UANG bisa menjadi tolak ukur nilai moral manusia.

Pada saat rapat Banjar beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan oleh kejadian yang terjadi pada saat rapat tersebut. Inilah kejadian sangat memalukan yang dilakukan oleh seorang bape kelihan Dinas Banjar, benar-benar suatu aib, benar-benar pencemaran nama baik Banjar. Bagaimana tidak, seorang kelihan dinas telah membuat sandiwara untuk mendapatkan dana bantuan dari pemerintah sebesar 40 juta rupiah, dengan meminjam nama salah satu kelompok ternak di Banjar saya, setelah dana tersebut cair, kemudia dana tersebut dinikmati bersama beberapa kawan yang katanya ikut serta mencairkan dana tersebut. Sedangkan warga Banjar kelompok ternak tersebut tidak mendapat sepeser pun, selain hutang yang kemudian muncul dikarenakan bantuan dana tersebut bukanlah gratis namun adalah pinjaman lunak untuk kelompok-kelompok ternak.

Berita ini pun segera menjadi gunjingan warga Banjar, saya sebagai warga Banjar merasa sangat malu, sangat tidak bisa terima dengan perbuatan-perbuatan semacam ini. Sehingga penghakiman saya pun muncul dengan pertanyaan-pertanyaan yang tergamblang di benak saya.

Korupsi kah ini? Kalau saya lihat dari kaca mata hukum saya, ini adalah suatu korupsi dikarenakan oknum ini tidak seharusnya mengambil keuntungan dari tugas dan kewajiban yang memang sudah menjadi tugasnya, apalagi uang dari Negara/pemerintah yang semestinya di peruntukkan untuk masyarakat kecil. Dan pada saat rapat, oknum kelihan Banjar ini terang-terangan mengatakan dia ikut meluluskan rencana pencairan dana tersebut dengan motif “supaya kebagian”. Sungguh sangat ironis, cukup membuat saya geleng-geleng kepala dan mengerutkan alis.

Penipuan kah ini?  Sangat lah jelas bagi saya ini adalah suatu penipuan, bagaimana tidak, dia dengan telah sengaja menipu Negara dalam hal ini pemerintah sebagai peyelenggara Negara, dengan berpura-pura mengajukan permohonan bantuan untuk di gunakan oleh warga masyarat dalam hal ini kelompok ternak. Saya yakin pada saat mengajukan permohonan dana tersebut pastilah ada proposal, pasti suatu kebohongan besar yang dia tulis dalam proposal tersebut, sehingga dana tersebut cair. Para peternak tersebut merasa dirugikan dan ditipu, bagaimana tidak, mereka tidak mengetahui perihal adanya dana dan pencairan dana tersebut. Peternak mengetahui berita ini dikarenakan ada surat permintaan dari pihak terkait untuk membayarkan kewajiban yang harus dilakukan dari pinjaman lunak tersebut.

Ternyata selama ini orang yang saya hormati sebagai kelihan dinas hanyalah sampah, sampah yang berbau busuk dan bagaimana kelanjutan kasus ini masih belum bisa saya prediksi, apakah akan dilanjutkan ke jalur hukum untuk di selesaikan secara pidana ataukah akan dibiarkan saja. Dari kejadian memalukan ini saya sedikit menyadari bawasannya UANG bisa menjadi tolak ukur moral manusia. Sungguh sangat disayangkan.

Advertisements

Posted on 8 September 2008, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 13 Comments.

  1. wah-wah….ck..ck..ck…ini benar2 memalukan…bagaimana bisa Indonesia menjadi negara maju kalau korupsinya sudah sedemikian kuatnya, bukan hanya di instansi-instansi besar saja, bahkan sekarang di lingkup kecil saja sudah terjadi. Ini pasti tidak terjadi disana saja, ini adalah indikasi bahwa di daerah2 lain pasti ada juga kasus korupsi di tingkat bawah spt ini. kalau sudah begini, kita harus lebih waspada. Kejahatan timbul bukan saja karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan, maka waspadalah…waspadalah….wakakakak….

  2. Itulah manusia Bli. Tidak menyalahkan juga, karena Bali yg katanya kaya…(dari pariwisata) namun kenyataannya di pelosok masih banyak penduduk yang miskin, sampai ada yang berebut air malah. Jangankan 40 juta, uang 20 ribu saja bis bikin ribut he..he… Di desa saya tanah negara juga dijual ke investor asing, sampai menimbulkan konflik dan Bupati turun tangan. Masyarakat yang (maaf) berpendidikan rendah hanya bisa pasrah. Untung saja ada tokoh2 yng ngerti masalah itu. Damn.

  3. wew…..
    hmmm kyknya bkn hanya di Bali yg seperti itu
    di Indonesia ini sepertinya hal2 yang seperti itu sudah dijadikan perilaku yang mendarah daging…
    susah sekali dihilangkan.
    Kapan Indonesia ini berubah ya……..
    hmmm……

  4. Masalah Korupsi…that’s cool
    Mari kita cermati awal kata korupsi. Mungkin korupsi sudah ada sejak dimulainya awal EYD (Ejaan yang disempurnakan) bahkan mungkin sebelumnya, namun bangsa Indonesia (umum) baru akrab dengan kata-kata ini sejak tahun 1998. Begitu juga dengan kata-kata Demo. Dulunya hampir sama sekali saya tidak pernah denger istilah seperti ini (waktu masih kecil), meskipun “praktek”nya sudah sejak dari jaman kerajaan kita dulu. Sebenarnya (menurut saya) di dalam setiap diri manusia sudah terdapat bibit korupsi. Bibit ini, oleh orang sosiolog, disebut “Ego”, bahkan lebih dalam lagi “Super Ego”, namun untuk kasus “Super Ego” masih sangat jarang ditemukan di Indonesia. Maklum negara kita adalah negara yang pemalu dalam mengekspresikan segala sesuatu. “Ego” bisa berbentuk dalam banyak hal, misalnya : Korupsi, Membunuh, Sirik (yg paling sering), berdebat, Kepemimpinan, dll. “Ego” jika diarahkan dengan baik dan benar, maka akan berpotensi mengembangkan bangsa ini, namun jika salah arah maka bisa merusak. Jangan pernah kaget dengan berbagai masalah yang akan datang di depan kita, di negara-negara lain sudah berjubel kejadian seperti itu.
    Dalam kasus ini, sebenarnya (mungkin) Bli Hadi kaget dengan tindakan “korupsi” karena Subjek pelakunya. Begitulah kita selalu. Kita akan sangat kaget dan “mengecam keras” jika tindakan pemerkosaan dilakukan oleh seorang Pemimpin Agama, Pemimpin Negara, Kepala Sekolah, dll, namun jika tindakan itu dilakukan oleh orang biasa, kita “tidak terlalu terkejut”.
    Saya mencoba untuk melihat setiap masalah dengan “sedikit objektif”, baik pelakunya siapa saja, bagi saya sama saja. Kita tidak perlu kaget. Dalam kepercayaan saya, ada pemimpin agama yang melakukan tindakan pemerkosaan (bagi saya ini lebih dari sekedar korupsi, tetapi mencabik-cabik harga diri seorang wanita), namun saya melihat ini sebagai kasus sosial, bahkan di luar negeri ini sangat sering terjadi.
    Wah…udah kepanjangan…karena ini bukan seminar, tapi cuma komentar, maka saya hentikan saja pembahasannya. (Saya takut, mungkin penulis artikelnya juga takut, jika tulisan saya lebih panjang dari artikel yang dikomentari, kan yang punya artikel jadi minder). Wakakakakakak…..don’t take it personal….

    ***
    Aku adalah manusia biasa, tak lebih dari sekedar debu, namun aku juga bisa jadi keramik Cina, yang harganya bisa Miliaran rupiah, Jika seorang Perajin Keramik yang sangat Ahli datang mencariku.
    ***

  5. Tolong bilang yah BLI…jika ada yang mengutip “kata-kata bijakku” itu…tolong dicantumkan
    tanda ini :
    “@danny_herm160920081848”

  6. Menarik sekali memang bro, saya pun menyadari memang dalam diri saya dan siapapun, ada yang namanya bibit korupsi, namun itu bukanlah menjadi alasan kita bahwa korupsi itu wajar untuk dilakukan dan menjadi kebenaran publik untuk terjadi.

    “sebenarnya (mungkin) Bli Hadi kaget dengan tindakan “korupsi” karena Subjek pelakunya”, petikan ini seratus persen benar bro, dalam masyarakat majemuk yang serba beraneka ragam akan banyak sekali kita jumpai perbedaan dalam segala hal, dan terkadang keberagaman kepentingan tersebut menimbulkan konflik, nah inilah salah satu dasar pemikiran ada nya figur di masyarakat yang nantinya dapat mengayomi kita, figur tidak hanya dalam
    kematangan berfirkir namun juga kematangan dalam bertindak. Nah, yang sangat saya sayangkan figur yang seharusnya memiliki kematangan tersebut malah tiba-tiba premature dan malah berkorupsi ria, ini sangat disayangkan.

    “namun jika tindakan itu dilakukan oleh orang biasa, kita “tidak terlalu terkejut” mungkin saya kurang sependapat dengan istilah “tidak terlalu terkejut”, karena saya pun selalu berusaha menilai diri saya dan orang lain se objectif mungkin.

    “Dalam kepercayaan saya, ada pemimpin agama yang melakukan tindakan pemerkosaan (bagi saya ini lebih dari sekedar korupsi, tetapi mencabik-cabik harga diri seorang wanita), namun saya melihat ini sebagai kasus sosial, bahkan di luar negeri ini sangat sering terjadi.”, kalo berbicara mengenai kepercayaan saya tidak terlalu mempersalahkan,namun contoh yang anda buat bukanlah masalah dikaitkan dengan kepercayaan namun lebih kepada masalah harga sebuah diri manusia bila dilanggar maka ada sangsi hukum. Pemerkosaan bukanlah suatu tidak bisa disamakan dengan kasusu korupsi walupun anda mengatakan dalam pandangan anda.

    saya kutip lagi sekali pernyataan anda “Dalam kepercayaan saya, ada pemimpin agama yang melakukan tindakan pemerkosaan namun saya melihat ini sebagai kasus sosial, bahkan di luar negeri ini sangat sering terjadi.”, wah ini mungkin pengetahuan saya yang kurang, namun sepengetahuan saya, pemerkosaan bukanlah kasus sosial namun ke kasus hukum tindak pidana, karena bila saja kasus pemerkosaan tersebut merupakan kasus sosial maka sangsi nya tidaklah lebih dari sangsi moral. Namun pemerkosaan yang dilakukan oleh siapa saja apalagi seorang figur dalam agama anda, ini adalah kasus pidana dan harus dihukum sesuai ketentuan dalam UUD, bukan dengan sangsi sosial yang terkait dengan norma dan kebiasaan di luar negeri tidak selalu kita pakai pantokan untuk nanti nya menjadi biasa di negeri kita. Mohon dicermati, bila saya keliru menanggapi saya tunggu komentar anda.

  7. “Uang bukan segalanya Tapi Segalanya butuh Uang. Jika udah membahas duit mata jadi hijau, persetan segalanya, yg penting happy…” Mungkin spt itu keadaan masyarakat kita sekarang, lihatlah bali sekarang hancur karena keserakahan manusia akan namanya Uang….

  8. @St. Dharmakerti
    : Tidak meleset yang bro bilang, dan mungkin inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang, semoga saja kita bisa menghindarkan hal-hal yang negatif dari uang, walaupun tidak bisa 100% akan tetapi setidaknya kita bisa waspada bawasannya uang juga bisa membawa malapetaka.

    Jabat hangat.

  9. : Dengan adanya kejadian tersebut,saya khawatir bagaimana keadaan Indonesia tanpa adanya KPK.Karena sudah banyak pejabat yang mengatasnamakan warganya untuk mendapatkan dana dari pemerintah,padahal gajinya sudah besar,apakah pejabat sekarang jadi serakah??,bagaimana agar kinerja KPK dalam mengatasi pejabat amoral bisa maksimal???,semuanya berkaitan dengan moral kita sendiri,harus dijaga dengan iman dan di kembangkan dengan ilmu agar terhindar dari bujukan setan

    Sige said
    Alow Pak Agung, iya apa jadinya kalo gag ada KPK di Indonesia, bakal tambah bobrok negeri ini. Harapan kita bersama semoga kita semua terhindar dari bujukan si setan.
    tnx komentnya

  10. KORUPSI itu boleh, sah-sah saja, bila itu korupsi uang sendiri, apalagi untuk mnyembunyikannya dari pasangan anda hehehe…

    KORUPSI itu boleh klo ngga ada yang tahu dan jadi DILARANG kalo ada yang tahu wakakaka….

    Sebenernya budaya korupsi itu sudah bukan lagi mendarah daging tapi sudah menjadi tulang, organ tubuh dan gen hehe.. contohnya bila yang sudah bekerja mungkin lebih paham betapa gampangnya suatu korupsi itu dilakukan.

    Apalagi dengan posisi saya sekarang, dengan sangat amat gampang untuk melakukan hal tersebut hanya saja bukan munafik atau sok, jujur pernah saya mencoba tapi perasaan kok jadi ga karuan hingga akhirnya saya kembalikan ketempatnya yang punya.

    Bila kita masih melihat ke “atas” langit itu masih jauh, memaksakan diri untuk menggapainya salah-salah malah terjatuh. Akan lebih baik coba lihat ke “bawah” dan syukurilah, karena bila anda berjalan hanya melihat ke atas itu akan membuat anda terperosok lebih ke “bawah” lagi

    Sige said
    Yah syukurlah Bli kembalikan, kalo tidak!! yah tidak apa-apa.wakaka.
    Saya berani membenarkan bawasannya di jaman serba susah ini kita harus rajin-rajin bersyukur, kalo tidak! namanya “pengen” itu selalu minta untuk dipenuhi, dan budaya konsumtif akan merajalela, okelah kalo uang kita cukup, tapi kalo taraf hidup kita menengah kebawah trus dibarengi dengan gaya hidup yang royal, maka tidak menutup kemungkinan korupsi bisa ada dimana-mana, termasuk korupsi ma bini sendiri, wekeke.
    ok tnx.

  11. Nur ada AWARD untuk blognya Nur
    serah terimanya di rumah ya

    Sige said
    Wataoo..cool man, kalo dulu jaman SMP ada yang namanya surat berantai, trus jaman nya HP ada SMS berantai, trus jaman nya e-Mail ada e-Mail berantai, trus di jaman Blog ada Blog berantai. Awesome bli, i’ll folow the rules. Btw, tnx for nice comment for my blog, is a honor to me.

  12. Ya memang belakangan ini ada semboyan sering pernah saya Dengar “Uang adalah segala-galanya” ya dalam benakku juga sependapat apa yang ditulis bli Nur.. setuju sekali.. bukan cuma itu kadang dalam kasus peradilan dan hukum bisa kita lihat penganan kasus yang punya uang banyak dan yang tidak prosesnya jauh beda (exp: Pencuri ayam-kambing langsung ditangkap, kl gak di dor di tempat, tapi kalau pejabat tinggi korupsi padahal nilainya lebih tinggi kok gak di dor aja..???) 😦

    Sige said
    Yah begitulah moral bangsa kita bro, bobrok. Tapi jangan khawatir mengenai pejabat-pejabat yang suka korupsi sudah ditangani dengan baik oleh KPK. Dan kita wajib melakukan kontrol sosial. tnx

  13. Loh klo di dor sapa yang ngasi duit? ken-ken Dewa?
    Eh blognya si Dewa Item kok diblokir ya?

    Sige said
    Itu karena ada kontent bisnis bli, makanya di blok. Itu ada lagi satu roll di blog saya ke blog nya dewa wijay.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: