STOP Mutilasi

teletubies di mutilasi

Belum hilang diingatan tentang Ryan si tukang jagal manusia dari Jombang, beberapa pekan yang lalu kita di gegerkan lagi dengan kasus pembunuhan disertai mutilasi yang mayatnya ditemukan di dalam Bis Mayasari, dan ternyata Istri si korban mutilasi adalah pelakunya. Sungguh berita yang membuat kita menghela nafas panjang, dan menyesalkan mengapa kasus itu harus terjadi. Yang paling membuat saya pribadi geleng-geleng kepala adalah kasus mutilasi ini juga mulai ada di Bali. Seperti yang diberitakan di Bali Tv beberapa hari yang lalu tentang penemuan kepala mayat di Gianyar, seakan pertanyaan besar di benak saya, “mengapa harus seperti itu?” Syukurlah dari semua berita pembunuhan mutilasi tersebut, semua tersangka sudah ditangkap oleh pihak berwajib.

“pang ken ken care keto?” nah kurang lebih seperti itu penggalan pertanyaan saya diatas dalam bahasa Balinya. Apapun alasannya, dari segi apapun itu dipandang, pembunuhan sadis disertai mutilasi saya rasa tidak dibenarkan. Sehingga pertanyaan besar saya tadi semakin menuntut jawaban. Bila kita cari jawabannya, sudah pasti ada segudang jawaban yang di buat oleh si pelaku. Nah, apakah saya puas dengan jawaban tersebut? Ternyata masih belum. Trus apa yang saya mau?

Bila kita renungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi ini, akan tidak pernah disangka manusialah yang melakukan pembunuhan sadis tersebut, tapi nyatanya manusialah pelakunya. Kalo pandangan saya pribadi, untuk membunuh kecoak aja masih mikir, apa lagi harus membunuh manusia dengan cara yang sadis pula, sungguh sesuatu yang tidak habis untuk dipikir. Coba banyangkan efek yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut, sanak keluarga korban, orang-orang yang dicintai korban, bahkan lingkungan sekitar pelaku sendiri pun sudah pasti terkena efek dari peristiwa tersebut. “Menyesal..” begitulah kata yang muncul dari mulut pelaku mutilasi yang terjadi di Bali, “emang segampang itu minta maaf, bangsat lo..” gumam saya. Siapapun tidak akan terima bila mengalami peristiwa sadis ini. Trus sekarang maunya apa?

Saya ingat betul wejangan suhu, “waktu/jaman tidak pernah berubah, tapi manusianya yang selalu berubah….”, sekarang hari senin dan seminggu lagi hari senin, tapi sudah pasti perilaku manusia hari senin sekarang bakal tidak sama dengan senin minggu depan. Nah, seandainya perubahan yang terjadi pada manusia tersebut menjadi semakin baik bagi dirinya maupun lingkungannya maka tidak ada masalah alias habis perkara. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, contohnya kasus mutilasi yang rame sekarang. “hmmm…sambil menghela nafas panjang”, semoga kita semua ‘rahayu’ dan satu harapan saya/kita semoga peristiwa pembunuhan disertai mutilasi tidak terjadi lagi.

Sekian terima kasih.

Advertisements

Posted on 5 November 2008, in KAJIAN, Pribadi, Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. walah! Kalo saya sih, ga pake mikir kalo cuman bunuh kecoak! Hehehe…

    Sige said
    Masalahnya saya pencinta hewan-hewan imut seperti kecoak, jadi rada susah ngebunuhnya gitu. hehe

  2. Karena Gumine Suba Wayah broo… Nilai norma & agama sudah luntur, Setan sudah bergerilya membisikkan kebencian ketelinga manusia….

    Sige said
    Yen kone gumine makin ngewayahan kan seharusne semakin arif dan bijaksana, care umure yen semakin kelih kan pepinehne semakin ngemelahang, eh ne malah kebalikanne. Duh dewa ratu..

  3. masak sih mikir bunuh kecoak. bener.. mikir jorokny atau takutnya… haaaaaa…..

    Sige said
    mau jawaban ruwet tah? Kecoa makhluk hidup gag? punya nafas gag? hmm..hanya saja dia (kecoak) makhluk jorok (kata orang) trus kita bunuh dia?

    Kalau gag mau diganggu kecoak, hidupnya harus bersih! Ok.

  4. Stop mutilasi boneka teletubies !!!!!

  5. Yen kone gumine makin ngewayahan kan seharusne semakin arif dan bijaksana, care umure yen semakin kelih kan pepinehne semakin ngemelahang, eh ne malah kebalikanne. Duh dewa ratu..

    >> Betul Bliii…. Mungkin gumine kel uwug asane….

  6. membunuh itu…. klo saya si ya sah2 aja apalagi klo kita yang mo dibunuh tinggal kita milih mo dibunuh apa bunuh duluan naa disini kompleksnya bro, seandainya kita milih yang pertama mungkin kita akan langsung sampai pada tujuan akhir dari hidup hehehe tapi klo milih yang kedua??

    kita harus berpikir keluarga nantinya bila kita dipenjara, kehidupan kita dimasa mendatang (karir, anak, dan buuanyakkk lagi) naa pernah ga nyoba untuk berpikir ga setiap pembunuh itu psikopat kayak si ryan, dan mencoba untuk memposisikan diri sebagai mereka?

    mungkin mereka melakukannya ketika mereka menghadapi situasi diatas yang kedua, dimana setelah mereka tersadar, mereka pun melakukan mutilasi untuk meghilangkan jejak hanya agar mereka masih bisa bersama dengan keluarga mereka

    bukannya saya mendukung/pro mutilasi tapi tanpa anda sadari kita semua pelaku mutilasi kan? Bayangkan bila anda makan ayam goreng tanpa dimutilasi dulu hehehe

    saya lebih menyesalkan berita2 tentang penyiksaan anak kecil apalagi pemukulan terhadap BAYI!! Itu mahluk yang masih polos dan lebih tidak berdaya dibanding semut, karena semut akan menggigit saat anda injak sementara bayi…

    mau menggigit belum punya gigi

    Sige said
    Ya mungkin saja bila kasus nya kita sedang terdesak, sedangkan kasus yang saya kutip dari pemberitaan televisi itu berbeda. Contoh kasus Ryan, membunuh dengan berbagai motif, uang, perasaan cemburu dengan pasangan gay nya dan sebangsatnya. Bila saja kasus nya seperti yang bli contohkan, saya rasa saya pun setuju, ‘sebelum dibunuh mari kita bunuh terlebih dahulu’. Tapi pertanyaan sekarang, apa perlu harus di mutilasi segala?

    Saya tidak pernah memposisikan atau mencoba memposisikan diri seperti si Ryan, karena saya harus berfikir seperti Gay. wekeke.

    bukannya saya mendukung/pro mutilasi tapi tanpa anda sadari kita semua pelaku mutilasi kan? Bayangkan bila anda makan ayam goreng tanpa dimutilasi dulu hehehe
    Haha, bisa aja bli. Yah bisa aja bila dikonotasikan kesana bli, wakaka, benar juga.

    Walaah ko dibandingin dengan semut sih, sebagai permisalan ok juga sih. Tapi jangan salah bli, seperti cerita temen sih, “kalo bayina bisa ngambul juga klo gag diberi susu, bahkan bisa ngelempar bapaknya dengan tempat mimik cucu nya”, wekeke.

    Ok tnx komentnya bli.

  7. Ralaaattt…., bukan memposisikan diri sebagai si Ryan orang gendeng bin gila mengong itu, tapi memposisikan diri sebagai pembunuh yang membunuh lantaran terpaksa untuk membela diri.

    “Tapi pertanyaan sekarang, apa perlu harus di mutilasi segala?” Well katakanlah sekarang situ ne bro, kita berandai-andai seandainya ada piring kaca dan piring plastik, trus Nur senggol dan kedua piring sama-sama jatuh ke lantai, piring kaca pecah, piring plastik ga pecah naa lebih cepet nyari piring yang mana? Plastik atau Kaca yang sudah pecah, see maksudnya?

    Mereka melakukan hal tersebut untuk menyulitkan para penyidik dalam pencarian, paling ngga harapan mereka kan agar tidak ditemukan sehingga, mereka tidak berpisah dengan keluarga krn dipenjara

    Sebenernya daripada membunuh kan lebih baik memrefleksi hehe soalnya baru bisa refleksi ajah

    Sige said
    hehe, ya bener bli. Dari pada dari pada mending dari pada,wekeke.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: