mari ngelantur tentang ST (Sekehe Teruna)

Tanpa terasa sudah 12 hari di tahun 2008 dan seperti sabtu-sabtu kemarin hari ini jumpa lagi dengan hari sabtu. Hmm..Pagi ini saya masih molor eh udah kedatangan tamu..duh malunya..hehe.yah begitulah kalo menjadi orang penting (lambe mu cuk.red) huahua. Memang benar..memang benar pagi ini saya kedatangan tamu dan saya masih tidur, itu pun di bangunin ma ibu, saya lupa kalo harus menandatangani dokumen penting..huauhaha..tambah kacau neh tulisan.ok ok.back to keyboard. Bukan dokumen sih,hehe..cuman surat undangan untuk rapat yang harus saya tanda tangani karena besok minggu ada rapat muda-mudi yang minggu kemarin tertunda karena ada hari Raya Ciwalatri.

Saya jadi teringat dengan organisasi kepemudaan di daerah saya (kerobokan,Badung,Bali) dan saya akan bercerita sedikit tentang organisasi kepemudaan disebut dengan Sekehe Teruna atau disingkat ST.Layaknya di lingkungan kampus, di masyarakat pun saya jumpai organisasi seperti yang saya ikuti waktu jaman kuliah dulu. Sejak 2 tahun yang lalu saya aktif di organisasi kemudaan didaerah saya, nama organisasi tersebut Sekehe Teruna Dwi Tunggal. Oh iya mungkin bagi kawan-kawan pembaca yang bukan berasal dari daerah Bali tentunya agak aneh mendengar nama organisasi kepemudaan tersebut. Saya akan coba jelaskan arti kata tersebut, kata Sekehe berati kelompok ataupun kumpulan, sedangkan Teruna artinya Pemuda (sudah termasuk Pemudi di dalam lingkup kata tersebut), dan dua kata terakhir itu adalah nama dari organisasi tersebut. Dua kata yang saya maksud adalah Dwi dan Tunggal, Dwi berati dua dan Tunggal berati satu, tapi bukan bermakna dua satu,namun Dwi Tunggal tersebut bermakna bersatunya pemuda-pemudi dalam satu wadah yang disebut Sekehe Teruna yang sesuai dengan semangat sumpah Pemuda, yang akan menjadi tulang punggung bangsa.

Dan kegiatan-kegiatan dari ST pun disesuaikan dengan kondisi dimana ST tersebut, semisal mengadakan rapat bulanan, acara-acara pernikahan (kalau ada anggota ST yang menikah) yang disebut dengan “ngalih sumping”, kemudian acara Ultah, penggalian dana Bazzar dan sebagainya. Namun ST memiliki perbedaan yang lumayan mecolok dengan organisasi-organisasi yang saya jumpai dikampus. Kalau dikampus dalam saya berorganisasi, saya berani memunculkan karakter pemimpin dalam saya memimpin organisasi tersebut. Dikampus (Himpunan Mahasiswa Kimia) saya bisa tegas setegas tegasnya, bisa disiplin dengan job descript anggota saya, berani untuk berbicara keras (bahkan memaki bila diperlukan.hehe.Red), dan sedikit bersikap arogan, kalau sebagian teman sempat mengatakan saya diktator, namun mereka senang karena sosok pemimpin memang haruslah tegas, tidak hanya di omongan saja tapi mampu menunjukan contoh perilaku juga. Namun yang saya utarakan tadi adalah waktu jaman saya di kampus dulu 2 tahun silam, sedangkan di ST saya cenderung menahan diri untuk bersikap seperti yang pernah saya lakukan. Dalam ST dituntut saya mampu untuk berbicara yang santun karena terkadang dalam rapat ditemani oleh Pengurus Banjar (setingkat RT kalo di Jawa). Santun yang saya maksud adalah mampu untuk berbahasa Bali yang halus. Nah inilah salah sekian kendala saya,hehe.Bahasa Bali halus saya masih tidak terlalu baik, tapi saya cuek aza, jadi bahasa yang saya peke Bahasa Bali plus Indonesia.haha..dalam benak saya “peduli amat, yang penting bisa ngomong dan yang denger ngerti yang saya sampaikan”. Disamping bahasa, karakter orang-orang nya juga beragam, dan cenderung dalam berfikir sedikit koservatif, bukan nya jelek sih, cuman kadang agak susah kalu kita ingin membuka wawasan mereka. Dan diperlukan waktu berfikir extra untuk bisa mengambil hati temen-temen di ST ketimbang temen-temen dikampus (kalo dikampus cukup iming-iming SKP aza.hehe.Red)

Dari segi kegiatan di ST lebih mengutamakan yang namanya Filosofi Suka Duka, yang membawa makna keiklasan dalam mengerjakan sesuatu karena saat suka kita bersama dan saat duka pun kita tetap bersama, dan inilah yang menjadi salah satu budaya Bali yang patut di pertahankan atau di ajegkan, bukan budaya kawin baru nikah.hahaha. Dan dalam pelaksanaan kegiatan ST pun ada aturannya, yang disebut dengan istilah Awig-awig. Dan pelanggaran atas Awig-awig yang telah ditetapkan lumayan keras. Sebagai contoh, ada anggota yang malas dan tidak pernah melaksanakan filosofi Suka Duka, maka kalau yang bersangkutan ada hajatan (nikah,potong gigi dsb) maka anggota yang lain cuek dan tidak mau membantu yang bersangkutan, dan kejadian ini didaerah saya sudah beberapa kali terjadi.

Kalau saya amati keberadaan ST ini di daerah saya khususnya dan di Bali umumnya, akan sangat bermanfaat. Karena merupakan sarana yang sangat baik untuk pembelajaran kita dalam bermasyarakat. Dan dalam ST lah menurut saya kita bisa membagi wawasan,keterbukaan kita terhadap pola berfikir jaman yang modern sehingga dalam bersikap dan menjadi manusia yang berbudaya kita tidak tertutup akan perkembangan jaman yang positif dan tentunya kita lebih awas akan dampak negatif dari perkembangan jaman yang modern.

 

Advertisements

Posted on 12 January 2008, in Budaya, Sosial, Umum. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. sige nulisnya plan2……..tu ampe ada beberapa huruf yang kelupaan loh????

    mw kursus bahasa bali halus????
    pnasaran???…follow me!!!hahaha

  2. haha..ney nulis nya di uber-uber hansip, wah boleh tuh sarannya geq, mau dong kursus..bener yah ! kalo ndak bener tak geplak lagi lho 🙂

  3. waduh……..aneh! hansip kok demennya ma tokek ampe dikejar2 gt….???

    bener ney??mw kursus???kna cas yah!!! huahahaha….tapi kl privat ma geq siap2 aja tak keplak balik……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: