“Laku” penyejuk jiwa

Mohon maaf bila sekiranya yang saya lakukan menyimpang
dari yang seharusnya, saya hendak meneruskan postingan
seorang teman yang saya jumpai di suatu forum.
Tulisan ini saya rasa sangat baik sekali karena sarad
makna didalamnya dan memiliki nilai budaya yang sangat kental, serta bisa menjadi suatu penyejuk jiwa bagi
yang mengerti. Postingannya seperti di bawah :

Rahayu,
Pengertian “laku” secara umum adalah: tindakan,
perbuatan, atau aksi. Kata laku merupakan kata yang
sering digunakan sehari-hari. Contoh penggunaan kata
“laku” sebagai kata dasar:
– lakon = peran
– ngakoni = melakukan, menjalankan, melaksanakan
– mlaku = berjalan
Laku dalam kehidupan sehari-hari orang Kejawen dapat
diterjemahkan sebagai suatu aksi yang dipilih sebagai
jalan dalam menempuh kehidupan di dunia. Tujuan laku
adalah mencapai kesempurnaan hidup.
Jika kesempurnaan hidup sudah dicapai, maka akan tercapai
pula lah keharmonisan dalam tiga arah:
– arah ke dalam, kepada si pelaku : Sejatine Urip, atau
Urip Sejati
– arah horisontal, kepada lingkungan dan dunia : Memayu
Hayuning Buwana
– arah vertikal, kepada Tuhan YME : Manunggaling Kawula
Gusti

Disini saya akan mencoba membagi bahasan laku menjadi 2
bagian:
01. Laku sebagai suatu kebiasaan
02. Laku sebagai suatu aksi khusus

LAKU YANG MENJADI KEBIASAAN
Laku ini dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari kaum
Kejawen, diajarkan secara turun temurun dalam budi
pekerti, sehingga sangat lekat dan membentuk karakter
kaum Kejawen. Dapat saya sebutkan beberapa diantaranya:
– Eling
Eling (ingat), yaitu selalu ingat kepada Sang Pencipta.
Bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Baik, maka
harus berlaku baik. Ingat kepada Tuhan maka harus selalu
mendekatkan diri kepadaNya. Orang Kejawen biasanya berdoa
disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilakukan, misalnya
ketika akan berpergian, ketika hendak makan/minum, malam
hari menjelang tidur, dan ketika bangun pagi.
– Sabar
Tidak lekas marah, tidak membalas perbuatan jahat, tabah
dalam menghadapi cobaan-cobaan dalam hidup.
– Nrima
Nrima, yaitu menerima apa adanya. Dalam kondisi apa pun
kita adanya, harus diterima dengan baik dan tetap
menjalankan hidup dengan baik. Kondisi apa pun kita,
bagus atau jelek, kaya atau miskin, kuat atau lemah, kita
tidak boleh mengeluh dan menyalahkan kondisi tersebut.
– Temen
Temen, dapat diartikan bersungguh-sungguh, loyal, dan
jujur.
– Prihatin
Laku prihatin ini biasa dilakukan orang Kejawen ketika
menghadapi cobaan dalam hidupnya. Misalnya, ketika orang
yang dikasihinya sakit, ‘otomatis’ orang yang
bersangkutan akan mengurangi makan, berhenti bersenang-
senang, dan memperbanyak doa. Dalam laku prihatin
biasanya orang juga bertirakat.
-Rila
Rela mengorbankan sesuatu yang berharga demi kepentingan
yang lebih mulia
– Prasaja
Laku sederhana dan rendah hati
– Tepa Slira
Pengertian, memahami orang lain dengan mengukur diri
sendiri. Misalnya, jangan menyetel radio dengan suara
amat keras karena dapat mengganggu tetangga, sebab kita
sendiri pun akan terganggu jika ada tetangga yang berbuat
demikian.
– Rame ing gawe, sepi ing pamrih
Bekerja sebaik-baiknya (rame ing gawe). Dalam bekerja
lebih mengutamakan apa yang dihasilkan ketimbang apa yang
akan diperoleh (sepi ing pamrih).
– Gotong royong
Bekerja bersama-sama secara sukarela. Merupakan salah
satu bentuk penerapan laku rame ing gawe, sepi ing pamrih
– Mulang
Mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Misalnya, orang
tua mengajarkan budi pekerti kepada anaknya, guru
memberikan pengajaran yang baik kepada para murid, dsb.
Dalam menyampaikan piwulang (ajaran) sering kali
diselipkan nasehat-nasehat, kata-kata mutiara/ petuah,
larangan larangan, peribahasa/pepatah, dll yang dikenal
secara umum oleh orang-orang berbahasa Jawa.
Contoh
>Larangan (wewaler): Aja Dumeh = jangan mentang-mentang
(jangan sombong, mentang-mentang …)
>Nasehat (pitutur): Mendem jero mikul dhuwur = mengubur
dalam, menjunjung tinggi ==> meredam hal-hal yang tidak
perlu diungkap, tetap berbuat baik (meredam marah,
memaafkan/mengampuni kesalahan orang lain dalam hati,
tidak usah menceritakan pengalaman buruk yang tidak perlu
di ceritakan, menjaga rahasia => mendem jero. Tetap
berbuat baik => mikul dhuwur)
>Peribahasa (paribasan): Kacang masa ninggalake lanjarane
= kacang tidak mungkin meninggalkan jalur (watak dan
tingkah laku anak biasanya mirip dengan tingkah laku
orang tua ==> anak harus menjaga nama baik ortu dengan
perilaku yg baik, begitu pun ortu hrs memberikan
pengajaran/didikan yang baik kpd sang anak)
>Pepatah (unen-unen): wong tuwa ala-ala malati = ortu
walau bagaimanan pun bertuah (omongan/nasehat ortu kudu
didengar)
– dll
– LAKU SEBAGAI SUATU AKSI KHUSUS
Laku ini juga dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari
kaum Kejawen, hanya saja mempunyai tujuan khusus,
membutuhkan waktu khusus, meniatkan hati dengan sungguh-
sungguh, dsb.
– Panembah
Merupakan ujud eling dan hormat kepada Tuhan YME, ujud
cinta dan hormat kepada leluhur. Biasanya berdoa dengan
menggunakan dupa.
– Meditasi /semedi
Meditasi udah pernah disinggung di postingan yang lalu.
– Pasa
Puasa, yaitu mengurangi makan (dan tidur), minum hanya
air putih secukupnya. Puasa Kejawen berlaku 24 jam
sehari. Macamnya banyak, antara lain:
Mutih, hanya makan nasi selama 7 hari berturut-turut
(hari pertama 7 kepal/sendok, hari ke dua 6 sendok, dst,
sampai hari ke tujuh 1 sendok)
Ngrawat, hanya makan sayur dan buah tanpa nasi selama 40 hari
Ngebleng, tidak makan sama sekali selama 3 sampai 40
hari. Puasa ini dilakoni Yesus selama 40 hari (Yesus
orang Kejawen juga, kali… hehe )
– Tapa
Pati Geni, puasa penuh tanpa makan, minum, dan tidur
selama sehari-semalam, dan pada malam hari (pada waktu
mulai gelap) harus keluar rumah untuk bermeditasi tanpa penerangan.
Tapa Ngrame –> favoritnya swatantre
Tapa Ngeli, menghanyutkan diri di sungai
Tapa Kungkum, tapa dengan berendam di air
dsb
– Ritual upacara
berdasarkan maksud:
1. Upacara untuk berterimakasih kepada Tuhan, disebut
sukuran
2. Upacara untuk mendoakan keselamatan seseorang:
selamatan
3. Upacara untuk mensucikan/membersihkan: ruwatan
Klo berdasarkan yang diupacarai:
1. Orang, diupacarai sepanjang daur hidupnya: dimulai
ketika masih dalam kandungan, ketika lahir, ketika bayi,
kanak-kanak, dewasa, meninggal, setelah meninggal (1000
hari)
2. Barang, misalnya benda pusaka, tempat tinggal/rumah,
dsb.
3. Alam dan lingkungan, misalnya: ruwat desa.

Demikianlah postingan yang saya kopi dari suatu forum,
saya lupa dimana saya copy, namun saya sangat berterima kasih
kepada yang menulis, karena tulisan ini benar-benar
menyejukkan jiwa.

sekian terima kasih.

Advertisements

Posted on 26 November 2007, in Budaya. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Mmm… postingan yang asik bro, paling ngga setelah membaca ternyata menjadi wong TT itu tanpa sadar kedua laku (khusus & kebiasan) tersebut lah yang coba kita jalani sembari mencari klo orang Hindu menyebutnya Tri Hita Karana (Memayu Hayuning Bhuwana) dan Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma (Manunggaling Kawula Gusti)

    Sige said
    Membaca dan mengingat apa yang sudah kita dapatkan dan lakukan sebagai wong laku TT, sungguh menyejukan. Tapi saya pribadi jujur saja masih kembang kempis dalam menjalankan apa yang seharusnya saya lakukan..Saya ingat motto sewaktu ospek dulu, ‘berusaha dan berdoa jalan menuju sukses”, sekarang timbul pertanyaan lagi, Berusaha dengan cara apa? Berdoa dengan cara bagaimana? dan Sukses nya seperti apa? hmmm..rahayu, rahayu, rahayu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: