Inilah mungkin akhir karir dari salah satu politikus dari Partai Keadilan Sejahtera, yang karena perbuatannya telah mencoreng institusi yang konon merupakan representasi dari suara rakyat Indonesia yakni DPR RI yang terhormat. Saya sebenarnya tidak percaya ketika pertama kali mendengar pemberitaan tentang adanya anggota Dewan yang menonton film porno pada saat sidang Paripurna. Hal itu rasanya sangat jauh dari logika dan akal yang kebetulan sehat pada saat ini. Karena apapun alasannya tidaklah mungkin seorang sosok wakil rakyat yang mengembang tanggung jawab yang tidak ringan dari Rakyat Indonesia, melakukan hal yang benar-benar tidak terpuji bahkan tidak bermoral di mata umum. Walaupun bila dilihat dari sisi kemanusiaan masih bisa diterima, setidaknya untuk beberapa kalangan yang gemar mengkoleksi maupun mengkonsumsi adegan-adegan syur film biru.

Sungguh sangat disayangkan kelakuan dari saudara Arifinto yang notabene merupakan perpanjangan suara rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera. Bagaimana tidak, seakan menjadi kontradiktif dengan platform Partainya. Partai yang senantiasa berujar tentang, semangat pembaharuan dan senantiasa mengusung asa-asas keadilan serta bersih dalam bersikap. Akan tetapi semua itu tidaklah lebih dari omong kosong dengan index prestasi nol besar.
Saya rasa perbuatan yang dilakukan oleh salah satu anggota dewan perwakilan yang terhormat sudah cukup untuk menjadi alasan statement saya di atas. Memang tidaklah bijak bila saya kemudian mengeneralisir bahwa semua anggota dewan bermoral bejat dan kurang ajar. Namun adakah perialaku anggota dewan yang nyaman di mata anda?? Silahkan anda yang menilai.
Walaupun saya tidak terlalu melek dengan prihal politik di negeri ini, namun bila kita bercermin terhadap reaksi masyarakat terhadap setiap tidak-tanduk anggota Dewan, tidak saja di pusat maupun daerah, sepertinya mereka semua sama saja.
Belum selesai dengan kisruh mengenai pembangunan gadung DPR RI, muncul lagi masalah yang sungguh mencoreng harkat dan martabat rakyat. Loh kenapa rakyat?? Karena tidak ada satupun anggota DPR yang tidak mengatasnamakan rakyat terhadap apa yang mereka lakukan. Coba anda perhatikan setiap ending dari pernyataan anggota DPR, selalu atas nama Rakyat.
Ada yang meggelitik sedikit di benak saya, ketika saya mengingat saudara Tifatul yang seakan-akan menjadi ikon dalam memerangi Pornografi, eh di lain sisi dari kapal yang sama (PKS) saudara Arifinto sepertinya juga mencoba peruntungan dalam hal pornografi, dengan menonjok sejawatnya Tifatul. Bagaimana mungkin?? Ya mungkinlah, satu sisi anti Porno sedangkan sisi yang lain Porno lover.
Haha, ini seperti sandiwara yang berkisah tentang kemunafikan.
Tak ada lagi makian yang labih halus yang bisa saya utarakan dalam tulisan ini, hanya kata Munafik yang tersirat ketika mendengar, melihat anggota Dewan yang terhormat berkiprah di istananya yang konon akan di megahkan lagi dengan keringat alias duit Rakyat.
Terbongkar lagi satu cabang ilmu atau Ajian yang di miliki oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, ilmu tersebut adalah Munafikologi.
Salam hangat,









