Bangsa bermulut besar.

Ini adalah kesekian kalinya saya gelisah melihat kenyataan yang saya jumpai disekitar saya. Setiap saya melintas di jalan raya kuta, ada pemandangan yang mengiris hati. Di sepanjang jalan yang penuh akan keglamoran dari salah satu pusat wisata dunia (Kuta), ternyata menyisihkan perih bagi saudara-saudara yang harus iklas menjalani hidup nya dengan cara mengemis. 

 Hingar bingar lampu serta menterengnya sang penghuninya maupun yang hanya sekedar melintas di Kuta sana, dan satu pemandangan yang tak akan pernah luput dari mata adalah sekumpulan gepeng (gembelan pengemis) yang ikut membuat suasana kuta menjadi sedikit berbeda. Wajah yang lusuh seakan-akan mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling sengsara di dunia, kakinya bertelanjang yang seakan mengatakan bahwa hanya mereka yang paling miskin di dunia hingga untuk membeli alas kaki saja adalah sebuah khayalan. Ibu-ibu dengan anak-anak mereka yang masih bayi pun harus ikut merasakan perjuangan untuk segenggam beras dan seteguk air.  

Ketika lampu jalan menunjukan warna merah, ini berati jam kerja dimulai, berlari kecil anak-anak gepeng sambil mebawa bayi yang masih berumuran minggu. Setiap pemakai jalan mulai dari berkendaraan motor hingga sepeda mereka jambangi untuk receh-receh untuk di pakai membeli makan. Tak peduli lampu jalan akan segera berubah warna menjadi hijau, mereka dengan asyik nya menelusuk antara pengguna jalan, tangan-tangan mereka, wajah-wajah mereka, mulut-mulut mereka, canda-canda mereka, sungguh sangat membuat saya sedih, sedih bukan karena melihat mereka seperti itu, namun sedih karena saya hanya bisa melihat kemudian berkomentar sesuai suasana hati pada saat itu, dan tidak ada satupun yang bisa saya lukan untuk mereka, selain logam 100 atau 500 yang kadang saya titipkan buat mereka.  

Karena saya sudah tidak tahan melihat keadaan itu, saya sempat melayangkan e-mail kepada Dinas Sosial Kota Madya Denpasar. Saya sampaikan uneg-uneg saya dalam bentuk tulisan dan bahkan saya tawarkan diri sekiranya ada yang saya bisa lakukan untuk membantu. Hampir 2 bulan baru ada balasan, dan isi e-mail tersebut secara implisit mengatakan bahwa mereka (dinas sosial) tidak bertanggung jawab untuk melakukan penertiban atau pun lokalisasi, karena sudah dilimpahkan kepada LSM. Dalam hati saya sempat berfikir, apakah saya alamat mengirim e-mail? Mengapa tidak ada jawaban dari pertanyaan saya mengenai gepeng-gepeng tersebut, malah yang ada malah pelemparan masalah. 

Keadaan sempat berubah sebentar saja ketika ada konferensi tingkat International di Bali. Jalanan lebih bersih dari sebelumnya, gepeng-gepeng pun entah kemana. Saya berharap semoga keadaan ini dapat berlangsung lama, eh taunya setelah konferensi tersebut usai, gepeng-gepeng lagi berhamburan di setiap lampu-lampu jalan di Kuta. Ternyata dari kejadian-kejadan tersebut saya merasa bahwa negara dalam hal ini perangkat-perangkat dari pemerintahan tidak mau ambil pusing dengan kejadian itu dan cenderung melempar permasalah tersebut. Sehingga saya terkadang menghakimi diri saya, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang bermulut besar karena dengan bangga menuliskan kata-kata manis dalam pembukaan undang-undang dasarnya yang isinya “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” tapi kenyataan nya adalah nol besar alias nul

Advertisements

Posted on 3 April 2008, in Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. SEtuju!!!!!

    Mereka yg berpangkat cm jago jilat…….
    n Jago NGeliat*****

    Sekarang mah orang yg peduli ma fakir miskin dah langka ge…..Makanya perlu dilestarikan…..

    Laen ma perangkat pemerintahan yg cuek bebek ma fakir miskin teh emang perlu dilangkakan…!!!!!Dibasmi sekalian!!!Betul????

  2. Sebenarnya kepedulian saja tidaklah cukup gek, namun tindakan kongkritlah yang sangat diperlukan. Untuk apalah kita selalu berdebat mengenai agama, politik, sosial dan budaya kalau kita tidak peka terhadap diri kita dan lingkungan kita disekitar. Bukankah mereka juga manusia seperti kita? semoga nanti ada wadah kita bisa membantu kawan-kawan kita yang kurang beruntung seperti gepeng, tentunya selain pajak yang kita selalu bayar tiap tahun yang kemudian di korupsi oleh oknum-oknum tertentu di pemerintahan.
    Mungkin tindakan kongkrit saat ini hanya nitip 100-500 rupiah untuk gepeng-gepeng tersebut.

  3. “Hampir 2 bulan baru ada balasan, dan isi e-mail tersebut secara implisit mengatakan bahwa mereka (dinas sosial) tidak bertanggung jawab untuk melakukan penertiban atau pun lokalisasi, karena sudah dilimpahkan kepada LSM.”

    Lah, sejak kapan tanggung jawab ini dilimpahkan ke LSM? Lha Dinas Sosial kerjanya apa dong? Ongkang-ongkang kaki?

    Fakir miskin & anak terlantar dipelihara oleh negara.
    Bukan LSM…..

    LSM berfungsi “mengingatkan” pemerintah, bukan ngerjain yg harusnya dikerjain pemerintah.

    Piye tho….

    *geleng2kepala,dinassosialygajaib*

  4. @Tari
    “Lah, sejak kapan tanggung jawab ini dilimpahkan ke LSM? Lha Dinas Sosial kerjanya apa dong? Ongkang-ongkang kaki?”
    : nah ini dia, saya juga tidak tau kapan, tapi yang jelas saya baru tahun kalo dinas sosial di denpasar sibuk banget, sehingga ada pendelegasian tugas ke LSM.

  5. Masalah kemiskinan lagi..memang sebenarnya sangat kasihan melihat mereka harus mengemis dijalanan, tp saya lebih kasihan karena mereka rela mengorbankan harga dirinya dengan cara mengemis. Padahal mereka memiliki tubuh yang sehat dan bisa digunakan untuk bekerja(untuk yang sudah termasuk usia kerja). Dan saya lebih kasihan lagi dengan orang tua-orang tua yang tidak bertanggung jawab itu,karena malahan mengajari anaknya untuk mengemis,bukan hal-hal yang lebih mulia. Sebenarnya pangkal persoalan mengapa mereka menjadi orang miskin bukanlah karena mereka tidak punya apa-apa, tapi karena sudah kadung miskin MENTALnya. Mental PEMALAS,itu yang membuat mereka seperti itu dan saterusnya akan seperti itu karena terlalu nyaman dengan keadaan seperti itu. Akan menjadi apa bangsa ini kalau warganya banyak yang seperti itu…ahh..Males dech gue..

  6. Diantara para pengemis itu sebaiknya harus dibedakan mana yg benar2 membutuhkan bantuan and mana yang malas. Jujur saja, saya sering membandingkan mereka dengan orang2 d kampung saya. D kampung, nenek2 berumur +-60 tahun malu meminta kpd anaknya utk kbthn sehari2 meski sang anak ikhlas memberi. Beliau memilih untuk ttp bekerja. D kost-an saya pernah ada lelaki yg umurnya sdkt lbh tua dr saya berbadan kekar tp mengemis. Terang saja tuan rumah ngg ngasih…ia malah mengumpat…..Gmn kenken ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: