Etika Merokok bag.1

Melihat judul dalam tulisan ini tentunya membuat tersenyum dan dalam hati mengatakan “duh segitunya, ngerokok kok ada etikanya” kemudian di timpali lagi “ada-ada saja ney orang”. Yah kemungkinan seperti itu komentar anda, bagaimana saya bisa tahu dan sampai berani menuliskannya, itu karena saya pun kalau melihat tulisan teman dan tidak pernah saya lihat sebelumnya dan menurut saya itu sedikit aneh, komentar seperti di atas lah yang sering muncl di benak saya. Baiklah kembali ke topik, pengalaman ini saya alami beberapa hari yang lalu ketika saya dan kawan-kawan semasa jaman kuliah dulu berkumpul di salah satu rumah kawan tersebut. Semacam acara reunian, ngobrol ngalur ngidul tidak karuan, tapi begitulah saking jarang nya kita bisa ngumpul seperti itu. Nah kebetulan sekali kawan-kawan saya ini perokok berat semua, kalo di istilah jawakan seperti “spur”, maksudnya seperti asap kereta api yang selalu ngepul. Dari obrolan itulah kemudian muncul ide tulisan yang saya buat (saya harap tidak ada royalti yang haraus saya bayarkan dalam memuat tulisan ini. Hehe. Red)
Pembicaraan itu di mulai ketika semua rokok sudah keluar kantong masing-masing, dan entah apakah ini yang disebut kebiasaan atau etika seperti judul tulisan ini. Tapi seperti itulah,semua merk rokok dan korek yang yang bervariasi di letakkan di hadapan masing-masing. Dari obrolan yang ngalur ngidul tersebut tidak semua yang saya tulis, hanya beberapa saja yang saya inget. Beberapa diantaranya yang saya sebut sebagai etika dalam merokok;

Hargai perbedaan
Bukannya saya mau sok-sok menjadi narasumber dan kemudian menasehati anda, namun ketika dalam suatu acara tertentu dan ada suatu kebiasaan yang sama dimiliki oleh orang-orang tersebut yaitu “merokok”. Namun terkadang masalah selera bisa membuat perbedaan itu muncul, apalagi orang tersebut sedikit fanatik terhadap rokok yang dia suka. Nah di perlukan kedewasaan dalam berfikir dan menerima suatu perbedaan tersebut, karena sesungguhnya lebih banyak perbedaan dalam selera tentunya kesempatan mencicipi rokok-rokok dengan merk yang berbeda (ini kesempatan bagi anda yang sedang tidak membawa periapan rokok. Red) dan saya ucapkan selamat menikmati rokok teman anda (haha. Red), ini adalah etika merokok yang pertama.

Belajar Iklas dan Menerima
Tulisan yang dicetak miring dan ditebalkan di atas bukanlah kutipan dari buku pelajaran agama atau pendidikan moral pancasila, akan tetapi sebuah kenyataan bila di dalam suatu acara-acara tertentu kita harus dihadapkan kepada situasi maupun kondisi seseorang, yang mungkin saat itu sedang tidak ada uang untuk membeli rokok atau lupa membawa (biasa nya sih jarang yang kelupaan ma yang satu ini. Red). Dalam kondisi keprihatinan itu lah nilai-nilai kemanusiaan akan muncul. Bila diamati dengan seksama, perilaku meminta kemudian memberi yang dilakukan oleh perokok pada umumnya adalah sesuatu yang bernilai filosofi teramat dalam. Pernahkan anda melihat bila dalam suatu keadaan ada proses tersebut dan di barengi saling memberi uang? Tentunya selama pengamatan saya tidak pernah dilakukan. Dikarenakan keiklasan saat memberi dan keiklasan saat menerima, namun sangat di garis bawahi semua ada batas nya, memberi ada batasnya dan menerima pun ada batasnya. Jangan sampai anda menjadi donatur (terkecuali anda menghendaki demikian ) ataupun parasit rokok bagi temen anda. Nah itu adalah etika merokok yang kedua.

Selanjutnya bersambung…

Advertisements

Posted on 23 November 2007, in Umum. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. di tunggu klanjutannya…

    Sige said
    Alo iKy, ditunggu yah bro, saya merokok dulu…

    Trims kunjungannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: