Sehat adalah tempat sampah

Hidup sehat adalah dambaan setiap orang, segala upaya pun dilakukan agar senantiasa badan dalam keadaan sehat. Mulai dari olah raga teratur, menjaga pola hidup terutama pola makan, pola berfikir yang positif dan tak kalah penting adalah menjaga kebersihan. Kebersihan yang saya maksudkan pun masih teramat luas ruang lingkupnya, bisa saja kebersihan badan, lingkungan maupun kebersihan pikiran. Pada tulisan singkat ini saya ingin mengangkat sedikit dari masalah kebersihan lingkungan yang sangat erat pengaruhnya terhadap kesehatan badan kita.

Sering sekali kita lupa atau bahkan acuh terhadap kebersihan lingkungan kita, contoh sederhana saja, sehabis makan yang berkulit atau memakai bungkus, baik organik maupun anorganik, kita membuangnya tidak pada tempatnya. Nah inilah salah satu indikator mengapa kebersihan linkungan kita menjadi memiliki peranan teramat penting dan memiliki proporsi khusus dalam upaya menjaga kesehatan. Bagaimana tidak, sampah-sampah yang berserakan tidak hanya membuat estetika yang tidak baik, namun juga sangat berpotensi menimbulkan bibit-bibit penyakit yang disebakan oleh mikroorganisme seperti bakteri maupun virus yang mungkin dibawa oleh lalat yang sangat menyukai sampah-sampah berserakan. Penyakit-penyakit yang mungkin disebakan oleh kotornya lingkungan seperti diare, tipes, deman berdarah, malaria dan banyak lagi yang lainnya yang notabene sangat berbahaya.

Namun semua penyakit-penyakit tersebut sebenarnya dapat kita cegah dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan menjaga kebersihan linkungan. Upaya sederhana dalam membersihkan lingkungan adalah belajar membuang sampah pada tempatnya. Membuang sampah pada tempatnya sangat mungkin menjadi sesuatu yang teramat sulit untuk dilakukan, bila kita tidak pernah mau belajar untuk menjaga kebersihan. Dengan belajar membuang sampah pada tempatnya, tidak hanya akan berdampak pada upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga akan menjadi sarana pembelajaran yang baik untuk hidup berdisiplin disamping kesehatan yang akan terjamin bila lingkungan sudah bersih.

Mulailah dari diri kita dahulu untuk senantiasa memanfaatkan tempat sampah sebagai tempat yang paling tepat untuk meletakkan sampah-sampah yang kita hasilkan, sehingga badan kita senantiasa terjaga kesehatannya.

Advertisements

Posted on 12 May 2008, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Mungkin karena sudah menjadi budaya di Indonesia membuang sampah tidak pada tempatnya, ataukah karena rakyat Indonesia terlalu miskin baik miskin materi maupun mentalnya. Kalau dibilang miskin materi bisa juga sih…karena di jaman sekarang mana ada yang gratis. Buang sampah aja bayar kan biasanya…(sampah rumah tangga maksudnya). Jadi karena tidak punya uang untuk membayar biaya kebersihan, makanya sampahnya dibuang sembarangan.,ya di selokan lah..di sungai lah..ya ujung-ujungnya semua jadi susah. Ketika musim hujan tiba, selokan dan kali pada mampet, air meluap ke jalan-jalan…banjir dech..
    Kalau miskin mental, ya itu…mungkin karena dari kecil masyarakat kita (terutama yng kurang beruntung memperoleh pendidikan) tidak ada yang mendidik untuk membuang sampah pada tempatnya, makanya sesudah mereka besar kebiasaan itu terbawa terus. Karena yang sudah besar saja membuang sampahnya sembarangan, makanya dijadikan contoh oleh anak-anak yang melihatnya…ya diikutilah oleh mereka…dan begitu seterusnya seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya..
    Perlu waktu dan kesadaran dari semua pihak untuk merubah budaya jelek tersebut. Dan itu semua pasti akan bisa lebih berhasil jika kita berani menerapkan aturan yang lebih tegas untuk mencegah pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya. Mungkin dengan penerapan denda atau apa lah itu, dengan catatan pihak yang menagani itu harus benar-benar konsekuen dan transparan dalam pengelolaannya, sehingga tidak menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat yang pada akhirnya justru malah membuat masyarakat mengacuhkan aturan tersebut.

  2. @Dewak
    : bused dah, koment nya kayak postingan aza,panjang.hehe.komentar mengomentari komentar.hehe.
    “…karena di jaman sekarang mana ada yang gratis.”
    : gag juga boss, ini keliru banyak ko yang bisa digratisin sekarang,semisal freware untuk komputer, kemudian literature yang bisa kita don lot gratis di internet.

    “Kalau miskin mental, ya itu…mungkin karena dari kecil masyarakat kita (terutama yng kurang beruntung memperoleh pendidikan) tidak ada yang mendidik untuk membuang sampah pada tempatnya,”
    :miskin mental? menarik juga istilahnya. Kalo kita ciutkan sedkit permasalahannya, kita berbicara lingkup di Bali dulu. Seharusnya tidak ada istilah “miskin mental” dengan konteks diatas, karena konsep “palemahan” tri hita karana sangat kuat di Bali. Tidak hanya manusia yang pake “kain”,pohon-pohon juga banyak pake “kain”.hehe.Bila kita lihat dari segi logika dengan sedikit mengenyampingkan folofi nya, sangat jelas itu adalah upaya pelestarian lingkungan. Nah dengan konsep seperti itu, harusnya “miskin mental” itu tidak ada, mungkin lebih tepat bila dikatakan “miskin pengertian/pemahaman”.

  3. lanjutan diatas…
    “Perlu waktu dan kesadaran dari semua pihak untuk merubah budaya jelek tersebut. Dan itu semua pasti akan bisa lebih berhasil jika kita berani menerapkan aturan yang lebih tegas untuk mencegah pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya.”
    : sangat setuju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: