Napak tilas di Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa, Margarana

Perjalanan kali ini sedikit istimewa karena saya ditemani oleh seorang asisten, hehe..Iya saya ditemani oleh adik saya yang paling bontot, kami napak tilas ke makam pahlawan di Margarana atau dikenal dengan Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. Sebenarnya perjalanan ini hendak saya lakukan pada tanggal 20 November yang lalu, karena bertepatan dengan hari dimana 62 tahun silam telah terjadi perang perlawanan terhadap penjajah yang terjadi di Desa marga yang dikenal dengan Perang puputan Margarana, hanya saja karena harus disibukkan oleh aktivitas kantor maka perjalanan tersebut baru hari ini Minggu 23 November 2008 baru terlaksana, dan cukup unik karena tulisan ini langsung saya tulis di tempat tersebut.

Ketika memasuki areal Monumen, suasana sedikit bingar karena areal di depan Monumen sepertinya ada semacam acara bazaar atau konser musik yang mulai diadakan semenjak 3 hari yang lalu, seperti yang saya kutip dari bapak penjual lumpia yang biasa beroperasai di sekitar areai ini. Saya teringat ketika masih menjadi anggota OSIS di SMU, karena pada saat pertama kali saya ketempat ini, kurang lebih 7 tahun silam saat mendampingi team gerak jalan Puputan Margarana yang rutin setiap tahunnya kami ikuti. Selama masa itu  banyak perubahan yang saya amati, sebelumnya tidak saya jumpai wantilan yang cukup megah di depan areal Monumen. Kenangan ketika menjadi Mahasiswa pun mekar kembali, saya teringat saat mengadakan acara pengukuhan mahasiswa baru Kimia angkatan 2004. Pada saat itu saya harus mau dan rela menjadi pendamping adik-adik saya di kepengurusan HIMAKI. Ketika mengadakan acara pengukuhan tersebut cukup berkesan karena beberapa minggu sebelum acara tersebut, kami harus rela berdemo ria menentang kebijakan pihak Fakultas yang hendak meniadakan acara semacam pengukuhan Mahasiswa Baru karena di anggap sarad perpeloncoan, padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Back to topic, di areal Monumen saya disabut oleh deretan panjang nama-nama pahlawan yang gugur 62 tahun silam ketika pasukan Ciung Wanara yang dikomandani oleh Let.Kol I Gusti Ngurah Rai yang berperang habis-habisan (puputan), ketika itu nyawa bukanlah sesuatu yang berharga bila dibandingkan dengan rasa nasionalisme mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Satu persatu saya amati nama-nama pahlawan yang tertera di daftar tersebut, dengan harapan saya menjumpai nama pahlawan yang berasal dari daerah saya Desa Kerobokan, dan ternyata saya menjumpai 2 nama yakni, I Wayan Regug dari Kerobokan dan I Regog dari Banjar Petingan Kerobokan. Kemudian perjalanan kami lanjutkan masuk ke dalam areal monumen, nampak monumen Pahlawan dari kejauhan, di samping timur dan barat terdapat 2 bale panjang yang cukup luas. Hamparan rumput yang menghijau dan luas di depan monumen sering di peruntukan sebagai tempat upacara Bendera.

pic-13

pic-23

Ketika memasuki Monumen, tampak bapak Pemangku siap sedia menungu masyarakat yang hendak bersembahyang di monument tersebut sebagai tanda penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur. Cukup unik bentuk  arsitektur monument tersebut, dasarnya berupa segi 5 dan dimasing-masing sudut berisi gambar sila-sila dalam Pancasila, ini memberikan makna bahwa perjuangan yang dilakukan berdasarkan atas 5 nilai yang mendasari berdirinya Negara Republik Indonesia. Pada monumen juga  terdapat surat penolakan terhadap pendudukan Belanda di Bali yang masing-masing di pengggal menjadi 4 dan diletakkan di kempat sisi monumen. Areal ini sakral karena memang suasananya seperti itu, saya ingat dulu ketika acara jurit malam, saya seorang diri ketempat ini untuk berdoa memohon ijin akan melaksanakan acara jurit, bih desiran angin malam itu sesekali merindingkan bulu roma, seakan-akan mengiyakan acara yang kami lakukan. Mengetahui itu ketika memasuki areal utama kami menggunakan selendang sebagai tanda kami menyadari telah memasuki areal yang sacral dan suci.

pic-32

pic-41

Hamparan nisan yang mengukir nama pahlawan yang gugur selama periode perang mepertahankan kemerdekaan antara tahun 1946-1947 berbaris rapih seakan-akan bercerita kepada kami,

“Ini loh kami anak muda, hanya jasad dan nafas yang bisa kami persembahkan kepada Ibu Pertiwi Indonesia. Apa yang kamu akan dan telah persembahkan kepada Negara yang kau konon cintai? Hanya nisan batu ini?”.

Sesaat memandang nisan-nisan tersebut dada saya terasa sesak, sedih sekaligus bangga saya mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perang mepertahankan kemerdekaan. Sedih karena tidak secuil pun yang bisa saya persembahkan kepada Indonesia tempat  saya berpijak, bangga karena saya masih bisa mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah rela mengorbankan jiwa, raga dan keluarganya demi sebuah kemerdekaan. Lamunan itu pecah ketika adik saya menghampiri saya dan menanyakan perihal batu-batu nisan tersebut.

“Denung, mai jee malu..Ne kel misi lambang Om Suastiastu di batu ne, engken maksud ne?”.

(Denung merupakan nama panggilan adik-adik saya, mengenai lambang Om Suastiastu sebenarnya adalah symbol Suastika, hanya saja symbol Suastika sering dijumpai pada tulisan Om Suastiasti, red.)

Begini kurang lebih pertanyaan adik saya, yang dalam bahasa Indonesianya.

“Denung, kesini sebentar..Ini ada lambang Om Suastiastu di batu nisan ini, apa kira-kira maksudnya?”.

Kemudian saya ikuti kemana dibawa olehnya, saya ditunjukan sebuah nisan yang ada simbol Suastikanya, saya jelaskan bahwa itu melambangkan agama yang dianut oleh pahlawan tersebut, kemudian di nisan tersebut juga ada tanggal kapan mereka gugur, yang hampir sebagian besar gugur tanggal 20 November 1946. Nah pada kesempatan itu lah saya titipkan pengertian kemerdekaan itu apa sebenarnya kepada adik saya, tentunya dengan bahasa yang dia mengerti, serta memberikan pengertian mengapa kita harus rajin belajar dan pintar, tentunya agar kita tidak di jajah oleh bangsa lain, karena bangsa kita dulu masih bodoh makanya gampang di jajah. Serta saya tambahkan bahwa perang tidak memandang agama, semua pahlawan yang gugur ini berbeda agama, ada yang Hindu dan ada juga yang Islam, ternyata wajah adik saya lebih serius ketika saya menjelaskan pertanyaan yang ditanyakan kepada saya.

Nisan yang lebih besar dari nisan yang lainnya dan juga di hiasi lebih dari yang lainya adalah nisan Let. Kol I Gusti Ngurah Rai. Diantara jejeran nisan pahlawan tersebut ada juga yang berasal dari luar Bali dan bahkan ada yang dari Jepang.

pic-5

Memang dasar suka usil, saya kemudian mengamati satu persatu nama nisan-nisan tersebut dengan harapan menemukan sebuah nama yang sama dengan nama saya.hehe. Alamak saya menjumpai satu nama pahlawan yang sama dengan nama saya (akhirnya pencariaku berakhir juga, red). Tanpa sengaja saya juga menemukan tanggal gugurnya salah satu pahlawan dari Jepang yang bertepatan dengan tanggal lahir saya. Nah lo ini apakah ada artinya?, hemmm, saya pikir tidak ada.hehe..kemudian saya berkeliling lagi sambil mengambil beberapa gambar di areal nisan Pahlawan tersebut.

pic-6

pic-71

Disebelah timur terdapat sebuah museum yang menyimpang barang-barang yang terkait dengan peristiwa Perang Puputan Margarana tersebut, hanya saja tidak dibuka pada saat itu. Dari Jendela saya amati keadaan dalam museum tersebut, saya kecewa sekali. Ternyata sungguh tidak terawat dan kotor sekali. Suatu keadaan yang sangat saya sayangkan, padahal konon katanya setiap tahunnya ada acara peringatan di depan areal Museum yang konon juga dananya untuk perawatan monumen ini. Nah pertanyaan saya, duit nya kemana aja bos? Ko sepertinya masuk kantong pribadi yah? Makin saya pikir, otak saya semakin panas saja. Halah, ketimbang pusing saya pun beranjak ke bale panjang yang ada di sebelah barat, karena disana saya jumpai ada beberapa bale bengong.

Di bale bengon inilah saya menulis sambil beristirahat sejenak. Perlahan satu persatu pengunjung mulai ramai ke monumen ini, ada yang bersama keluarga dan ada juga bersama pasangan masing-masing (jadi sedikit ngiri sih,hehe. Red). Kemudian penjual lumpia menghampiri kami, dan menawarkan dagangannya. Karena saya ingat tadi adik belum sarapan maka kami memutuskan makan lumpia. Sempat percakapan kecil rerjadi antara saya dengan bapak yang menjual lumpia, nah dari percakapan itulah saya mengetahui perihal acara bingar yang ada di depan areal Monumen.

Tanpa terasa baterai laptop sudah mulai habis, dan saya bergegas merapikan barang bawaan saya dan siap-siap untuk pulang kerumah, disamping perut sudah mulai lapar mengingat masakan ibu di rumah. Sekian pengalaman napak tilas saya di Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana.

Terima Kasih
23 November 2008, Margarana.

Advertisements

Posted on 23 November 2008, in Budaya, Kab. Tabanan, KAJIAN, Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. wow…tulisan ini mengingatkan saya semasa SPM dulu, waktu itu ada kegiatan Palang Merah Remaja sepropinsi Bali diselenggarakan disini. Wah…serunya…walaupun saya dulu ikut karena dipaksa oleh guru-guru, tapi untung ikut,benar-benar tak terlupakan kenangan di Margarana itu. Ada lagi, ketika kelas 1 SMA, waktu kegiatan Pramuka se Indonesia yang digelar oleh Anak2 UKM Pramuka Unud, saya waktu itu sebagai salah satu penabuh gamelan yang mengiringi tarian kontemporer (gabungan teater dan tradisional). Eh, lucunya, mentrinya sudah datang, kami baru datang dan akhirnya Bapak mentri yang “menunggu” kami yang mana acara kesenian itu adalah acara pembukanya. Kalau diingat-ingat seru juga..jadi pengen kesana lagi ah…

    Sige said

    SPM =Sekolah Pereman Margarana,wakaka. Kalo ada kenangan indah di tulis lah bro,biar saya juga merasakan tulisannya.

    pengen kesana? ma dayu yah? pasti pengen pacaran.wakaka

  2. Ada orang pacaran pergi kesana? Pacaran kok di kuburan, mentang2 kuburan itu sepi ya?

    Sige said
    Aseli mendukung buat pacaran siang hari, tapi kalo malam jangan harap dah.

  3. waduh…
    salah tulis, maksudnya SMP bro…wakakkak…tolong diedit donk…

    Sige said
    Udah gapapa, biar lucu sedikit

  4. Memang sungguh mengasikkan berwisata ketempat / situs pahlawan / perjuangan, kita bisa menerawang jauh ke belakan peristiwa yg terjadi ditempat itu (membayangkan desingan pelor yg bersliweran, para pejuang yg gagah berani duel mlawan penjajah, dedakan bom dan mayat berserakan, dll), akan membuat kita bangga dan rasa nasionalisme kita bangkit kembali…

    Saya terakhir 3 th yg lalu kesana bersama teman2 yg masih lajang pd waktu itu, tujuannya sebenarnya adlah Cuci mata krn di Makam Pahlawan Margarana menjadi ajang ngeceng muda-mudi, nyari kenalan n gebetan, bahkan untk pacaran, asal jangan dibuat mesum! Saya sangat suka di musiumnya, tidak bosan saya melihat benda yg nyata digunakan untuk mempertahankan tanah ini dr penjajah, tidak ternilai harganya. Betul yg broo bilang kondisinya kurang terawat.. Mungkin ide bagus kita organisasi Pemuda bisa gotong royong membersihkan makam disana…

    Tempat makam pahlawan / situs perjuangan lainnya dimana ya selain di Margarana dan di Gaji…?

    Sige said
    Iya bro sungguh sangat menyenangkan, membanggakan dan seterutnya..hehe.

    Mengenai museumnya saya benar-benar prihatin melihat kondisinya, sungguh sangat disayangkan. Iya saya sangat sepakat sekali, kapan-kapan kita gabung bikin acara amal sekalian jalan-jalan kemargarana, kita kerja bakti trus minta Bali Tv meliputnya, bakal jadi sesuatu yang bagus ney..saya tunggu info broer selanjutnya…mari kita galak…semangat Soempah Pemoeda 1928.

    Masa iya di Gaji??? kok gag tau yah..wadohhhh cari tau ahh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: