datanglah istrinya sambil membawa dua buah kelapa muda. Ternyata istrinya Pak Apes cantik juga, walaupun sejenis monyet tapi totok nya, hmm weleh weleh, hampir membuat saya terlena.

“Bang ini minumannya”, sambil menunduk dan menyerehkan bawaannya kepada Pak Apes.

“Mas eh Dik, eh silahkan minum. Hanya ini yang kami punya di belantara ini”, sambil tersenyum ramah istri Pak Apes mempersilahkan saya menikmati buah kelapa yang begitu lezat. Segera saya sambut dengan ucapan terima kasih sambil sesekali mencuri pandang.

Melihat saya kehausan, Pak Apes mempersilahkan saya minum sambil berbicang ringan dan humor ala monyet dan saya baru menyadari kalau monyet juga memiliki sense humor yang bagus.

“Oh iya Pak, bisa Bapak jelaskan sedikit sejarah berdirinya Partai yang Bapak usung, yang konon baru 17 hari yang lalu berdiri”, sambil saya bergegas mengambil minuman yang sudah tersaji di meja.

Dengan nada santai Pak Apes menjelaskan kepada saya,

“Begini Dik Hadi, bila saya menceritakan sejarah berdirinya Partai akan sedikit panjang dan tentunya Dik Hadi akan bosan mendengarkan cerita saya. Hmm, begini saja. Bagaimana kalo saya menceritakan masa pacaran saya dulu, saya rasa lebih menarik dan saya yakin Dik Hadi akan bersemangat mendengarkannya. Bagaimana Dik Hadi?”.

Dengan penasaran saya segera menjawab ajakan Pak Apes tersebut.

“Oh boleh saja Pak, kalau bapak tidak berkeberatan. Tentunya akan sangat menarik sekali bila Bapak dapat menceritakan pengalaman saat-saat Pak Apes pacaran dengan Ibu dulu”.

Kemudian terjadilah percakapan panjang dan hampir setiap cerita dipenuhi humor, sehingga membuat saya tidak berhenti untuk tertawa dan terus tertawa. Dua jam beliau bercerita tentang pengalaman pribadinya, saya kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan kami ketujuan semula saya bertemu dengannya.

“Pak Apes, dari sekian panjang cerita bapak, kira-kira apa yang membuat bapak memutuskan untuk terjun kedua politik, yah maksud saya ikut dalam bursa Caleg?”.

“Hmmm, sebenarnya saya enggan bercerita mengenai mengapa saya terjun ke dunia poilitik manusia karena ini semua berawal dari rekan manusia seperti Dik Hadi”, jawab Pak Apes

Wajah Pak Apes mulai berubah, tatapan matanya seakan-akan menghakimi saya. Padahal belum juga beliau menjawab pertanyaan saya.

“Tidak apa Pak, Bapak bisa kok menceritakan semua yang kiranya berkaitan dengan kaum saya. Jadi Bapak tidak perlu khawatir apakah saya akan tersinggung atau tidak, saya open mind kok Pak”.

Saya mencoba membuat wawancara rileks, karena pertanyaan sudah mulai sedikit berat.

“Dik Hadi, semenjak beberapa puluh tahun yang lalu, kami sebagai kaum monyet yang tak lain adalah moyang manusia merasa bahwa keberadaan kami benar-benar sudah tidak diperdulikan oleh manusia. Semua hutan kami di babat habis, semua hasil hutan di exploitasi seenak dan sekenyang perut manusia. Bahkan saudara-saudara kami sesama monyet pun tak jarang menjadi sasaran bedil manusia”.

Pak Apes menghentikan sejenak ceritanya dan mengambil sebiji pisang, kemudian diemutnya dengan gaya monyet yang khas.

“Nah Dik Hadi tau sedirikan, melihat sendirikan?, betapa rakusnya manusia. Betapa tamaknya kaum konon berasal dari kami”.

Mendengar yang disampaikan Pak Apes, membuat saya manggut-manggut menyadari tidak ada satupun yang meleset dari yang dijawab Pak Apes.

Memang sungguh tidak bisa saya logikan mengapa manusia bisa menjadi begitu serakah, pada sesama saja bisa saling bunuh. Hmmm, sambil mengelus dada. Ini pelajaan berati yang saya dapatkan dari seorang Pak Apes.

Kemudian pertanyaan saya lanjutkan lagi, karena wajah Pak Asep tampak lebih serius dari sebelumnya.

“Mengenai promo Pak Apes sebagai Caleg, persiapan apa saja yang sudah Bapak persiapkan untuk menghadapi kancah politik percalegan”.

Sambil mengambil sebuah gambar di tumpukan buku, Pak Apes kemudian menyodorkan saya sepucuk foto kampanye balihonya. Sambil menjawab singkat,

“Hanya ini yang saya lakukan Dik Hadi, maklumlah modalnya kurang buat kampanye..hahahaha”, dengan tertawa khas monyetnya dan saya mengamati foto yang Pak Apes sodorkan.

Saya pun minta agar foto itu saya bawa sebagai kenang-kenangan dan syukurlah beliau mengijinkan.

baliho-partai2

Hampir 3 jam kami berbicang-bincang, kadang serius dan tak lama pasti diselingi tawa kami terbahak-bahak.

Sungguh menarik pribadi Pak Apes, kesederhanaan dan kejujuran dalam cara berfikir dan cara menanggapi setiap pertanyaan yang saya ajukan kepadanya membuat saya simpati. Sungguh tidak menyangka kaum monyet ada juga yang intelek dan melek, walaupun dari sisi ketamakan dan sifat rakus, manusia masih jauh di atas mereka.

Karena sudah cukup lama saya mewawancarai, mungkin lebih pasnya kalo di bilang ngobrol. Saya kemudian ijin untuk pamit pulang. Tidak lupa Pak Apes dan istri mengantarkan kami ke halaman depan rumah mereka, dan mengakhiri wawancara exclusive saya dengan Caleg dengan nomor urut 1 dari Partai Monyet, Pak Apes menjabat tangan saya sambil berpesan,

“Sudah saatnya kaum monyet memimpin bangsa”

Demikianlah wawancara saya dengan Pak Apes, bila ada kesamaan tokoh dan cerita ini merupakan kesengajaan.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Posted on 4 December 2008, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. hahaha.. bikinin sendiri bro ya? keren2… btw, dija maan foto to nah? keren puk! hahaha…

    Sige said
    hehe..Iya Broe, ini bikini saya sendiri..loh ko..
    Oh foto itu di daerah canggu, emang pas tempat monyetnya.
    Hehe.tnx Bro

  2. “…mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan sambil mengalihkan perhatian saya dari pisang susu nya Pak Apes”

    wakaka… jd Nur meratiin “susu” dan “pisang” nya pak apes?! wakaka…. πŸ˜€

    Sige said

    “Ternyata istrinya Pak Apes cantik juga, walaupun sejenis monyet tapi totok nya, hmm weleh weleh, hampir membuat saya terlena”

    Lebih merhatiin totok (o=e) nya Bu Apes, lebih asoy..hehe suksma Bli

  3. wa..ka…ka… pas cek lokasi ternyata memang benar gambar tsb terpampang… lokasinya muanteb banget….

    *salam kenal

    Sige said
    Hehe iya Bli, saya pun tekejut ketika pertama kali melihatnya..saya langsung putar 180 derajat..dan mengabadikannya, di otak saya sudah terbayang tulisan yang bakal saya buat, hehe..
    Semoga pesan yang hendak saya sampaikan bisa diterima pembaca..

    Suksma bli.

  4. Heheheh… tulisan yang bagus. Surprise nya buat saya pas ditunjukin foto itu. Two thumbs up.

    Salam.

    Sige said
    Alo Wir..ah biasa aja wir,

    Masa iya wir, suprise..itu ngedit gambarnya mayan lama..wekeke..pas ngedit sudah ketawa-tawa aja saya…tnx yah wir..2 jempol juga buat Wira Angin..

  5. waduh..sindiran pak Apes si Monyet, hebat banget. Harusnya kita sebagai manusia bisa meniru ‘langkah’nya ya…
    hehehe…
    πŸ™‚

    SIge said
    wekeke, jangan sampe kita lebih jelek atau sama dengan monyet..

    Setidaknya kita bisa mencintai alam seperti kita mencintai diri kita..tnx bro bendol.

  6. wakakaka.. dmana tuh lokasinya? haaha. mantap pak editannya..

    Sige said
    Hai gung wie, hehe..lokalisasinya di daerah canggu..hehe.

    Hehe..biasa aja buk, cuman sekedar usil aja pake potosop..Tnx buk.

  7. Nyari team Sukses ga nih untk daerah Kerobokan n skitarnya…? πŸ˜€

    Btw akan ada PDU (Partai Daur Ulang) tunggu tgl mainnya… πŸ˜‰

    Sige said

    Wakaka..boleh-boleh, tapi harus registrasi jadi monyet dolo..

    Hah PDU? kek nya pernah denger tuh…wah jadi gag sabar neyyy…tnx bro

  8. Yaah kalo syaratnya jadi monyet siiih… mmm… mau gak ya?!
    Tunggu aja broo ni desain balihonya ja masi nunggu di ACC…

    Sige said
    Wakakaka.cuman prasyarat broh..kalo mau jadi team sukses pak Apes ntr komisinya gede loh…pisang ambon..wekeke..gede kan..

    Wahh..okok..kek na bakal kejutan ney…aseeekkkk

  9. Mmmm… nanti saya pikir2 lagi deh, kalo bisa jangan pisang ambon, tapi subsidi bensin, sembako, pulsa & duit cash aja…:-D

    Broo itu masuk ke Gadon dari selatan juga ada Baliho menari punyanya Pak Yan Arsa yg isinya fotonya dia dg kata2 “Doyan caleg, caleg gak ada, Gak bisa makan”, hehehehe….

    Sige said
    Wakaka..iya bro harus dipikir matang-matang, kek pisang..karena ini berkaitan dengan martabat sebagai manusia…

    Iya mengenai Baliho itu, kerjaan Pak Arse sekan mangkunya Dona, weeke..itu cuma iseng aja, tapi kalo diliat trantib pasti dicabut, karena itu gag pake ijin, asal pjang aja..

  10. kereeeen……pas banget ma fotonya…
    harusnya tulisan ini dimuat di Balipost atau koran Nusa, pasti heboh…wakakkakk…

    Sige said
    Oh kebetulan aja bro, wah jangan lah ini kan guyon, gag pantes masuk media koran..

    Hebohmu man..dihajar masa ntr..

    Btw tnx

  11. Keren,lebih keren lagi kok ngerti bahasanya pak apes ya wahhhhhhhhh keren bisa bahasa…… heheheheheh Tapi Artikel yang siiiippp nie. πŸ˜€

    Sige said
    Alow bror..oh bisa dung, bahasa monyet bilang gitu aja, gag usah pake titik titik yang panjang.wakaka…
    Trims komentnya Departa..salam monyet..loh ko..hehe

  12. haha saya kenal daerah ini… *rute ngantor*

    Sige said
    wah ada fenny, hao fen..

    Masa iya sie rute kantor? Udah gawe toh..oh kirain masih kul..

    Trims kunjungannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: