“yen sube beling mare juang” dan Budaya yang dihakimi.

Sesuai judul dari tulisan ini, saya mencoba mengangkat tentang masalah sosial terkait dengan budaya, yang beredar di lingkungan saya daerah Badung Bali. Mungkin anda bingung bila anda bukan orang yang mengerti bahasa Bali, bingung apa arti kutipan tersebut, tapi harap sabar saya akan jelaskan artinya kemudian. Kutipan ini saya dapat pada saat pulang kerja terus mampir ke warung, yang pada saat itu sedang rame-ramenya, teman-teman dan orang-orang tua yang kebetulan lagi ngumpul, kalo istilah di daerah saya di sebut dengan istilah “ngerembug”.

Ok lanjut ke topik di atas, saya sangat tertarik dan selalu tertarik dengan yang namanya perilaku sosial maupun budaya, yang menurut saya menyimpang dan bukan berati yang tidak menyimpang kemudian saya tidak tertarik. Hanya saja bila saya menjumpai sesuatu yang berbeda dengan perspektif saya, sangat menyenangkan memperdebatkannya. Tentunya yang saya ajak untuk berdebat bukan lah orang lain, melainkan diri saya sendiri yang memiliki alasan untuk membenarkan ataupun menyalahkan opini yang saya buat. Ini menjadi sangat legal sekali, toh yang saya ajak debat diri saya sendiri.hehe.menarik bukan?

Kita kembali ke topik, bila dalam bahasa indonesia arti petikan judul topik saya adalah “kalau sudah hamil,baru diminta/dinikahi”. Ini lah guyonan menggelitik yang terkadang membuat saya tersenyum walaupun disadari dengan tidak, saya sebagai kaum pria sudah merendahkan kaum wanita walau hanya dengan tersenyum saja. Bila hanya sebagai bahan guyon kemudian dibarengin sela tawa kemudian menghilang, tentunya bukanlah suatu masalah besar, hingga saya sampai menulis ini di halaman blog saya. Nah yang bikin celaka nya adalah guyonan-guyonan semacam itu di jadikan nyata, alias benar-benar dilakukan oleh kebanyakan kaum muda-mudi di daerah saya. Tentu saja ini mengundang keprihatinan saya, bagaimana mungkin kaum muda dengan intelektual dan melek pendidikan begitu menjadi bodoh, dengan menerapkan guyonan ini untuk memulai kehidupan berumah tangganya.

Saya menyadari perkembangan jaman yang teramat cepat di semua sektor kehidupan masyarakat, termasuk juga perkembangan sektor sosial, yang buntut-buntutnya budaya lah yang menjadi sasaran tembak terakhir, dan tentunya ini bukan lah suatu perkembangan yang baik menurut saya, karena hanya perilaku sekelompok orang kemudian membuat opini publik untuk melakukan penghakiman-penghakiman sosial seenak perutnya dan pada akhirnya budayalah yang menjadi objek pesakitan.

Bila kita mau jujur, disadari atau tidak, peranan keluarga dalam menyingkapi opini yang kemudian merembet menjadi suatu permasalahan, memiliki andil yang sangat besar. Mengapa demikian? suatu pertanyaan yang bagus. Keluarga sebagai sistem sosial terkecil dimasyarakat adalah sebuah filter yang efektif untuk menyaring hal-hal sosial yang bersifat menyimpang dari kewajaranannya. Apa yang dijadikan nilai ukur kewajaran itu? Tentunya yang menjadi nilai ukur adalah nilai-nilai kemanusian dan nilai-nilai keagamaan (nilai budaya saat tulisan ini di buat duduk sebagai objek pesakitan). Perilaku-perilaku seperti kutipan judul saya itu sudah menjadi suatu yang lumrah di kampung yang saya tinggali. Bila dicari mengapa ini bisa terjadi, tentunya akan banyak sekali celah-celah yang mengakibatkan terjadinya kutipan topik diatas. Secara umum dari kaca mata saya, kaum muda-mudi yang sebagian besar sudah pernah melihat,mendengar bahkan mempraktekan hal-hal yang diluar yang semestinya, semisal saat berpacaran yang begitu intimnya hingga batas-batas sudah tidak diperhatikan lagi.

Nah bila itu sudah terjadi, hal yang paling mungkin terjadi selanjutnya adalah mencari pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Nah saya rasa ini lah inti dan pokok pemasalah sosial yang saya kutip di topik saya. Mencari pembenaran-pembenaran untuk sesuatu yang bisa dibilang salah, termasuk menggunakan guyonan-guyonan yang biasa di lontarkan orang-orang dewasa di warung, untuk di jadikan salah satu pembenaran perbuatan yang mereka lakukan.

Entah ini suatu wabah atau suatu penyakit keturunan, seakan-akan tidak bisa hilang perilaku ini di daerah saya. Hingga pada suatu saat ada teman (berasal dari luar daerah) yang berani bertanya kepada saya, “apakah hamil sebelum nikah adalah budaya di daerah kamu?” Plak.sebuah tamparan keras mendarat di pipi saya.Apakah jawaban yang harus saya bilang? saya tidak akan mengutarakannya disini. Nah kembali lagi ke topik, kejadian-kejadian seperti inilah yang sekarang sedang mewabah di daerah saya. Kompleksnya penyebab dari suatu permasalahan sosial kemudian pencarian pembenaran-pembenaran akan hal-hal sosial yang menyimpang di sekelompok masyarakat, kemudian masalah sosial ini mewabah kemana-mana dan buntutnya budaya lah yang dipertanyakan. Sangat disayangkan memang, akhir kata mari selamatkan Budaya kita dari penghakiman-penghakiman sosial.

Sekian dan Terima kasih.

Advertisements

Posted on 29 November 2007, in Budaya, Sosial. Bookmark the permalink. 13 Comments.

  1. Tulisan yang bagus sekali.
    Cuma mungkin seandainya bila bisa diberi alinea per beberapa baris mungkin bacanya bisa lebih santai.

    Yang sekarang butuh konsentrasi lebih, kadang suka lepas sudah sampe bacanya.. ๐Ÿ˜‰

    Salam

  2. @Wibisono Sastrodiwiryo
    terima kasih komentar nya mas, yah saking asiknya menulis jadi lupa melihat estetika nya ๐Ÿ˜‰

  3. sebenernya g disemua kampung hal ky bginian terjadi,,,,tp salut sama sige!!setidaknya ada orang yang mw mengakui kl perbuatan ky gt adalah suatu kesalahan besar,bahkan menyadari banyak orang yanag malah mencari pembenaran atas perbuatan itu……..!!!tapi???sige g ikut mencari pembenaran2 kaya gt kan???hehehe

    TOP BGT!!!

  4. @ geq pra
    iya benar tidak semua, namun sige ga menutup mata dan telinga kalo saja itu memang terjadi disekitar kita. Yah semoga aza tulisan ini menjadi cambuk buat kita untuk lebih berhati-hati dalam berbuat. Ya tidak lah geq, agama selalu mengingatkan kita mengenai adanya karma phala.

  5. Setuju, Bli. Jika kita benar2 tulus mencintai seorang wanita, tentu kita tak akan merusaknya dengan mebuatnya “layu satonden makembang” bukan?Wakaka……

  6. Wakaka…., yahh memang yang namanya budaya berasal dari adat, adat berasal dari kebiasaan yang turun-temurun, kebiasaan berasal dari ketidak-biasaan yang terbiasa dimaklumkan

    jadi semua budaya adalah permakluman?

    Sige said
    Budaya tidak hanya berasal dari adat, adat hanya sebagaian kecil saja komponen penyusunnya. Untuk urusan adat, saya rasa tidak semua kebiasaan pribadi menjadi adat, karena sebelum disetujui oleh krama menjadi suatu adat, kalo di tempat kita di Bali selalu didahului oleh paruman.

    Terkait dengan kebiasaan, sangat mungkin untuk sekarang ini kebiasaan yang tidak biasa menjadi biasa namun tidak serta merta menjadi adat, karena untuk menjadi suatu adat harus melalui paruman dan adat itu selalu di jaga oleh awig-awig. Satu hal lagi, tidak semua hal yang tidak biasa di adat bisa dimaklumi, karena bila melanggar maka akan dikenakan sangsi awig. Saya rasa cukup jelas, budaya bukan lah permakluman.

  7. “Yen suba beling maro juang” bukan adat Bali (Kerobokan City khususnya :-)) karena saya masih ingat waktu saya kecil (1980an) pemuda dikampung saya menikahnya normal2 saja, artinya dimulai dengan pacaran (ngapel / nganggurnya pun jaman dulu sangatlah sopan, bertamu dan bercengkrama diteras rumah, yg nganggurin si wanita pun bisa beberapa pria tapi tidak ada gesekan), setelah beberapa waktu pacaran barulah menikah itu pun tanpa bonus (hamil)… ๐Ÿ˜€

    Kalau saat ini baru tamat SMU pun sudah tanjap gas nikah, tapi kebanyakan karena hamil duluan. Menurut saya penyebabnya adalah Pergaulan Bebas… Saat ini mencari pacar gampang, gonta-ganti pacar mah biasa, dari rumahpun kita bisa dapat pacar (Hp, chatting), sarana pendukung ada spt motor, mobil (apa lagi habis dapat duit jual tanah / ngontrakin ruko, hehehe…). Yg miris cewek bali itu ada untuk digoda (TIDAK SEMUA), kalau mau coba silahkan deh dijalan buanya cewek sexy naik motor yg cari perhatian, tinggal dipepet ajakin kenalan trus minta no hpnya, kalu sudah dapat no hpnya selanjutnya terserah anda (pengalaman pribadi serta kawan2 – NOT RECOMENDATION).
    Teknologi juga berperan, seperti TV dengan sinetronnya yg tdk mendidik yg ditiru (gaya berbusana urakan, dugem, sex, selingkuh, glamor), Hp yg mendukung pemutaran Video yg disalah gunakan. Orang tua bahkan DPR yg semestinya jadi panutan juga bobrok dg selingkuh dan skandalnya, Dan masih banyak lagi deh faktor lain…

    Sige said
    Saya tidak mau berdebat masalah perilaku, dan menghakimi suatu daerah. Akan tetapi saya berbicara fakta, berdasarkan apa yang saya lihat,dengar dan rasakan. Btw, kerobakan our place Bali are infected by free sex.

    Saya sependapat bawasannya sangat banyak faktor, yang menyebabkan kasus seperti yang saya tulis.

  8. Nur tahu adat Med-medan di daerah sesetan itu? dimana cowok & cewek pada hari tertentu klo ga salah abis nyepi ato sebelum nyepi yah? Itu ada event budaya/adat dimana cowo & cewe di tempat itu bisa cium2an sampe dower (lo ga percaya?) di depan umum dan dilakukan secara masal (gileee, bsk klo ada lagi perlu ikut nih kayaknya)

    Naa, itu turun-temurun loh, dan yang di”parum”kan itu kayaknya awig-awig deh, contoh adat yg sederhana kayak banten di gianyar dengan denpasar aja uda beda, dan seingat saya belum ada deh paruman tentang masalah perbedaan banten di seluruh Bali hehehe (bayangkan berapa banyak tukan banten yang ikut?)

    Tapi kayaknya budaya yang Nur postkan disini sudah ada dari jaman jajan dodol dan jaman jaje uli. Kan banyak yang mungkin sampe sekarang ada ninik2 yang dulunya disabot jadi istri dan tidak memiliki akta perkawinan wakakaka….

    Coba tanya ninikmya Nur punya akta perkawinan ga? hehehe

    Sige said
    Med-medan itu setelah nyepi Bli. Wah saya gag akan mau (tapi boong)..Nah ini saya rasa cuma adat aza bli, kan gag semua di Bali mengadakan tradisi ini. Sehingga tradisi ini tidak bisa kita langsung kita adopsi sebagai budaya, med-medan ini tradisi dan hanya berlaku di lingkup desa sesetan saja. Sedangkan kalo kita tanya paman google tentang apa definisi budaya yang berasal dari bahasa sansekerta sudah sangat jelas apa itu budaya, dan seandainya adat yang berlaku di sesetan sono tradisi cium-ciuman di katakan sebagai budaya Bali, saya kurang sependapat.

    Kalo mengenai banten, saya pun sependapat bawasannya ada variasi dalam pengerjaannya, namun tentulah ada pakem nya, pakem yang saya maksudkan disini bahwa ada unsur-unsur dari banten tersebut yang selalu sama untuk setiap tempat di Bali. Oh mungkin kita belum mendengar aja bli mengenai paruman tukang banten, kalo peruman para sulinggih pernah saya denger.

    Benar bli mungkin nenek saya tidak mempunyai akte pernikaha atau licensi bersenggama, tapi saya tidak pernah mau tanah kelahiran saya memiliki budaya “yen sube beling mere juang” kalo ndak beling?? misalnya mandul?? gag bakal di juang? no way!!

    Suksma.

  9. hal itu benar dan udah marak terjadi dmn2 didaerah Bali….itu adlh satu tanda hal tidak menghormati wanita sama sekali…. saya jg dulu sempat berpikir seperti itu saat pertama kali pacaran dengan org Bali…tetapi sekarang saya baru tahu itu bukanlah tradisi,,hanya sebuah kerusakan budaya….namun juga tidak semua org Bali seperti itu….Saya normal2 saja menikah dengan org Bali….
    btw balik lagi ke topik….sebenernya yg paling dirugikan adlh kaum perempuan…klo nggak hamil nggak diambil / dinikahi???itu jelas sangat tidak adil….kalau wanita itu tidak bisa memberikan keturunan bagaimana???nggak berhak menikah???klo itu terjadi dengan pihak laki2nya gmn???pa jg harus ditinggalkan???jelas ada pihak yg sangat sakit hati…sangat jelas sekali org2 seperti itu berpikiran picik….perasaan agama tidak mengnjurkan seperti itu….klo emang nggak punya anak kandung kan bisa kita mengangkat anak…Tuhan itu Maha Adil kan???kalau hanya sekedar seks diluar nikah saya rasa saya maklum adanya….itu bukan hal yg tabu saat ini..saya jg melakukannya saat saya sdh dminta oleh keluarga suami saya….

    Sige said
    Trima kasih kunjungannya Mbak Nia, postingan lama masih juga asik buat dikomentari.
    Suatu degradasi moral telah terjadi Mbak, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya namun masih banyak peluang untuk mencegah degradasi ini semakin parah.

    Seperti yang sempat saya siinggung seblumnya keluarga adalah obatnya.

    Mengenai komentar Mbak tentang yang dirugikan adalah kaum perempuan, saya sangat sependat banget. Apalagi fenomena ini sebenarnya bukan kerusakan pada Budaya saya pun sangat sehati, melainkan ini hanya perilaku abnormal segelintir orang Bali.

    Trima kasih atas komentarnya

  10. Oom swastiastu …
    Thanks for the topic that we think it’s part from Balinese culture. And now we know it’s just about the people not about the culture. I’m graduated from a university at Nusa Dua – Bali, and almost all of my friend at there doing free sex in their life. So, thanks for the topic. I’ll share in my fb profile.
    Matur suksma … ^_^

    Sige said
    Hello Anisa, thanks for your visiting and comment.

    It’ll be a lot argue for who has decided to take the risk with their choice (doing free sex)…but I just want to say that not all Balinese are agree with that “activities”. And thank you for share it into your FB.
    Suksma mewali Anisa.

  11. thanks God that i find this article. Bener2 sesuai keyakinan saya. Saya dari Jakarta yang baru saja liburan ke bali di bulan Juni 2013 kemarin. Waktu saya ke pura tirta empul, seorang fotografer yang merangkap sekuriti di sana kebetulan tertarik untuk berpacaran dan serius ingin menikah dengan saya, sayangnya hubungan kami harus berakhir karena perbedaan agama (saya muslim dan dia hindu) dan dia anak tunggal yang tidak bisa meninggalkan orang tua maupun daerahnya (bali). Saya tidak melihat latar belakang pekerjaannya ataupun agamanya, justru tertarik dengan kepolosan budi pekertinya, tapi sempat shock karena dia mengajak saya untuk ML sebelum nikah. Saya tidak bisa cross cek ke banyak orang di Bali mengenai lumrah tidaknya ML sebelum nikah seperti yang dia katakan, tapi saya punya keyakinan bahwa dalam ajaran hindu pun hal itu pasti di larang dan ada hukuman yang mengganjar perbuatan itu. Kalaupun perbuatan itu kemudian menjadi budaya yang di amin-kan di sana saat ini, saya yakin itu bukan karena budaya Bali ataupun ajaran agama, tapi karena perilaku orang-orang yang bersangkutan yang mengatasnamakan budaya bali. Anyway, saya lebih suka Bali yang dulu (sekitar tahun 2000 an) dimana pagi hari buta masih bisa menyaksikan anak2 sekolah perempuan berambut panjang menaiki sepeda jengki beroda besar di sekitar jalan aspal di kuta dan bukan melihat beachwalk ataupun pantai kuta yang di pagari maupun bandara yang di pugar menjadi lebih besar tapi setidak senatural Bali yang dulu….Thus, I still love and proud of Bali. Cheers….

    • Hi Mbk Zahwa, terima kasih sudah mampir ke Blog sya.

      Demikianlah yang terjadi, bila saja pacar mbk tsb mengindahkan aturan2 yg ada di ajaran Hindu demikian juga aturan2 umum dimasyarakat, mustinya ajakan untuk ML sblm menikah tidk akan dilakukn. Semua itu terjadi lbh kepada naluriahnya saja.

      Terima kasih

  1. Pingback: โ€œyen sube beling mare juangโ€ dan Budaya yang dihakimi - Selamat datang di Balidari.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: