Fase terbesar

Setelah berkeliling hampir 20 menit akhirnya saya menemukan toko komputer yang menyediakan jasa untuk scaning foto, syukurlah jasa scaning foto tidak terlampau mahal, saya mengeluarkan kocek sekitar Rp.24000 untuk scan untuk 11 foto. Tapi tak apalah gumam saya dalam hati, ini adalah moment yang sangat baik untuk mengabadikan satu fase dari kehidupan yang telah saya lalui 2 tahun yang lalu, kedalam sebuah medium digital.

Yah ini lah fase terbesar dalam hidup saya, suatu masa dimana saya belajar semua dan memperoleh apa yang saya miliki saat ini, sungguh sangat bersyukur saya bisa mengenal dan melalui satu fase dimana saya bergelar Mahasiswa. Mahasiswa, suatu sebutan yang sangat keren bagi saya,hehe.. Mahasiswa indentik dengan idealisme, perdebatan, kebebasan berfikir dan Mahasiswa adalah titik pangkal pembentukan jati diri sebagai seorang manusia di masyarakat. Yah, mungkin sedikit dari sekian banyak komentar saya bila dihadapkan dengan kata Mahasiswa.

Pada tulisan kali ini saya hendak berbagi pengalaman singkat dengan pembaca sekalian, ketika saya masih mengenyam pendidikan di Kampus. Sebelum jauh bercerita, saya adalah alumnus dari Fakultas MIPA, Jurusan Kimia, Universitas Udayana. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Kampus Bukit Jimbaran pada tahun 2002. Sebenarnya sebelum saya memutuskan pilihan sebagai seorang mahasiswa Univ. Udayana, saya sempat beberapa kali mengikuti ujian masuk Universitas Swasta, yang mana pendidikannya menjurus ke Pariwisata, namun mungkin ini suatu kebetulan dalam hidup saya, akhirnya ketika pengumuman penerimaan calon mahasiswa Udayana tahun ajaran 2002, saya putuskan melepaskan pilihan saya di bidang pariwisata dan memutuskan mengambil Jurusan Kimia. Kimia sebenarnya pilihan kedua, pilihan pertama saya adalah Fak.Kedokteran namun gagal,hehe..Tapi tidak apalah yang penting keinginan orang tua saya sudah terpenuhi, walau saya belum bisa mengenyam pendidikan di Fak. Kedokteran Udayana.

Fase Awal.
Bila mengingat kata OSPEK dan bercerita mengenai OSPEK, saya rasa tidak akan ada habisnya, apalagi lawan bicara atau yang saya ajak bercerita adalah teman seangkatan, bih pastilah sangat rame. Masa OSPEK yang saya lalui cukup keras, mulai dari dari sikap, kemudian tata cara berbicara, cara makan dan masih banyak lagi aturan-aturan yang aneh menurut saya waktu itu. Walaupun tak sesanter OSPEK nya Fak. Teknik, namun jangan salah, OSPEK Fak.MIPA benar-benar, membuat saya KO (knock Out) di hari pertama. Penerimaan MABA (baca Mahasiswa Baru) di tingkat Universitas di Univ. Udayana semasa saya menjadi Mahasiswa disebut dengan Gempita, namun seiring perkembangan waktu kata Gempita sudah tidak berlaku lagi (sepengetahuan saya), saya lupa disebut apa sekarang. Nah, Gempita tidak lah begitu keras menurut saya, hanya saja kita di tuntut untuk bangun lebih pagi bila dibandingkan dengan masa SMU dulu, bagaimana tidak bangun lebih pagi, banyangkan saja kita harus sudah berbaris rapih di depan Auditorium Kampus Bukit jam 7 pagi, sedangkan lama perjalanan dari rumah saya ke kampus kurang lebih 1 jam, mau tidak mau jam 5 pagi mata harus sudah terbuka. Ada juga sih kejadian lucu pada masa Gempita, salah satunya, teman saya ada yang disuruh mencukur kumisnya separuh saja,hahaha..benar-benar tampak konyol wajahnya. Disamping pemandangan di Lapangan depan Rektorat yang setiap pagi selama Gempita selalu saja ada mahasiswa/i yang merangkaklah, jalan jongkoklah, push up lah dan masih banyak lagi hukuman-hukuman kalo saja kita terlambat pada saat itu. Nah setelah Gempita usai, peneriman MABA selanjutnya di tingkat fakultas, nah pada saat ini lah OSPEK yang sebanarnya saya rasakan. OSPEK ini berlangsung 2 tahap, tahap pertama di areal kampus dan lebih sering disebut PPS (pengenalan program studi). Pada saat PPS ini tugas sangat banyak di bebankan pada MABA, salah satunya adalah membuat ringkasan tentang acara di TVRI yang tayang tengah malam, saya lupa acaranya. Alhasil semua ringkasan acara tersebut salah, dan akhirnya di hukum Panitia. Sering kali memang saya di hukum karena kesalahan yang tidak masuk akal, tapi apa boleh buat harus dijalani. Mungkin satu motivasi terbesar dalam diri saya saat itu adalah semua hukuman yang saya perolah pastilah ada manfaatnya di kemudian hari dan setelah acara tersebut usai baru saya menyadari dengan sungguh-sungguh sadar bahwa ternyata motivasi saya tersebut benar.
Setelah OSPEK tahap pertama selesai, kemudian dilanjutkan ke OSPEK bagian kedua, masih dalam tingkat Fakultas. Nama OSPEK tersebut adalah GBISM (Gema Bakti Ilmiah Sosial Mahasiswa), berlangsung di Desa Siangan Gianyar, tepat nya saya lupa, yang jelas di lapangan sepak bola yang cukup luas dan angker, pas deh pokoknya. Nah pada saat GBISM inilah saya KO pada upacara pembukaannya dan pada malam harinya saya berpura-pura sakit, karena pada malam tersebut diadakan semacam pemeriksaan tugas dan buntut-buntutnya di hukum. Keesokan harinya saya mendengar riuh teman bercerita mengenai hukuman semalam sewaktu saya di pos kesehatan, saya merasa rugi talah berpura-pura sakit, sehingga hari-hari selanjutnya saya memutuskan mengikuti semua susunan acara walaupun sangat terpaksa. Hingga saat ini saya masih bertanya-tanya dalam diri saya, mengapa pada saat kita diberlakukan tidak adil oleh panitia dan semua kesalahan dicari-cari, eh malah yang timbul adalah rasa kebersamaan dengan teman-teman MABA, rasa kesetiakawanan yang terasa seakan-akan dibakar, apakah ini makna OSPEK yang berbau kekerasan dalam tingkat yang wajar? yah, saya rasa jawabanya iya. Di bawah ini adalah foto saya yang diambil oleh panitia ketika saya sebagai kepala regu dan  sedang menunjukkan jalan dengan mata tertutup.

Sungguh tanpa terasa hampir 4 hari saya di OSPEK habis-habisan oleh Panitia GBISM dan akhirnya berakhir juga dengan meninggalkan bekas kenangan dan sejuta semangat yang membara serta cerita ini selalu menjadi bahan cerita yang hangat bila diperbincangkan dengan sesama mahasiswa yang seangkatan walaupun cerita ini sudah terjadi 2 sampai 3 tahun yang lalu.

Fase Tengah.
Setiap berjumpa dengan teman-teman sekelas selalu rame, selalu bergerombol dan ternyata angkatan saya (2002) lah yang paling kompak dari semua anggkatan yang saya tau semenjak angkatan kakak kelas saya dari angkatan 2000 hingga angkatan adik kelas saya angkatan 2004. Selalu ada canda dan tawa, sungguh masa yang sangat indah dan pada fase inilah saya mulai dikenalkan dengan kegiatan-kegiatan yang berbau organisasi. Pertama kali ditahun 2002 kami dari Fakultas MIPA mendapatkan juara 2 Deville dalam rangkaian Ultah Univ. Udayana yang sering disebut Dies Natalis. Saya kebetulan ikut berpartisipasi dalam acara deville tersebut, sungguh sangat mendebarkan bisa ikut membawa nama Fak.MIPA ke podium.
Selajutnya masa-masa kuliah berlangsung seperti biasanya, layaknya sewaktu masa SMA dulu. Oh iya saya sempat beberapa kali aktif di kegiatan musik, sempat beberapa kali pentas dan hasilnya selalu kurang maksimal, tapi sungguh menyenangkan mendapat gelar anak band pada saat itu. Foto di bawah ini saya abadikan ketika kami malam sebelumnya pentas di acara Dies Natalis.

Nama band saya waktu itu adalah “Alkali” diambil dari nama senyawa kimia dan sempat juga saya bersama-sama kawan dari fakultas yang berbeda (teknik,sastra) ngeband untuk di pakai pada acara bazar Fak. Sipil kalo tidak salah di tahun 2004 dengan Band??? saya lupa..haha.oh iya namanya “the hurricane”. Nah cerita berlanjut lagi ke masa-masa berorganisasi. Beberapa kali saya sempat ikut berperan dalam beberapa posisi penting dalam kemahasiswaan dan mengikuti event yang bertaraf nasional. Kalo berbicara mengenai organisasi, maka UKM LSOP Teratai Tunjung lah tempat dimana pertama kali saya belajar berorganisasi, sungguh unik perangkat organisasi satu ini, kalo saya boleh katakan bahwa UKM inilah salah satu pembentuk kepribadian saya, tidak terlepas dengan orang-orang di dalamnya yang saya pakai contoh, temasuk rekan kerja saya saat ini (bro Dewa), beliau dulu adalah partner saya di UKM. Saya masih ingat ketika kami berdua bergadang sampai jam 4 pagi untuk menyelesaikan buletin UKM. Pertama kali duduk di kursi kepengurusan adalah pada saat saya dan bro Dewa menjadi “team formatur” untuk UKM. Baru saya menyadari kekurangan sebuah team tanpa leader dan sebuah team tanpa anggota. Serba tidak jelas, memang benar tim dapat belajar, namun jangan salah tim juga bisa menjadi sangat bodoh, karena ketakutan untuk menjadi seorang pimimpin dan menjadi seorang anggota. Akan tetapi ini adalah pelajaran berharga bagi saya di organisasi. Dibawah saya lengketkan foto ketika “team formatur” dibentuk dan foto kedua ketika saya menjadi panitia penerimaan MABA angkatan 2003.

Posisi puncak saya di Organisasi adalah ketika menjabat sebagai ketua HIMAKI (Himpunan Mahasiswa Kimia) Univ. Udayana, karena dari sinilah masa-masa kebangkitan HIMAKI. Hampir 100% agenda kerja kepengurusan saya berjalan dan terlaksana dengan sukses. Pada saat saya menjabat di HIMAKI sempat saya menghadiri RAKER HIMAKI wil.4 Indonesia, bertatap muka dengan mahasiswa luar Bali, kemudian berdebat dan saling bertukar wawasan, benar-benar moment yang berkesan. Disamping pada saat menghadiri Raker tersebut, saya harus rela mengejar bus yang saya tumpangi dari Bali ke Malang, karena ketiduran di kapal, sungguh konyol. Pada awal kepengurusan saya juga sempat diwarnai demo Mahasiswa MIPA terhadap pihak Fakultas yang hendak meniadakan acara yang berbau OSPEK, kami pada saat itu terdiri dari Ketua Himpunan mahasiswa masing-masing jurusan MIPA (KIMIA,BIOLoGI,FISIKA,MATEMATIKA) dan Ketua BPM serta BEM Fak. MIPA sepakat untuk menolak keputusan Dekan MIPA untuk meniadakan OSPEK. Segala upaya telah dilakukan, diplomasi selalu buntu dan pada suatu saat ketika akhir sidang antara Mahasiswa dan pihak Dekan, seorang Dekan nyeletuk untuk membubarkan organisasi mahasiswa di MIPA bila masih saja bandel dan melawan, nah inilah yang menyulut emosi dan semangat untuk mengadakan aksi frontal yakni demo. Segala upaya kami lakukan untuk menyukseskan demo tersebut, salah satu nya adalah melobi seluruh senat mahasiswa yang ada di lingkungan Universitas udayana, alhasil semua mendukung dan siap mengerahkan masa, saya masih ingat pertama kali bertemu saudara Md. Suryawan (teman satu kantor saat ini) ketika beliau masih menjadi ketua senat Fak. teknik. Dan akhirnya disepakati bersama semua komponen Mahasiswa MIPA dan di dukung oleh seluruh senat dari setiap fakultas, maka pada acara Dies ke 42 kami pilih sebagai moment untuk aksi Demo. Namun sebelum aksi ini di lakukan, saya di tunjuk sebagai korlap untuk membuat isue ini selalu hangat di kalangan mahasiswa MIPA. Salah satu yang saya lakukan adalah menempel poster, edaran yang berisi kecaman-kecaman terhadap kebijakan pihak Dekan, sempat sekali saya ajak bro Dewa untuk aksi tersebut, syukurlah dia mau walaupun harus menjelaskan duduk permasalahan yang sedang terjadi dan aksi tempel ini saya lakukan malam hari pada saat tengah malam, sungguh sangat menegangkan, mengendap-endap sambil membawa lem dan poster kemudian menempeli semua tembok kampus MIPA. Dan puncaknya pada acara Dies Natalis ke-42, dibawah saya abadikan ketika saya mengikuti aksi tersebut dan beberapa media yang meliput aksi tersebut.

Akhir dari permasalahan tersebut adalah meja perundingan dan syukurlah tidak ada dampak/efek akademis dari aksi tersebut bagi saya, eh lucunya saya mendapat beasiswa dari pihak Fakultas atas keaktifan di Organisasi. Sungguh aneh memang, kalo saja mereka (pihak Dekan) mengetahui bahwa saya lah yang menempel semua kertas ditembok, mungkin akan lain ceritanya, tapi syukurlah mereka tidak tahu.

Fase Akhir
Ketika sudah mendekati semester 6 saya mulai mengurangi kegiatan oraganisasi saya di lingkungan Fakultas, namun di UKM (tinggkat Universitas) hingga saya menamatkan kuliah di Universitas Udayana saya masih aktif. Saya lebih banyak berkumpul dengan teman-teman seangkatan dan mulai mempersiapkan materi-materi untuk kelulusan nanti seperti skripsi. Dibawah saya cantumkan suasana ketika usai kuliah.

Walaupun saya tidak aktif dan menjabat di kepengurusan HIMAKI namun untuk menjaga kekompakan angkatan saya (2002), maka sempat pula kami mengadakan acara Jalan-jalan ke Bedugul, dibawah bisa diliat fose saya di sisi sebelah kiri atas.

Sempat pula saya mengadakan kemah di danau Buyan, kami berangkat sebanyak 14 orang, dan kami pilih hari-hari setelah UAS untuk acara tersebut, dibawah ini saya abadikan suasana kemah tersebut.

Pada akhir masa kuliah saya lebih banyak berada di Lab Kimia mempersiapkan percobaan dan praktikum untuk bahan skripsi saya. Nah saya rasa cukup sampai disini tulisan ini, hanya sedikit kenangan dan pengalaman yang mampu saya bangkitkan lagi dari ingatan, semoga saja kelak tulisan ini bisa membuat saya tetapmengingat pengalaman-pengalaman yang sudah saya lalui semasa kuliah dulu. Sekian terima kasih.

Advertisements

Posted on 17 October 2008, in Pribadi, Umum. Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. wew…jadi inget masa2 kuliah dulu, apa lagi pas liat foto saat Musang di Aspi itu, jadi kangen rasanya sama Mas Mamat & Mas Sidiq. Sudah lama sekali kami berpisah, moga kalian sukses dan sehat selalu.
    Eh, bro…terus terang aja waktu ikut nempel poster itu aku takut sekali lho…tp demi sahabat, apa sih yang nggak buat Loe….wakakakaka….
    Salluuuutt…pengalaman hidup yang bagus..

  2. “Eh, bro…terus terang aja waktu ikut nempel poster itu aku takut sekali lho”

    :sebenarnya saya juga takut kalo semisal di tangkap satpam, trus di omelin. Tapi saat itu adrenalin seakan-akan mau meledak di kapala, semua takut lenyap, yang ada hanya perasaaan deg-degan..wakaka

  3. Ospek is Suck… Tidak mendidik, cuma pelampiasan senior ke junior. Ada berbagai macam cara yg lebih mendidik untk mengenal kampus dari pd hal yg ga karuan saat ospek….

  4. @Admin St. Dharmakerti,
    :Sesuatu bisa di sikapi dengan kepala dingin bro, hidup selalu ada proses, demikian juga bila kita hendak memasuki jenjang perkuliah, selalu ada saja “ritual” yang namanya “ospek” (entah bagaimanpun bentuknya). Ada benarnya mungkin unsur-unsur balas dendam namun tidak semuanya seperti itu, semua ada sisi negatif dan positif bro, sekarang bagaimana kita menyingkapi dan mengambil manfaat dari itu.

    “Ada berbagai macam cara yg lebih mendidik”

    :benar sekali bro.

    Namun perlu kita sadari bersama, ketika pertama kali di kenalkan dengan dunia kampus, tentunya akan ada hal yang baru dan tidak sama sekali kita peroleh di SMA. OSPEK sebagai salah satu cara bagaimana sesuatu yang baru itu akan di mulai, nilai-nalai pendewasaan diri, pengenalan kepada lingkungan kampus sudah mulai dikenalkan bahkan diberikan. Hanya saja sering terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh pelaksana OSPEK itu sendiri, sebagai contoh kasus STPDN, itu lah penyimpangan sejati terhadap nilai-nilai OSPEK tersebut.

    Menurut saya stigma negatif dari OSPEK harus segera kita hilangkan, jangan sampai “ritual” ini hilang, karena saya sendiri sudah merasakan sendiri bagaimana OSPEK tersebut membentuk mental dan kepribadian saya.

    Sekian terimakasih.

  5. Saya kurang sependapat broo membentuk mental dari ospek, buktinya saya dulu mampir kena sakit jatung waktu malam inagurasi (kita disuruh nginep dikampus, tengah malam dibangunin dg suara gaduh, dibentak, dimaki, disuruh merayap turun dr lantai 4 kampus dg gelap gulita krn la,pu dimatiin n ga tau tujuannya) ada banyak teman saya sampai menangis sambil memanggil ibunya n kpengen pulang. Trus waktu makan disuruh harus habis dalam waktu 3 menit, kalau kesedak n bisa menyebabkan kematian bro… Yg parah teman dr kampus lain sampai disuruh ngemis n ngamen dijalan n harus dapat uang dg pecahan tertentu, disuruh bawa makanan yg aneh2 pula, n dsb. N yg parah di STPDN n skolah kedinasan yg lain yg sangat2 menyimpang… kalau mau membentuk mental mending dg Out Bond, ke gunung, pelatihan militer dg pengasuh orang militer asli, baksos, n supaya tepat dgn tema pengenalan kampus maka harus dibuat program tour kampus, spt mengenal fasilitas kampus, fakultas, gdung retor, lab, n para sesepuh kampus harus ngasi pembekalan…

  6. @Admin St.Dharmakerti

    “Saya kurang sependapat broo membentuk mental dari ospek”

    :tidak masalah bro..

    “dulu mampir kena sakit jatung waktu malam inagurasi “

    :wah masa iya bro, duh kasian,sini om kasi balon..jangan nangis yah. Yah semoga aja gag lah, tapi kalo dari sisi psikologis dan kesehatan, kejutan-kejutan pada jantung sangat baik sekali, apalagi sifatnya tidak permanen, sangat baik untuk kesehatan. Kalo dari teknik pengobatan tradisional (reflexy), pada saat pasien kesakitan pada proses pengobatan maka jantung akan berdetak lebih kencang sama dengan di ospek, sehingga aliran darah menjadi lancar, sehingga badan menjadi sehat. Dan perlu diketahui, penderita-penderita penyakit tertentu sudah di wanti-wanti untuk tidak diikut sertakan atau disarankan membawa obat untuk penyakitnya, itu sudah di antisipasi panitia.

    “kita disuruh nginep dikampus, tengah malam dibangunin dg suara gaduh, dibentak, dimaki, disuruh merayap turun dr lantai 4 kampus dg gelap gulita krn la,pu dimatiin n ga tau tujuannya”

    :masa anda belum tau manfaatnya, ok saya akan kasih tau.
    1. Kita disuruh nginep dikampus :mengajarkan kita untuk mandiri, yang biasanya bobok ma ibuk sekarang akan lebih mandiri.

    2. Tengah malam dibangunin dg suara gaduh: pernah kah anda berfikir ketika anda mengerjakan tugas hingga larut malam, bahkan begadang semalam suntuk, hanya untuk sebuah nilai “A”, tapi malang kadang dapet “C”, nah disinilah pembekalan awal anda. Apalagi anda sebagai mahasiswa Teknik, coba tanya kawan-kawan Teknik kalo mengerjakan tugas.

    3.Dibentak, dimaki = khusus buat anak mami, manja dan cengeng. Kalo iya anda anak mami, tentunya anda akan mengeluh. Inilah pembentukan mental bagi anak mami.

    4.Disuruh merayap turun dr lantai 4 kampus dg gelap gulita krn la,pu dimatiin n ga tau tujuannya
    : kalo merayap lewat tangga masih manusiawi bro, coba kalo tanpa tangga, modar gag tuh. hehe. Anda sebagai calon penerus bangsa, tulang punggung bangsa harus siap dengan segala medan, jangan sampai kita keenakan sebagai kaum muda yang hanya tau menikmati yang sudah ada. Ingat gag bagaimana dulu pahlawan-pahlawan kita merebut kemerdekaan. Ini gag ada bandingannya bro..harus berfikir posiif.

    “ada banyak teman saya sampai menangis sambil memanggil ibunya n kpengen pulang”
    :ini satu bukti anak mami, anda ikut menangis gag?
    “Trus waktu makan disuruh harus habis dalam waktu 3 menit”

    :sangat sederhana, begini. kalo makan saja harus berlama-lama, bagaiman kalo bekerja.hayoo.

    “kalau kesedak n bisa menyebabkan kematian bro”

    :ente makan apa dulu, kalo makan batu ato pasir iya. Tapi ini nasi man, jangan manja dah sama nasi.

    “Yg parah teman dr kampus lain sampai disuruh ngemis n ngamen dijalan n harus dapat uang dg pecahan tertentu, disuruh bawa makanan yg aneh2 pula”

    :banyangkan pengemis yang ngamen dan tukang minta-minta dijalan, mereka malu gag???? kita yang kuliah dan berpendikikan masak malu??? seandainya tiba-tiba bapak anda jatuh miskin, anda pun harus siap dengan kondisi bagaimana pun. Ini fungsinya OSPEK.

    “N yg parah di STPDN n skolah kedinasan yg lain yg sangat2 menyimpang”

    :iya ini sungguh menyimpang.

    “kalau mau membentuk mental mending dg Out Bond, ke gunung, pelatihan militer dg pengasuh orang militer asli”

    :wah jangan sampe deh, ente pasti akan protes lebih keras, dikasi yang enak minta yang gag enak.wakaaka.

    “sesepuh kampus harus ngasi pembekalan…”

    :sepengetahuan saya bro, dalam susunan kepanitian ada yang namanya SC (steering commite) yang biasanya dipilih dari sesepuh mahasiswa tentunya akan memberikan bimbingan dan masukan pada panitia pelaksana dan penanggung jawab adalah DOSEN. Jadi tenang aza bro.

    Ok, ini sangat menarik, sangat menarik. Semoga diskusi ini bermanfaat bagi kita semua.

  7. Yah apapun alasan anda saya tetap ga sependapat broo, setiap orang punya penilaian sendiri…

    1. Kita disuruh nginep dikampus :mengajarkan kita untuk mandiri, yang biasanya bobok ma ibuk sekarang akan lebih mandiri.

    > Sudah dari SD kali kita sudah tidur dikamar sendiri, apalagi menjadi Mahasiswa…

    2. Tengah malam dibangunin dg suara gaduh: pernah kah anda berfikir ketika anda mengerjakan tugas hingga larut malam, bahkan begadang semalam suntuk, hanya untuk sebuah nilai “A”, tapi malang kadang dapet “C”, nah disinilah pembekalan awal anda. Apalagi anda sebagai
    >

    Saya orang IT n merantau ke Sby, dulu saya bikin tugas hampir riap hari tiap Mat. Kul n sudah biasa bergadang pe pagi, tp ngidupun lampu nanpa ada yg membentak dan tidak sambil merayap

    3.Dibentak, dimaki = khusus buat anak mami, manja dan cengeng. Kalo iya anda anak mami, tentunya anda akan mengeluh. Inilah pembentukan mental bagi anak mami.
    >

    Dibentak punya salah gak? opspek bukan akademi militer bung.. kampus itu dunia pendidikan, ga ada senioritas, ga ada komandan to garis komando yg tunduk pada seseorang.

    4.Disuruh merayap turun dr lantai 4 kampus dg gelap gulita krn la,pu dimatiin n ga tau tujuannya
    : kalo merayap lewat tangga masih manusiawi bro, coba kalo tanpa tangga, modar gag tuh. hehe. Anda sebagai calon penerus bangsa, tulang punggung bangsa harus siap dengan segala medan, jangan sampai kita keenakan sebagai kaum muda yang hanya tau menikmati yang sudah ada. Ingat gag bagaimana dulu pahlawan-pahlawan kita merebut kemerdekaan. Ini gag ada bandingannya bro..harus berfikir posiif.
    >

    Kampus bukan Kawah Candradimuka nyiapin prajurit tempur broo, kalo mau menjadi pemuda siap perang jika negara membutuhkan maka lewat wajib militer ato kerjasama dg pihak militer bikin kegiatan pembentukan kesiapan fisik! N Dikampus tempat org blajar men. Juga ada kan unit kegiatan Mhs yg mlatih fisik (bela diri, Gym, Paskibra, dll)

    “ada banyak teman saya sampai menangis sambil memanggil ibunya n kpengen pulang”
    :ini satu bukti anak mami, anda ikut menangis gag?
    >

    Iya Dia perempuan broo… itu tekanan mental men…

    “kalau kesedak n bisa menyebabkan kematian bro”
    :ente makan apa dulu, kalo makan batu ato pasir iya. Tapi ini nasi man, jangan manja dah sama nasi.
    >

    Batu ato pasir orang bego aja tau itu ga bisa dimakan! Wah jangan salah! lihat kondisinya donk, 3menit ngabisin nasi 1 piring dg tekanan nmakannya jadi terburu2, apalagi ada lauk ikan n tulang… dg makanan dijejali masuk perut n jadi susah nafas n bisa ja mati…

    “Yg parah teman dr kampus lain sampai disuruh ngemis n ngamen dijalan n harus dapat uang dg pecahan tertentu, disuruh bawa makanan yg aneh2 pula”
    :banyangkan pengemis yang ngamen dan tukang minta-minta dijalan, mereka malu gag???? kita yang kuliah dan berpendikikan masak malu??? seandainya tiba-tiba bapak anda jatuh miskin, anda pun harus siap dengan kondisi bagaimana pun. Ini fungsinya OSPEK.

    >Sudah daftar di kampus aja bangga, apalagi sudah resmi jdi mahasiswa…. jadi ga perlu sampai ngemis dijalan tuk menguji seseorang bangga menjadi mahasiswa

    “kalau mau membentuk mental mending dg Out Bond, ke gunung, pelatihan militer dg pengasuh orang militer asli
    :wah jangan sampe deh, ente pasti akan protes lebih keras, dikasi yang enak minta yang gag enak.wakaaka.
    >

    Ente kan tadi bilang kpengen pembentukan Mental n jadi pemuda harus tangguh n disegala medan spt para pejuang dulu!

  8. @Admin
    : terima kasih komentarnya, diskusi yang sangat menarik dan mendidik. Seperti komentar saya di awal, tidak apa-apa kalo kita berbeda pendapat, selama wadahnya tepat dan memberikan kita wawasan baru.

    Memang semua yang ada di masyarakat dapat di nilai dari 2 sisi, dan itu sah-sah saja. Sekedar share saja, di lingkungan kampus khusus di Udayana masih ada yang namanya OSPEK, hanya saja mungkin setiap Fakultas punya cara yang khas, selama OSPEK bisa dipertanggung jawabkan, it’s ok bro.

    Kalo ditempat bro Admin mungkin caranya berbeda, yah wajar mungkin tidak setuju dan itu sangat sah, apalagi kekerasan seperti IPDN, saya pun tidak setuju yang seperti itu.

    Btw terima kasih komentnya.

  9. walah! Debat seru tentang OPSPEK bro ae? hahaha… gpp! Ga semua setuju kok sama OPSPEK2an! Saya juga benci sama OPSPEK2 yang ga punya tujuan yang jelas!

    kalo dulu di FT sih udah jelas tujuannya! hahaha… membentuk pasukan yang militan! Huahahaha… ga2.. bcanda2… tujuannya ada di Juklak Juknis kegiatan! Engsap puk! hehehe…

    Demo MIPA? yeh! milu ae? walah! pantes asane taen tingal dija keto… hehehe… Btw, sukses to demo ne! Pdahal cuman ketua2 ne gen waktu to! heeheheheh..

    Jadi inget dulu masa2 kuliah puk! hehehe.. mantaps bro tulisannya!

  10. eh, btw…

    @Admin: walah kayaknya itu yang ga beres kampus anda deh! hehehe…

  11. @imsuryawan
    :oi bro, semua ada dasar pemikiran yang jelas so pasti berbeda itu indah.

    Ya lah bro, kalo OSPEK cuma sebagai ajang balas dendam dan ajang hura-hura trus biar dianggap senior dan cari perhatian ma MABA, buat apa juga sampai-sampai ada demo di MIPA, bukankah kosekuensi dari demo itu sangat fatal. Kita berani ambil resiko, karena memang ada tujuannya di adakan OSPEK itu. Hanya saja terlalu banyak kepala, otomatis banyak pula pendapat maupun pandangan tentang keberadaan OSPEK itu sendiri.

    Ugus Demo rage bareng-bareng masih, pang kuala bareng, mumpung kone madang Mahasiswa. Tapi syukurlah ada dukungan dari semeton Teknik masih. Kalo diliat dari hasil sekarang, Demo nya masih kurang ditindak lanjut dari kawan-kawan di MIPA, bukanne engken, timpale liunan berani ngemeng doen, coba ajak bertindak konyangan kelad-keled dan alasannya macam-macam. wakaka..tapi itu sudah tinggal jadi tulisan aza sekarang.

    Btw, tnx udah berkunjung.

  12. yanna afriliyana

    menurut aku OSPEK itu gag ada guna sama sekali, selagi kite bisa bayar uang kuliah,,kuliah tetap jalan tanpa perlu ospek,,oiya,,yg disuruh ngemis itu,,ketrlaluan amad. kalo kita emang lagi bangkrut,Apa harus ngemis,,gw waktu kuliah tingkat 2.mengalami bangkrut ortu gw,tapi gw gag ngemis apalagi jual diri tuh,gw malah kerja di restoreant jam 4 sore mpe jam 10. OSPEK tuh harusnya dibubarkan ajah,gag guna sama sekali, banyak orang gag kuliah,gag ospek,tapi masa depanna cemerlang, udah gag usah ngeles deh lo,lo cuma sakit hati ajah dolo di tololin senior ikut ospek, kalo gentelman,lo balas senior lo,jgn ke junior,dudulz lo

    Sige said
    Alo Yanaa, selamat datang di Blog saya.
    Menarik komentar anda,sedikit saya timpali.

    Orientasi dan Pengenalan kampus atau OSPEK memang dari jaman dahulu selalu dicirikan dengan hal-hal yang konon dikatakan tidak berguna dan barbau kekerasan tidak menutup mata dan telinga memang ada yang seperti itu, namun sekarang waktunya untuk dibenahi.

    Kegiatan OSPEK memiliki garis besar yang sama untuk setiap kampus walaupun dalam pelaksanaan OSPEK itu tidak sama, itu bukan masalah. Namun kemudian masalah menjadi muncul ketika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rasa kemanusiaan itu di berlakukan dalam OSPEK dan itu patut untuk dihapus, sejauh ini saya sependapat.

    Akan tetapi pengenalan secara umum kehidupan kampus kepada mahasiswa/i baru itu saya perlu, tentu saja bukan dengan cara-cara yang tidak berkeperikemanusiaan.

    Mengenai pengalaman pribadi Yana itu sangat pribadi dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan OSPEK, mengenai ortu bangkrut ama OSPEK kan tidak bertalian sama sekali, dan mengenai lo musti kerja untuk menghidupi kuliah lo hal itu wajar banget lah..kalo lo sampai ndak berusaha untuk itu maka lo yang gw pertanyaakan.

    Akhir komentar Yana mengatakan ada balas dendam segala, saya sih tidak mengharapkan ada balas dendam segala dalam OSPEK, baik kepada senior maupun junior. Yang terpentiing saya kira sekarang adalah bagaimana merangkai acara yang berbau OSPEK dengan hal-hal yang positif, tidak lagi dengan kekerasan.

    Trims Yana

  13. jempol untuk admin.. (y) terlihat anda sungguh mengilhami dan mengerti makna ospek itu sendiri. saya yang baru mulai ospek jd semangat nih n pemikiran buruk saya jd ilang , saya baru ngerti sisi positifnya.. 😀

  14. admin yang saya maksud admin yang nulis crita ya, sma @Sige

    • Hi Sinta, selmat datang di Rumah kedua and salam kenal juga, semangat yah mengikuti Ospek, nikmati smua sebagai pengalaman yang berharga…

  15. Mantab gan … masa-masa pendewasaan yang sempat di abadikan … 😀

  1. Pingback: Etika dan kedewasaan dalam ‘berproses’ kerja « I GEDE NURHADI Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: