Penjor dan sebentuk senyuman.

Seperti 6 bulan yang lalu, pagi ini dimulai dengan teriakan adik saya yang  paling bontot, padahal mata kelopak mata rasanya masih saling menghimpit satu sama lainnya, tapi begitulah, desakan dengan semangat yang menggebu-gebunya membuat saya akhirnya memutuskan untuk segera mengakhiri nyenyaknya bantal dan hangatnya selimut. Beberapa hari lagi kami akan merayakan hari Raya Galungan, Ibu dan nenek sudah dari beberapa hari yang lalu mulai sibuk menyiapakan segala perlengkapan upacara untuk menyambut Hari raya. Tak kalah dengan adik saya, dia pun sudah ikut-ikutan sibuk merencanakan Penjor yang akan segera kami buat. Karena sehari sebelum Hari Raya Galungan saya masuk kantor, maka 2 hari menjelang perayaan saya sudah merencanakan segala sesuatu yang biasanya saya persiapkan untuk menyambut hari Raya.

Bambu, padi, tali-temali dari bambu, pucuk enau atau sering disebut dengan istilah ambu, kemudian ada kelapa, dan beberapa hasil bumi lainnya yang sudah tersedia untuk segera di ramu menjadi sebuah penjor yang indah. Tampak wajah adik berseri-seri sambil sesekali bernyanyi-nyanyi tidak karuan karena kegirangan membuat penjor.
Saking sibuknya tanpa terasa hari sudah menunjukkan pukul 12 siang, penjor pun masih setengah jadi dan saya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Adik sepertinya masih keasyikan dengan penjornya, walaupun dia hanya membantu mengambilkan perlengkapan-perlengkapan dan tukang komentar yang handal, seakan-akan dialah yang membuat penjor itu.hehehe,dasar anak kecil, sambil memuji-muji penjor yang baru saja kami buat, dia berlari-lari kecil menghampiri ibu yang sedang sibuk membuat banten, menceritakan kesibukannya selama membuat penjor.


Menjelang sore setelah beristirahat, saya dan adik melanjutkan membuat penjor, dan hampir 1 jam kami berkutat dan akhirnya penjor pun jadi. Perasaan menjadi lega karena tugas rutin saya setiap menyambut Galungan yakni membuat penjor telah terselesaikan dan adik lah yang paling bahagia saya liat, komentar-komentar memuji selalu saja terlontar dari mulut kecilnya memuji penjor yang baru saja kami buat, hingga dia merengek-rengek minta difoto di depan penjor yang kami buat. Penjor merupakan hiasan yang terbuat dari bambu yang dihiasi oleh anyaman daun kelapa/enau, padi, kelapa, umbi-umbian, jajanan, pisang dan sanggah tempat menghaturkan sesaji. Makna penjor secara tersurat merupakan perwujudan rasa syukur yang kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, dimana penjor ini menyimbulkan naga Basuki yang berstana di Gununng Agung, yang tak lain merupakan simbolik kemakmuran. Namun, bagi saya makna dari penjor tersebut sangat dalam karena, sungguh sangat bahagia saya bisa membuat adik saya tersenyum, ikut berpeluh menyiapakan penjor sebagai sarana Yadnya/upacara menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai ungkapan syukur teramat kehadapan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi.

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Advertisements

Posted on 19 August 2008, in Budaya, Umum. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: